![]() |
| Seperti sebaris syair dari MCR, "The hardest part of this is leaving you" |
Entah mengapa, peristiwa-peristiwa yang terbentuk di masa sekolah masih kerap menampakkan dirinya secara utuh dalam layar memori yang tersimpan rapi di hippocampus-ku. Pada sebagian orang jika disuruh mengingat tentang masa sekolah; mungkin yang pertama kali muncul hanya sebatas tempat menimba ilmu semata, atau juga tentang mengisi LKS (Lembar Kerja Siswa), mengerjakan soal ujian, atau memupuk nilai akademis untuk mendongkrak peruntungan di level pendidikan selanjutnya.
Bagi saya, masa putih abu-abu sudah bermetamorfosis menjadi catatan harian yang menandai pelbagai momen yang mewujud dari serangkaian fenomena yang terjadi sehari-hari, mulai dari yang sifatnya sepele/ringan hingga konflik antar individu yang menjadikan amarah sebagai fondasinya. Tapi untuk saya pribadi, kenangan yang paling melekat justru ketika menyangkut satu rupa, satu nama, yang keberadaannya sudah seperti pendar mentari di pagi berkabut.
Selepas bertemu dengan seorang perempuan ini, keseharian saya dalam menjalani kewajiban belajar menjadi lebih mengasyikkan dari pada sebelum-sebelumnya. Bagi saya, dia telah menjadi alasan primer untuk tetap bertahan dengan hiruk-pikuk kondisi lingkungan pembelajaran yang begitu dinamis, utamanya ketika berurusan dengan pengajar yang memiliki watak killer. Sesudah bergabungnya dia di tengah wajah-wajah yang membosankan itu, membuat saya merasa senantiasa siap untuk menghadapi berbagai macam keruwetan hidup.
Saya masih bisa mengingat semua tentangnya dengan cukup jelas. Mulai dari gerak langkah yang begitu memukau nan anggun, hingga tawanya yang semringah ketika mendapati ada hal lucu terjadi di dalam ruang belajar. Saya, yang sebelumnya nyaris tak punya urgensi untuk datang terlalu awal, tiba-tiba menjadi pribadi yang berusaha untuk lebih dulu singgah di halaman sekolah bahkan ketika gerbang belum terbuka sepenuhnya.
Saya beranjak dari rumah dengan perasaan yang berbunga-bunga, menjejaki aspal yang masih lengang dari hingar bingar pengendara. Semua itu saya lakukan karena tahu bahwa dia akan datang tidak lama kemudian. Keberadaannya一yang barangkali tidak dipandang sebagai sesuatu yang istimewa bagi orang lain一selalu berhasil mendongkrak semangat saya untuk menjalani sisa masa sekolah yang amat menjenuhkan itu.
Tapi yang menjadi problem, saya tak pernah fasih menjelaskan apa yang sebenarnya saya rasakan kala itu. Memang ada rasa yang tumbuh, tapi apakah perasaan yang bersemi itu sungguh tulen, atau hanya sebatas resurjensi ego masa remaja yang suka mencari perhatian? Andaikan itu dimaknai hanya sebatas rasa suka sesaat, tapi kenapa hingga saat ini tingkat kadar dari rasa suka itu tidak berkurang sedikitpun, setelah satu dekade berselang?
Setiap bel pulang berbunyi, saya menolak untuk cepat-cepat beranjak. Saya biasanya lebih memilih untuk duduk sejenak di bangku panjang depan kelas, berpura-pura membaca buku atau memainkan ponsel. Tujuan utamanya adalah: menanti apakah dia akan sekilas menoleh ke arah saya atau tidak. Dan jika iya, maka gamang yang menjalar disepanjang hari bisa seketika lebur. Saya lebih menganut paham: sebaik-baiknya rasa adalah yang hanya dinikmati seorang sendiri, tanpa perlu digembar-gemborkan ke khalayak ramai.
Namun, bulan-bulan menjelang kelulusan hadir membawa pelik yang tidak bisa ditampik. Ketika kawan-kawan lain tengah sibuk menyoal capaian nilai, merintis jejaring ke perguruan tinggi idaman, atau menyusun alternatif masa depan dengan segala kompleksitasnya. Di sisi lain, saya masih berkutat dengan perangai hati yang mendesak agar segera merampungkan pekerjaan dalam hal menerjemahkan perasaan ke dalam kata-kata, kemudian selekas mungkin untuk mengungkapkan kepadanya sebelum penyesalan tiba lebih dulu.
Malam-malam menjelang puncak acara purnawiyata kala itu, saya masih menyimpan pesan terakhir darinya—pertanyaan simpel tentang cara menyusun paragraf. Dalam pesannya, ia mungkin hanya bertanya perihal tata bahasa, tapi yang saya tangkap justru lebih dari itu. Saya melihat bahwa ada ketulusan yang mendasari setiap jeda, setiap titik, setiap susunan kata yang ia rangkai menjadi sebuah kalimat. Dan mungkin, justru di sana lah saya bisa jatuh hati, pada kepiawaiannya dalam menerjemahkan dunia melalui kata-kata.
Setelah masa-masa sekolah telah berakhir, kami benar-benar terpisah. Tak ada lagi temu yang terjalin, dia selalu alpa ketika ada acara kumpul-kumpul, tak ada lagi gurau kolektif yang bisa menyisