Showing posts with label ndakik-ndakik. Show all posts
Showing posts with label ndakik-ndakik. Show all posts

Sep 27, 2025

Ketahuilah, Dirimu Juga Berharga

Hai, bagaimana kabarnya?
Semoga kamu masih menyisakan ruang untuk bernafas di tengah sibuknya hari-hari belakangan ini.

Kabarnya akhir-akhir ini kerjaan lagi hectic sekali, ya?
Terlebih lagi sudah berada di penghujung bulan, ketika tenggat waktu kerjaan mesti dituntaskan sebelum kalender berganti. Bahkan akhir pekan pun masih harus terseret lembur di kantor, sampai-sampai langkah pulang selalu tertunda hingga larut malam.

Belum lagi hal-hal menjengkelkan lainnya, seperti, kerja kerasmu yang sering kali tidak sepenuhnya mendapat apresiasi. Tapi ya mau bagaimana lagi, memang itu sudah bagian dari tanggung jawab pekerjaan, iya nggak? 

Saya cuma ingin mengingatkan: dalam kesibukan yang seperti apa pun, jangan lupa untuk tetap menjaga kondisi tubuh. Biarkan waktu istirahat tetap menjadi milikmu, jangan sampai terganggu akibat stres pekerjaan yang menumpuk. Berbiasalah, sebab keribetan di usia-usia seperti saat ini memang bagian dari perjalanan hidup yang mau tidak mau harus dijalani. 

Kalau memang sedang lelah, biarkan tubuhmu rebah seharian, bisa juga dibarengi dengan nonton drama Korea, film atau series di platform penyedia layanan streaming favoritmu. Andai kata hari itu lagi jenuh, dan ingin mencari suasana baru, barangkali dengan pergi ke tempat yang menyajikan pemandangan alam bisa mengusir kebosanan. Atau andaikan sedang sedih, menangis saja, tak apa, itu manusiawi kok. Kamu tidak harus selalu tampil kuat setiap saat. Bilamana suasana hati lagi kesal, mungkin bisa terobati dengan beli jajanan-jajanan pedas dan segelas es kopi gula aren atau bisa juga jalan bersama teman-teman untuk berburu tempat ramen yang enak, itu pun termasuk opsi pilihan yang bagus. Pun jika ingin sesegera mungkin meningkatkan kadar dopamin dan serotonin untuk meredam kortisol yang meninggi akibat burnout usai seharian bekerja, salah satu cara sederhana yang bisa ditempuh adalah dengan workout, lari misalnya. Semampunya saja, sesuai dengan kapasitas fisik. Dan sebenarnya masih terlalu banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengusir penat selepas bergulat dengan tumpukan dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerja.

Bila memang sedang merasa kesepian dan butuh teman untuk mengobrol, atau sekadar ingin sambat masalah kehidupan. Jangan ragu menghubungiku, 24/7 siap untuk menerima segala jenis aduan. Saya memang tidak bisa menjanjikan semua masalah akan terpecahkan, tapi saya bisa mendengar, bisa berbagi resah, supaya kamu tidak merasa harus memanggul semuanya sendirian. Jangan pernah khawatir bahwa tidak ada yang memedulikanmu. Kadang yang diperlukan hanya sedikit peka terhadap sekitar. Disitu kamu akan menyadari betapa banyaknya orang yang peduli, tidak hanya pada kesuksesanmu, tetapi juga pada rapuh dan jatuhmu.

Penting untuk diingat, bahwa setiap orang punya batas dan cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Tidak ada gunanya membandingkan kemampuan diri dengan orang lain, karena tiap-tiap manusia pasti akan menemui titik runtuhnya masing-masing, percayalah. Maka dari itu, jangan biarkan ketakutan-ketakutan tentang masa depan yang tidak pasti mengontrol penuh wilayah pikiran, sebab masih banyak hal menyenangkan yang menantimu di tikungan berikutnya. Ketahuilah, beraneka ragam kebahagiaan telah bertebaran di muka bumi ini, kamu hanya perlu memetiknya satu per satu.

Terakhir yang harus disadari, apabila beban masalah yang sedang dihadapi terasa begitu berat, kamu tidak dituntut untuk menemukan penyelesaian atau mencari jalan keluarnya. Terkadang, tugasmu hanyalah bertahan selama mungkin. Bertahan saja, demi mereka yang senantiasa menunggu tawamu di rumah.

Aug 3, 2025

Segelas Sidikalang, Selepas Terbuang

    

this image was created using ChatGPT
Sido sayang aku po ora? Nek hooh tak omong ibuk.

    Mendewasa, menurutku adalah fase di mana kita sudah tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk keramaian. Kita akan lebih condong mencari tempat yang cenderung lengang apabila ingin menikmati ketenangan atau sekadar mencari ruang nyaman tanpa terganggu dengan derap kencang suara musik. Aku juga tidak terlalu paham apakah itu memang sifat yang lumrah dimiliki setiap orang yang sudah menginjak usia lebih dari seperempat abad, atau hanya bentuk ejawantah dari karakterku sendiri yang sejak awal memang tidak terlalu suka berada di tengah keriuhan.

  Aku lebih tertarik mengeksplorasi tempat berdasarkan apa yang ditawarkannya, tidak sekadar ikut dalam kebiasaan arus utama yang kadang hanya mengikuti trend semata. Terlebih lagi jika tempat-tempat itu kebetulan menyediakan sajian kopi beserta kudapan pelengkap lainnya yang nikmat. Ada beberapa tempat yang selalu jadi andalanku: racikan kopinya pas, suasananya tidak terlalu bising, dan pengunjung yang datang kebanyakan hanya ingin menikmati waktu sendiri, tanpa ingin terganggu dengan suara-suara bising. Di sana jarang sekali terlihat remaja-remaja yang biasanya gemar membuat gaduh sebuah tempat dengan segala tingkah lakunya; seperti sedang aduh kelahi ihwal yang tidak penting, meracau tanpa jeda dengan intonasi yang tinggi, atau tawa memekik yang terkadang mereka tidak sadar bahwa hal tersebut cukup mengganggu orang di sekitarnya.

     Satu tempat yang rutin kuhampiri jika ingin mencari suasana pembeda dengan harapan bisa memantik ide-ide kreatif adalah, sebuah kafe kecil yang memenuhi semua prasyarat sebagai definisi tempat yang nyaman versiku. Tidak hanya sajian-sajian yang ditawarkannya saja yang enak, tetapi juga suasananya cukup mendukung untuk siapa pun yang butuh suasana tenang saat ingin WFA (Work From Anywhere). Seperti biasa, aku selalu kembali dengan menu andalanku; segelas kopi Sidikalang, beserta dua keping kue kering pendamping yang disisipkan di sisi gelas. Diminum lima sampai tujuh menit setelah disajikan di atas meja. Susunannya pasti berulang: gelas kopi berada di sisi kanan laptop dengan diapit dompet dan sebotol air mineral, kemudian di sisi kiri terdapat ponsel serta tumpukan kunci beserta pengisi daya portabel.

    Aku adalah tipe orang yang suka lupa waktu bila terlampau fokus dalam mengerjakan sesuatu, kadang tidak terasa kalau sudah berjam-jam duduk menatap laptop tanpa sempat peduli sekitar. Aku duduk di tempat itu sejak matahari masih menggantung di langit dan tejanya mulai miring menyentuh dinding-dinding kafe, hingga akhirnya malam datang perlahan menjemputnya pulang. Dan ketika jam menunjuk pukul setengah tujuh malam, aku tersadar masih terpaku di kursi yang sama. Namun, perasaan "tanggung" pada setiap pekerjaan yang masih menunggu untuk dituntaskan, membuatku memutuskan untuk memperpanjang durasi berada di tempat itu. Tinggal beberapa lagi sudah rampung, pikirku.

Hingga tiba-tiba, mataku menangkapmu masuk melewati pintu depan.

    Pikiranku langsung gaduh. Aku dan bagian diriku yang lain tengah bersilang pendapat, mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyapamu terlebih dahulu. Namun, tampaknya takdir memang tak suka untuk didesak, karena dia tidak suka berlama-lama menanti gerak lelaki yang keberaniannya terhenti di ujung lidah. Pada akhirnya, kamu yang terlebih dahulu menyapaku dengan gestur khas yang begitu lekat dalam ingatanku.

     Kamu menghampiriku dan kita duduk berhadap-hadapan. Lebih kurang sudah tujuh tahun kita tidak bertemu semenjak terakhir kali bertatap muka saat mengikuti rangkaian acara purnawiyata kala itu. Sekilas yang kuperhatikan, tidak banyak yang berubah dari yang pernah kuingat dalam perjumpaan terakhir kita. Kamu masih tampak elok dalam setiap gerak gerikmu, dan aku masih saja terkesima akan semua itu.

     Aku bersyukur saat itu kondisi antrean cukup padat, sehingga kita memiliki waktu sedikit lebih lama untuk berbincang mengenai banyak hal. Kita bercerita ngalor-ngidul, mulai dari nostalgia masa-masa sekolah hingga update tentang kehidupan masing-masing. Sikap kita bukan seperti seseorang yang sudah lama tidak berjumpa; terlalu mudah bagi kita untuk bisa melebur satu sama lain, seolah gaduh perpisahan kala itu tidak pernah ada.

     Aku coba membangkitkan ingatan-ingatan masa lalu, mengulas kembali semua hal yang pernah kita lakukan bersama-sama. Apa kamu masih suka mendebat lawan bicaramu tentang mana yang lebih nikmat antara Sidikalang atau Gayo? Dan bila kamu sudah jengah dengan tajuk kopi, kamu mengalihkan dengan perdebatan yang lain yaitu antara bubur diaduk atau tidak diaduk. Kamu berkeyakinan bahwa cara terbaik dalam menikmati semangkuk bubur adalah dengan tidak diaduk; alasanmu, estetika juga penting dalam proses kita menikmati sebuah makanan. Di sisi lain, aku masih berpegang teguh pada prinsip bahwa, menikmati hidangan adiluhung seperti bubur melalui cara yang tidak diaduk adalah sebuah penghinaan terbesar pada peradaban umat manusia. Terlepas dari itu semua, rasanya masih banyak persoalan lain yang lebih penting untuk didiskusikan daripada sekadar mempertentangkan cara orang dalam menyantap sebuah hidangan.

    Apa pun perdebatan yang pernah kita diskusikan kala itu, sesungguhnya yang kusukai bukan soal siapa yang menang atau benar. Aku justru lebih menikmati caramu menyusun argumen dengan menyertakan opini-opini yang terlihat begitu meyakinkan, meskipun sering kali isi dari substansinya tidak ada. Tetapi, dengan begitu aku mempunyai jeda waktu lebih panjang untuk bisa memandangi paras indahmu.

    Hingga pesananmu sudah selesai dibuat: dua gelas es kopi susu gula aren tersaji di atas meja. Sejauh yang bisa kuingat, itu bukan menjadi favoritmu dalam memilih jenis sajian kopi. Kamu memberikan penjelasan bahwa spektrum ketertarikan seseorang terhadap sesuatu akan berganti-ganti seiring pertambahan usia. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengusik pikirku: aktivitas apa yang memaksamu untuk meneguk dua gelas es kopi gula aren tinggi kalori dalam waktu bersamaan? Kamu menjelaskan lebih lanjut jika salah satu dari pesanan itu ditujukan untuk kekasihmu yang sedang menunggu di dalam mobil. Ternyata, hari itu kalian baru saja menuntaskan sesi joging bersama di sebuah tempat yang tidak jauh dari kafe tersebut. Sebuah bentuk tetirah yang amat romantis untuk bisa dilabeli sebagai "hubungan yang sehat", baik secara harfiah maupun kiasan.

Seolah kalimat itu ingin menyayatku perlahan-lahan, dan berhasil.

     Selepas itu, kamu berpamitan untuk pergi. Sempat terucap bahwa kamu berharap kita bisa bersua lagi di waktu-waktu mendatang. Aku tidak mengiyakan dan tidak juga menegasikan. Aku masih terkesiap dengan kalimat terakhir yang kamu beri sebelum kita menutup percakapan pada malam itu, tiga kata sederhana yang hingga kini masih sulit untuk kucerna sepenuhnya: "Kau sudah berkekasih"

    Dari terakhir yang pernah kuingat ketika aku coba menyatakan perasaanku, kamu masih di tahap belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku kira itu merupakan alasan yang benar-benar akan kamu pegang erat untuk menolak siapa saja yang berusaha mendekatimu. Tetapi kini aku sadar jika memang bukan aku yang kamu harapkan sedari awal.

    Untuk menyudahi kisah pada hari itu, aku memutuskan untuk kembali memesan one shot espresso. Aku hanya ingin membandingkan mana yang lebih getir: setengah cangkir kopi hitam, atau realitas yang baru saja mengetuk pintu sadarku.

Jul 1, 2025

Ruang Tetirah yang Bernama "Tidak Tahu"

    Saya acap kali kelewat bingung tiap ada seorang kawan yang meminta nasihat mengenai konflik dalam hubungannya. Bukan karena tidak mampu berseloroh atau menyusun ode tentang keretakan, tapi karena saya selalu berpegang pada satu pakem bahwa: memberi testimoni atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya alami adalah manifestasi kebodohan yang mutlak, semacam ejawantah dari masturbasi ego yang berkedok empati.

    Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki arus batin yang tak serupa. Spektrum emosinya terlampau luas, melingkupi rasa takut ditinggal, harap untuk dipahami, hingga peruntungan tentang siapa yang lebih dulu mengalah saat terjadi perdebatan yang memekik tanpa henti. Dan saya, yang bahkan belum pernah menggadaikan tidur demi menjaga seseorang yang ingin didengar di tengah malam, sungguh tidak layak memberi saran yang seolah-olah adiluhung.

   Lantas, apa yang bisa saya katakan? 'Bahwa mereka harus saling mendengar?' 'Bahwa cinta butuh ruang dan waktu?' Bukankah semua itu cuma tajuk kosong dari artikel daring yang ditulis dengan tergesa-gesa, lalu disebarluaskan secara masif, seolah-olah ada satu formula universal untuk mendamaikan pertikaian yang tertanam dalam tapak hubungan. Saya tidak ingin jadi seperti itu, saya tidak ingin menjelma menjadi insan yang mendompleng keresahan pada orang lain hanya demi terlihat relevan. Karena pada akhirnya, konflik bukan soal siapa yang paling benar. Ia adalah tentang siapa yang bersedia kehilangan sebagian egonya agar yang lain tetap merasa cukup.

    Saban kali seseorang berkeluh ihwal hubungannya pada saya, saya lebih sering diam. Saya biarkan mereka menuturkan sendiri fragmen-fragmen yang tercecer. Kadang saya hanya mengangguk, sebab saya tahu, yang mereka cari bukan solusi. Yang mereka cari adalah ruang tetirah, tempat segala keluh bisa dibaringkan tanpa perlu ditimbang-timbang kadar benar-salahnya.

    Dari situ saya belajar, bahwa sebagian dari konflik dalam hubungan sebenarnya tidak berkutat tentang hal-hal besar. Seringkali hanya perihal semiotika yang tidak disepakati: tentang siapa yang harus lebih dulu menyapa, seberapa cepat membalas pesan, atau bagaimana menanggapi perubahan nada dalam satu percakapan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak pernah dibicarakan akhirnya akan menjadi bara yang membakar. Timbul-tenggelam, lalu meledak dalam satu adu kelahi yang tak pernah benar-benar selesai, dan hanya akan meninggalkan gaung pertanyaan: "Kenapa kita jadi begini?"

    Saya pernah menulis, bahwa setiap hubungan adalah barisan kemungkinan yang tidak bisa ditebak. Kita berjalan dengan rasa, bertemu di simpang keterbatasan bahasa, dan berharap lawan bicara bisa membaca apa yang tidak kita tuturkan. Tidak semua orang punya kemauan untuk nguda rasa, ada beberapa tipe manusia yang lebih nyaman menyimpan semuanya sendiri. Sebagian orang hidup dalam strata logika yang berbeda. Ada yang senyap karena kecewa, ada yang kelu karena tidak tahu harus berkata apa. Sayangnya, tidak semua orang tahu cara menyeberangi spektrum itu.

    Maka, bila ada yang bertanya pendapat pada saya tentang hubungan yang sedang dilanda perselisihan, saya hanya bisa menawarkan pada satu kesimpulan sederhana: bahwa kadang cinta tidak perlu disusun dalam rentetan kalimat. Ia cukup dibuktikan dari cara seseorang memilih untuk tetap tinggal, meskipun tidak ada satupun argumen yang berhasil dimenangkan. Dan bila akhirnya ada yang memilih pergi, maka terimalah itu sebagai bagian dari kadar resiko mencintai. Sebab segala yang kita genggam, selalu punya kemungkinan untuk lepas. Itu hukum yang tidak bisa kita tawar, vice versa.

    Saya kira, tidak ada satu pun yang benar-benar rampung dalam konteks hubungan. Ada yang tetap bersama, tapi hanya sekadar untuk mempertahankan ide tentang kebersamaan itu sendiri. Di balik semua itu, saya hanya bisa merawat yang tak sempat disuarakan. Kadang cukup bersandar pada himne yang sentimental, kadang dengan menuliskan sinisme kecil dalam catatan yang ku muat dalam sebuah goresan ala kadarnya seperti ini.

    Kalau saya boleh jujur, kadang saya iri pada mereka yang berani memboyong rasa ke hadapan konflik. Yang tidak takut dilabeli lemah, yang pandai menata kata, merangkai ejaan, lalu meletakkan perasaan di tengah-tengah percakapan—dengan segala resiko akan ditertawakan, dibantah, atau dicampakkan. Tapi mungkin itulah yang membedakan mereka dengan saya. Mereka memilih untuk hadir, sementara saya lebih sering memilih lengang. Menepi. Karena bagi saya, diam adalah satu-satunya ruang yang tidak mengganggu siapa-siapa.

    Dan dari semua itu, saya akhirnya belajar satu hal yang terpatri hingga saat ini: tidak semua yang mengerti cara menulis tentang rasa, juga mengerti cara menyampaikannya langsung pada orang yang menjadi sebab dari rasa itu sendiri.

Jun 2, 2025

Senin Pertama Bulan Juni

this image is generated with AI

From sharing everything to not even uttering a single word.


Seperti dua orang yang pernah dekat, lalu asing, dan tidak saling menghiraukan.

    Senin pagi itu tidak gaduh, dan tidak juga sepi. Seolah langit lupa caranya menangis, dan bumi tidak tahu lagi caranya tertawa. Seperti dua manusia yang pernah berbagi rahasia di bawah rindangnya masa lalu, kini duduk di bangku yang sama, tetapi saling diam. Tidak pernah menyapa. Tidak tahu harus mulai dari mana. Hanya diam. Seolah yang tersisa hanyalah kehangatan, dan tidak cukup kuat untuk kembali menyulut api.

Seperti seekor marmut yang terus berputar dalam roda penyesalan.

    Keriuhan kota tidak sepadan dengan keheningan di relung jiwa. Di luar, semuanya berjalan serba cepat: klakson kendaraan, langkah kaki yang tergesa-gesa, dan berita-berita yang disiarkan di awal pagi. Tapi di dalam kepala, ada satu pikiran yang terus menggelinding: seandainya aku lebih berani, mungkin kita masih berbicara. Seperti marmut yang berlari di dalam roda, berputar, lelah, tapi tidak pernah sampai. Penyesalan bukan soal waktu, tapi arah yang tidak pernah dipilih.

Seperti orang yang diam-diam memenuhi catatannya dengan perasaan yang tidak tersampaikan.

    Udara membawa kabar kesunyian. Ia merasuk ke sela-sela kancing baju dan menetap di dalam perasaan. Seseorang yang sedang menatap halaman kosong di depan matanya, bukan karena tidak tahu apa yang ingin ditulis, tetapi karena takut jika tulisannya akan membuatnya rapuh. Lalu satu demi satu kata dituangkan, diam-diam, pelan-pelan. Perasaan-perasaan yang tidak sempat ia ucapkan, kini menjadi rahasia yang hanya bisa dibaca oleh kertas dan tinta.

Seperti sedang terbang menujumu sembunyi-sembunyi.

    Langit tidak sedang menangis, tapi ia juga tidak cerah. Seperti perasaan yang tidak diberi nama, mengambang, samar, enggan dijelaskan. Seperti sedang terbang, tetapi tidak menggunakan sayap, melainkan dengan ingatan. Menujumu, diam-diam. Lewat detak jam, lewat bayangan di cermin, lewat lagu yang tiba-tiba terputar di tengah perjalanan. Kau tidak pernah tahu, atau bahkan tidak peduli. Namun aku selalu mencarimu dalam bentuk-bentuk yang tidak terduga.

Seperti berusaha menyibukkan diri, agar terlihat sedang tidak memikirkanmu.

    Di atas meja kerja, jari-jari sibuk mengetik hal yang tidak berarti. Di luar, dunia melihatku produktif, efisien, berguna. Tapi di sela-sela semua itu, ada jeda-jeda kecil yang kugunakan untuk mengingatmu. Menyibukkan diri bukanlah solusi, tapi penyangkalan. Aku berpura-pura sibuk agar tidak terlihat sedang menunggumu. Padahal dalam kesendirian, aku selalu berharap kamu akan tiba-tiba hadir.

Seperti hujan yang mengguyurku agar rinduku berhenti membara.

     Hujan turun secara perlahan, seperti isyarat yang diberikan oleh semesta bahwa luka juga harus segera diredakan. Tapi dingin yang tercipta tidak cukup kuat untuk memadamkan rinduku. Ia bukanlah bara yang meletup-letup, ia adalah nyala kecil yang senantiasa terus bertahan, hangat tapi menyakitkan. Hujan yang datang hanya sebagai pengalih dan sebagai pelipur. Tapi bahkan tetes-tetesnya pun menyerupai suaramu. Aku masih saja membara, walaupun basah kuyup oleh kenangan.

May 23, 2025

Hai, apa kabar?

Here I am, playin' with those memories again.

Hai, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya...
Gimana kerjaannya? Lancar?
Katanya akhir-akhir ini lagi sibuk banget ya? 
Hari Sabtu yang mestinya buat istirahat. Tapi, kamu malah masih harus lembur di kantor.
Apa pun itu harus tetap semangat terus ya.

    Kangen nih, udah lama kita nggak ngobrol-ngobrol lagi. Masih ingat nggak hal-hal random yang pernah kita diskusiin sampek dini hari waktu itu? ah, mungkin kamu juga udah lupa, emangnya nggak kangen apa ngelakuin hal-hal kayak gitu lagi? Atau mungkin kamu udah nemuin orang yang lebih asik dari aku? kalau memang begitu adanya, syukur deh, aku juga seneng kalau kamu udah ketemu sama orang yang bisa bikin kamu nyaman, yang bisa memperlakukan kamu dengan baik. Beruntung banget ya dia, bisa bareng-bareng sama kamu terus, bisa jadi tempat istirahat kalau lagi capek, bisa saling support kalau ada masalah, bisa jadi penyemangat kalau lagi jatuh, bisa jadi penghibur kalau lagi sedih, bisa jadi tempat tukar pikiran, pokoknya banyak lagi deh. Tapi sayang, yah... bukan aku yang ada di sana, tapi gapapa, it’s okay, fine... (it’s okay, fine, tapi dibahas semua, hehehe...)

    Tingkat keberanianku mungkin cuma sebatas nulis di blog kayak gini, mana berani aku ungkapin langsung ke kamu. Aku takut, aku takut kalau nanti malah bikin kamu jadi ilfeel sama aku terus pergi deh. Sampai saat ini pun, aku masih belum bisa nemuin caranya biar nggak suka sama kamu, kira-kira ada tips nggak? kalau ada kasih tahu ya, nomorku masih yang lama kok.

    Kalau boleh berandai-andai nih, misalnya, umpamanya, kamu saat ini masih sendiri gitu, kira-kira aku masih ada kesempatan nggak, ya? Gakpapa deh kalau harus nunggu lebih lama lagi, toh aku juga udah nunggu dari dulu, oh iya... tiap tahun juga aku selalu ngungkapin perasaanku ke kamu, pasti kamu nggak ngeh.

Apr 14, 2025

Untuk kamu, Aku Minta Maaf.

Mumpung masih di bulan Syawal, semoga ucapan ini belum basi. Siap-siap, karena mungkin akan sedikit panjang, kayak barang yang udah lama nyangkut di keranjang online shop: telat checkout-nya. Tapi yang satu ini niatnya beneran, sungguh-sungguh.

Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Maaf kalau sedari awal kenal sampai detik ini aku pernah (atau mungkin masih) jadi orang yang terlalu ramai sendiri. Terlalu antusias sendiri, kadang muncul tanpa aba-aba, dan mungkin bikin kamu ngerasa, “ini orang gak capek apa ya, ngomong mulu?”

Belakangan aku sadar, bahwa gak semua hal yang niatnya baik bisa nyaman untuk diterima, apalagi kalau datangnya tiba-tiba, tanpa permisi, dan dengan volume penuh. Mungkin aku pernah melewati batas, tanpa sadar, atau lebih tepatnya: tanpa paham.

Jadi kalau pernah ada hal-hal yang bikin kamu risih, males, atau mungkin kamu cuma pengen diem tapi aku malah nyamber terus... maaf ya. Mungkin saat itu aku cuma lagi sok tahu tentang cara hadir di hidup orang lain, padahal belum cukup ngerti cara bersikap sewajarnya.

Dan satu hal lagi, aku juga sadar, mungkin aku sudah terlalu banyak menyita waktumu. Waktu yang seharusnya bisa kamu pakai buat hal-hal yang lebih penting, lebih tenang, atau lebih berguna, malah habis buat ngeladeni orang yang kadang gak jelas ini. Padahal sebenarnya kamu punya hak penuh untuk gak menghiraukan semua itu. Tapi kamu tetap ada, atau setidaknya masih berusaha sabar... dan untuk itu, aku berterima kasih.

Tapi dari sekian banyak kata-kataku yang kadang gak perlu, yang aneh, yang gak jelas, semoga ada satu dua yang nyampe. Termasuk ucapan ini. Karena ini bukan sekadar basa-basi, tapi bentuk kecil dari rasa hormat yang belum tentu selalu bisa aku tunjukkan dengan cara yang benar.

Semoga di bulan maaf–memaafkan ini akan tetap membawa kelapangan hati, bahkan saat ucapannya datang dari orang yang pikirannya kadang sempit.

Sep 21, 2019

Balasan Pesan yang Menyesakkan

Ada masa-masa dalam hidup di mana keheningan jauh lebih menyesakkan daripada sekadar kata-kata yang menyakitkan. Keheningan tercipta salah satunya karena segala sesuatu telah kehilangan alasan untuk terus diperjuangkan. Dan aku, barangkali telah terlalu lama bertahan dalam ruang sunyi yang kamu ciptakan, ruang yang kamu istilahkan sebagai sebuah hubungan, tapi isinya hanya aku dan bayanganmu yang semakin samar.

Aku ingat betul awal mula kita mulai akrab. Sederhana, hangat, dan menggembirakan. Ada senyum kecil yang terbentuk setiap kali notifikasi darimu muncul di layar ponselku. Aku akan menghentikan apa pun aktivitas yang tengah kulakukan hanya untuk membaca serta membalas pesanmu. Semuanya terjadi karenaーdalam hidupkuーkamu telah menjadi bagian yang selalu ingin ku dahulukan, bahkan sebelum kamu sendiri menyadarinya.

Tapi lambat laun, sikapmu mulai berbeda. Balasanmu datang terlalu lama, tidak seperti sebelum-sebelumnya, sering kali seperti sisa-sisa tenaga di ujung hari. Aku masih memaklumi, sebab setiap orang punya dunia yang perlu diurus. Namun ketika kesibukan berubah menjadi alasan yang abadi, dan kehadiranku tidak pernah cukup mendesak untuk diperhatikan, aku mulai bertanya-tanya: mungkinkah aku hanya sementara bagimu, sementara kamu sudah menjadi pusat orbitku?

Aku mulai merasa seperti pengemis perhatian, yang selalu menanti kapan waktumu luang, kapan perhatianku pantas untuk disambut. Aku menulis panjang-panjang, kamu membalas singkat. Aku bertanya dengan semangat, kamu menjawab seadanya. Aku hadir sepenuh hati, sedangkan kamu datang dan pergi tanpa permisi.

Begitu banyak malam sudah kulalui dengan ponsel yang selalu berada di dekatku, hanya untuk memastikan kalau aku tidak melewatkan satu pun kabar darimu. Namun semakin lama, aku semakin menyadari: yang sebenarnya kutunggu bukan hanya sekadar balasan, melainkan keyakinan bahwa aku tidak sendiri dalam jalinan ini. Bahwa ada dua hati yang sama-sama sedang berjuang, bukan hanya satu yang terus memanggul segalanya.

Konfliknya bukan terletak pada keterlambatanmu, melainkan pada ketidakpedulian yang begitu terasa. Aku mampu menunggu, tetapi aku tak sanggup terus merasa seperti satu-satunya yang berusaha. Kamu sering mengatakan peduli, namun kehadiranmu selalu datang saat mudah, saat luang, saat segalanya sudah rapi. Seakan aku hanyalah jeda dari riuh duniamu, padahal aku ingin dipercaya menjadi bagian dari duniamu itu.

Hingga pada satu malam yang hening, aku mulai berhenti mengetik. Tidak ada lagi “kamu sedang apa?” Tidak ada lagi “tidak apa-apa kalau sibuk, aku hanya ingin tahu kabarmu.” Aku duduk dan merenungi, kemudian bertanya pada diri sendiri: untuk apa aku terus menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar hadir?

Klimaks dari semua ini tidak muncul dalam ledakan kemarahan atau tangis yang pecah. Yang lahir justru keputusan yang tenang, perlahan, dan tak mungkin lagi untuk diubah. Aku berhenti membalas. Bukan karena rasa peduliku sirna, melainkan karena aku akhirnya memilih peduli pada diriku sendiri. Aku lelah menjadi orang yang tidak dipedulikan, lelah menunggu kabar dari seseorang yang tak pernah menungguku kembali.

Aku akhirnya memahami, bahwa cinta tidak hanya terletak pada siapa yang lebih cepat membalas pesan, melainkan pada siapa yang sungguh ingin hadir. Dan aku membutuhkan seseorang yangーbahkan di tengah kesibukannyaーtetap berusaha membuatku merasa cukup.

Penutup dari semua ini bukanlah pintu yang akan kukunci rapat-rapat, melainkan jalan yang kupilih untuk ditinggalkan perlahan. Dengan kepala tegak. Dengan hati yang belajar: mencintai memang tidak pernah salah, namun menggantungkan diri pada seseorang yang enggan mencintai kembali adalah bentuk dari kebodohan yang hakiki.

Dan bila suatu hari kamu menyadari bahwa aku tidak lagi membalas, semoga kamu paham: diamku bukan bentuk kemarahan. Diamku adalah akhir dari ketulusan yang terlalu lama disepelekan.

Dec 14, 2017

Menanti di Senjakala

    

Pakde Didi Kempot pernah berkata, "nganti kapan tak enteni sak tekane"
Di suatu sore yang cukup tenang, ketika langit mulai mengguratkan semburat jingga keemasan yang menerpa genting sekolah, aku duduk sendiri di bangku panjang dekat taman kecil yang catnya sudah sedikit mengelupas. Semilir angin yang berembus pelan dari arah utara, membawa debur kenangan yang tiba-tiba terasa semakin mendekap. Jam pelajaran terakhir telah usai beberapa menit yang lalu, dan derap langkah kaki para siswa-siswi mulai sayup-sayup terdengar. Seperti sore-sore pada umumnya. Ada sesuatu yang amat kunantikan, atau lebih tepatnya, seseorang.

Aku memang sengaja datang lebih awal ke taman itu, duduk di sudut yang biasa menjadi tempat pertemuan antara harapan dan kenangan. Pandanganku menelisik tiap gerak yang melintas lalu lalang di sekitar. Mataku menyusuri ruang demi ruang, dari kelas sebelah utara hingga lorong kantin yang mulai remang. Di antara gemuruh tawa dan langkah yang tergesa-gesa, aku berharap melihat siluet yang sudah kutunggu, langkah kecilnya, bahunya yang sedikit condong ke kiri, dan raut wajah yang menyimpan sejuta keindahan saat senyumnya merekah.

Selayaknya adegan yang diciptakan semesta untuk menggodaku, dia muncul dari kejauhan. Kemudian waktu seakan melambat, dan cahaya senja menyoroti wajahnya yang tampak berseri. Aku melihat dia berjalan seolah seperti sedang slow-mo, sembari menyapa beberapa teman dengan anggukan kecil, namun sorot matanya seakan mencari, entah mencari siapa, atau mungkin itu hanya perasaanku saja yang berharap bahwa akulah tujuannya. Senyumnya… ah, senyum itu, nampak begitu sederhana namun menciptakan gemuruh yang tak kasatmata.

Ia berjalan menembus kerumunan siswa-siswi yang bergegas meninggalkan sekolah, melintasi lorong yang kini diselimuti bayang-bayang temaram. Aku yang memperhatikannya dari jauh, tak berani menyapa, hanya sanggup menunggu dengan ekspresi yang kikuk. Ada rasa yang belum sempat tersampaikan, sebab waktu yang tak pernah benar-benar memberi ruang untukku bisa mengungkapkan semuanya dengan jujur. Tapi sore itu, saat langit mulai menjemput mataharinya untuk pulang. Dan aku merasa seperti berada di halaman pertama dari kisah yang selama ini hanya hidup dalam lamunanku.

Saat ia melintasi area taman, pandangan kami saling menangkap satu sama lain. Walaupun itu hanya sepintas saja, tapi cukup untuk menyadarkanku bahwa mungkin─hanya mungkin─ia tahu Bahwa aku ada, bahwa aku sedang menunggunya. Dan di antara senja merah dan koridor sekolah yang sunyi lengang, ada satu rasa yang tumbuh, berharap bahwa kelak akan mekar di waktu yang tak lagi bisa kita sembunyikan.

Sore itu berakhir tanpa sempat ada percakapan, namun aku merasa dihujani kebahagiaan yang bertubi-tubi. Dan di senjakala yang tenang itu, aku tahu, jika kisah ini masih belum usai. Ia baru saja dimulai, dalam kesederhanaan, dalam tatapan, dan dalam satu senyuman yang menjanjikan harapan.

Oct 15, 2017

Sampai Pada Saat Ini

    

Orang kerap berujar bahwa senja terbaik bersemayam di Banda Neira. Bagiku tidak, senja paling indah berada di bola matamu.

Menjadi pribadi yang supel adalah satu dari sekian banyak hal yang masih menyulitkan bagi saya untuk menjalaninya, terlebih lagi karena saya bukan tipe manusia yang memiliki nilai sungkan kepada siapa pun. Ketika tidak suka terhadap sesuatu, saya pasti akan langsung menyampaikannya, vice versa. Teman-teman banyak yang sudah beberapa kali mengingatkan, agar saya belajar untuk menumbuhkan rasa pekewuh dan peka terhadap sekitar. Dalam beberapa kasus yang terjadi, saya pun menyadari bahwa omongan saya dalam menanggapi ataupun ketika menyangga perkataan orang lain terkadang tidak dibarengi dengan pemilihan diksi yang tepat, sehingga hal itu kerap kali membuat orang lain tersinggung. Maka dari itu, salah satu cara yang bisa saya lakukan agar terhindar dari menyakiti orang lain adalah, dengan lebih menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap apa saja yang menurut saya itu hal yang janggal. Barangkali karena itu pula, saya lebih banyak diam, dan akhirnya tidak tumbuh menjadi sosok yang mudah bergaul dengan banyak orang.

Saya lebih suka menulis daripada bertutur kata, saya bisa mendapatkan kenyamanan tersendiri saat isi hati bisa tersampaikan melalui perantara kalimat. Saya cukup menyadari bahwa kemampuan verbal saya memang tidak lebih baik jika dibanding dengan kemampuan bertutur melalui tulisan. Saya tidak tahu apakah hal ini lumrah dirasakan oleh kebanyakan laki-laki, karena beberapa kawan dilingkarku juga tidak begitu sering untuk bercerita satu sama lain. Mungkin karena hal itu saya jadi beranggapan bahwa; lingkungan lah yang berperan besar membentuk stigma bahwa pria tidak bercerita, sehingga menceritakan masalah dianggap menjadi satu titik lemah seorang lelaki, padahal kan harusnya tidak seperti itu.

Begitu pun dalam hal menyukai seseorang, saya lebih tertarik untuk mengungkapkan semua melalui media tulisan seperti ini. Saya gemar menuliskan satu dua kalimat pengalaman atau peristiwa yang melibatkan saya dengan seorang perempuan yang saat ini berhasil membuat saya terpikat. Biasanya saya luapkan di halaman terakhir buku tulis pelajaran Sosiologi. Tidak harus langsung menjadi satu cerita utuh, cukup potongan kecil dari apa yang sedang saya rasakan pada hari itu.

Saya mengenalnya secara tidak sengaja, bermula dari saling bertegur sapa melalui aplikasi pesan singkat, kemudian berkembang menjadi percakapan sehari-hari. Boleh dibilang hampir setiap hari kami bercengkerama, ya walaupun yang dibahas memang bukan hal-hal yang penting. Di beberapa minggu awal saling berkirim pesan, saya langsung bisa menemukan klik dengan dia, obrolan mengalir apa adanya tanpa dibuat-buat. Kami tidak punya pakem khusus dalam bertukar pesan, intensitas dialog yang kami lakukan biasanya terjadi sehabis pulang sekolah hingga malam hari, bahkan tidak jarang sampai lewat dini hari. 

Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya mudah bagi kami bila ingin berbicara langsung secara tatap muka di sekolah, tanpa harus repot-repot meminjam sinyal dan kuota. Tetapi saya sebagai pihak laki-laki, memang kelewat pengecut untuk mulai membuka pembicaraan dengan dia. Di sekolah, kami lebih sering bersinggungan hanya ketika ada tugas kelompok yang memang mengharuskan untuk diselesaikan secara bersama-sama, baru disitulah saya coba mencuri-curi kesempatan untuk membuka obrolan, ya walaupun tidak banyak juga. Alasan lain yang mungkin bisa saya berikan yaitu, karena saya tahu betul bagaimana watak dan sifat tiap individu di dalam kelas itu, dan saya hanya tidak begitu suka untuk menjadi bahan guyonan.

Berbicara mengenai kriteria dalam menentukan apakah saya menyukai seseorang ini dengan tulus, tentu ada tahapan-tahapan yang saya buat sendiri. Tapi kadang yang menjadi masalah, proses penilaian ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga sering kali, kedekatan yang coba saya jalin tidak berlanjut menjadi sebuah hubungan yang serius. Komunikasi menjadi yang paling utama bagi saya dalam menentukan apakah saya harus lanjut atau tidak, jika saya merasa ritme komunikasi tidak selaras dengan harapan, maka lebih baik saya urungkan niat untuk melanjutkan ke tahap yang berikutnya.

Sedari awal berkomunikasi dengan seorang perempuan yang saya sedang sukai ini, saya sudah bisa mendapatkan kecocokan dengan cara dia dalam meramu kata-kata. Saya suka dan nyaman untuk membicarakan apapun dengannya, meskipun itu menyangkut persoalan pribadi. Saya merasa lebih secure untuk meluapkan segala keluh kesah kepadanya. Saya hanya perlu memastikan beberapa hal lagi untuk bisa yakin dengan keputusan yang akan saya ambil, semua ini saya lakukan dengan hati-hati, utamanya untuk melindungi dia dari potensi patah hati. Saya hanya tidak ingin di kemudian hari ketika saya sudah menjalin hubungan dengannya, justru saya menjadi alasan dia sering bersedih atau terluka. Saya ingin menyukainya dengan utuh, tidak dengan terburu-buru.

Penting untuk diingat, bahwa kisah ini berdiri di atas pandangan saya sendiri—tempat di mana perasaan, harapan, dan tafsir pribadi saling berkelindan tanpa jaminan kebenaran yang mutlak. Sampai pada saat ini, saya beranggapan bahwa dari cara kami berkomunikasi, hubungan ini sudah masuk dalam tahap pendekatan. Saya belum bisa mengonfirmasi apakah hal yang sama juga dia rasakan terhadap saya. Menjadi kekhawatiran bagi saya, bahwasanya dia menganggap saya hanya sebatas teman yang menyenangkan bila diajak bicara, tidak lebih. Saya belum siap jika harus menerima kenyataan bahwa selama ini hanya saya yang asyik sendiri, bahwa semua tanda yang saya tangkap hanyalah bias dari keinginan saya yang terlalu besar. 

Kendatipun begitu, apa pun yang terjadi di depan nanti. Apakah kami akan diberi kesempatan untuk menjalin kasih, atau justru kami harus berpisah di persimpangan waktu. Saya sudah merasa bersyukur bisa mengenal dia lebih jauh, menjadi seseorang yang diizinkan untuk mendengar cerita-ceritanya.

Aug 20, 2017

Suatu Hari di Bulan Juli.

Suatu hari di bulan Juli. Bersesuaian dengan hari Senin yang dimulai dengan rintik kecil hujan yang perlahan mulai menggenapi seluruh tepian bumi, dan berbarengan dengan awal masuk sekolah selepas libur semester genap. Tapi entah mengapa, sejak langkah saya menjejak masuk ke ruang kelas sebelah kantin itu, segalanya mulai tak sama lagi.

Pandangan saya tertuju pada satu orang asing yang sedang duduk di tengah ruang kelas, dikelilingi oleh wajah-wajah lama yang sudah lebih dulu saya hafal rupa dan suaranya. Mata saya sempat tertambat sebentar pada sosok itu, tidak lama, hanya sepersekian detik, tapi terbilang mampu memantik rasa penasaran. Siapakah gerangan perempuan tersebut? Mengapa hadirnya terasa begitu kontras di tempat yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua?

Sesudah mendapat informasi dari salah satu sohabat, saya baru mengetahui ternyata dia adalah siswi pindahan dari sekolah lain. Sekilas terdengar seperti informasi sederhana yang seharusnya tak membuat debar jantung saya menjadi tak menentu. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya, membentuk gelombang yang tidak bisa saya tenangkan dengan logika. Selepas itu, tindak tanduk saya tampak mulai berubah, sedikit canggung di kelas sendiri, tidak lagi seleluasa seperti sebelum-sebelumnya. Saya menjalani keseharian dengan lebih banyak memperhatikan gerak-geriknya. Mulanya saya menyangka jika ini hanya rasa ketertarikan biasa saja, atau mungkin juga karena saya sedang memasuki fase-fase romansa di usia remaja.

Hingga pada suatu hari yang begitu damai, masih terpatri jelas dalam ingatan. Saat itu bertepatan dengan hari Jumat, sebuah rentetan notifikasi dari aplikasi pesan singkat Line mengusik tidur pagi saya yang begitu tenang. Usut punya usut, ternyata kegaduhan itu disebabkan karena ulah dari teman-teman yang sedang mendiskusikan sesuatu hal di grup kelas. Saya yang masih dalam keadaan setengah sadar, bangun dari kasur dan meraih ponsel yang ada di atas meja, kemudian memantau dengan seksama sebenarnya hal apa yang sedang diperbincangkan. Diantara pelbagai macam pemberitahuan pesan yang masuk, saya mendapati ada satu pesan dari seseorang yang namanya tidak asing. Ternyata perempuan itu menyapa saya terlebih dahulu, lalu dugaan pertama yang muncul di kepala bahwa hal tersebut boleh jadi dilakukan karena ingin menjembatani ruang kosong antara kami. Kegiatan lumrah yang biasa dikerjakan oleh seseorang yang baru memasuki lingkungan baru, berusaha sebisa mungkin untuk lebih akrab dengan semua penghuni tempat tersebut. Sementara saya, dalam kedunguan yang seperti biasa, kemudian bertanya, “Bisa dapat kontakku dari mana?” Lalu, dengan jeda yang hanya satu menit kemudian membalas, “Kita kan satu grup, satu kelas juga, ya dapet dari situ lah” Saat itu saya langsung merasa malu bukan main, mengapa hal sesederhana itu tidak bisa terpikirkan.

Tapi satu yang tidak bisa ditebak, diawali dari satu pesan yang mungkin terlihat biasa itu, kami mengalirkan percakapan yang lebih intens dan tanpa sekat. Mulai dari membincangkan hal-hal yang sepele, hingga saling lempar pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa ditebak jawabannya. Saking cairnya percakapan Jumat itu, sampai-sampai tak terasa hampir memasuki waktu salat Jumat. Kemudian saya pun berpamitan, dan tidak sadar mengakhiri obrolan dengan kalimat: “Nanti sehabis Jumatan aku kabari lagi.” Kalau pun ada yang yang bertanya mengapa hal tersebut saya lakukan, saya sendiri pun tidak tahu, itu terjadi begitu saja. Saya hanya merasa seperti tidak rela bahwa jalin komunikasi akan berakhir sesingkat itu. Ada perasaan yang ingin terus mengenalnya lebih jauh, seolah masih ada bagian dalam dirinya yang belum sempat saya ketahui, dan sebenarnya tidak harus juga. Serangkaian gestur yang tak lazim, yang sebelumnya tak pernah saya lakukan dalam lingkup pertemanan mana pun, membuat saya tersadar—betapa perlahan saya berubah menjadi seseorang yang pandir.

Tapi entah mengapa saya menepati perkataan sebelumnya. Saya menghubunginya kembali, tapi dia merespons dengan keheranan, “Terus kenapa laporan sama aku?” Pada momen itu yang saya lakukan hanya tertawa kecil. Sial. Lagi-lagi saya bertingkah debil. Namun ternyata ada hal menyenangkan dalam kebodohan yang tidak sengaja saya ciptakan itu, sesuatu yang membuat saya merasa serupa bocah kecil yang baru menemukan warna baru di halaman hidupnya yang semula hanya hitam-putih.

Selepas peristiwa hari itu, kami mulai membentuk kebiasaan baru. Saling menyapa, bertukar cerita, bahkan ketika tubuh kami sudah terpisah dari bangku sekolah. Dia menjelma menjadi pesan pertama yang saya baca ketika pagi, dan pesan terakhir yang saya tutup sebelum tidur. Padahal kami berada dalam satu ruang yang sama, dan sangat mudah bagi kami bila ingin mengobrol langsung tanpa harus meminjam sinyal dan kuota. Tapi entah mengapa ruang maya terasa lebih nyaman, lebih hangat, dan lebih jujur. Tanpa perlu khawatir mengganggu atau diganggu oleh siapa pun.

Rupanya ada satu hal yang luput dari perkiraan saya, bahwa segenap hal yang manis pun perlahan mulai menyimpan getirnya sendiri. Seiring waktu yang bergulir, saya mulai bertanya-tanya: apakah yang sedang kami jalani ini murni hanya sebatas hubungan pertemanan biasa? Atau ini hanya saya, yang jatuh terlalu dalam sementara dia tetap berada jauh di permukaan?

Hari berlari menjadi minggu, minggu menua menjadi bulan, dan bulan berlalu menjadi tahun—perlahan tapi pasti, waktu mengikis kedekatan yang terjalin sebelumnya, meninggalkannya sebagai jarak yang tak lagi bisa dijembatani. Entah apa yang menjadi penyebabnya, yang jelas kini komunikasi kami tak lagi seramai dahulu. Tak ada lagi kabar yang saling bersahutan, tak ada lagi pesan yang datang tanpa alasan. Akhirnya, kami hanya berbicara ketika memang ada perlunya saja. Namun yang pasti, dia tetap menjadi ramah, tetap hadir, tetap membalas pesan-pesan saya. Tetapi saya tetap bisa merasakan ada jarak yang tak kasat mata, tumbuh seperti kabut tipis di antara kami. Saya mulai gelisah setiap kali dia terlambat membalas. Saya mulai kecewa ketika ceritanya mulai melibatkan orang lain. Walaupun saya tidak pernah menyatakan apa-apa secara langsung, dan saya tidak pernah menyebut kata “suka” atau “rindu” atau “ingin bersamamu lebih lama”. Tapi semua sikap yang saya perlihatkan adalah isyarat, dan seluruh pesan yang saya kirimkan adalah petunjuk.

Puncaknya adalah, ketika saya tidak sengaja melihat dia tengah berjalan dengan orang lain. Seseorang yang juga saya kenal, perlakuan dan tatapannya ke orang itu nampak istimewa. Dari sanalah kemudian saya baru memahami, barangkali memang sedari awal saya hanya bermain sendiri dalam cerita yang kusebut “kita.” Dan saya perlahan mulai menjauh karena tak tahu lagi bagaimana harus mendekat tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Dia mungkin tidak sadar, atau mungkin sadar akan tetapi memilih untuk tak acuh, justru ketidakpedulian itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar penolakan.

Setiap kali mengenang bulan Juli, saya tidak lagi teringat tentang kali pertama dalam hidup dihukum karena telat datang ke sekolah dengan memakai sepatu putih yang jelas-jelas dilarang. Tapi yang saya ingat adalah pertemuan pertama yang tidak pernah saya ekspektasikan akan berakhir menjadi seberpengaruh ini. Tapi toh, hidup memang seperti itu. Kita tidak pernah bisa memiilh kepada siapa kita akan jatuh cinta, itu sudah ranah Tuhan, yang perlu kita siapkan hanyalah kesiapan untuk patah hati.

Dia, akan senantiasa menjadi salah satu bab terbaik yang hingga saat ini belum pernah berhasil saya akhiri dengan kalimat bahagia. Namun tidak apa-apa. Sebab pernah, di antara malam-malam panjang yang kami habiskan untuk bertukar cerita, saya benar-benar merasa bahagia sebagai manusia.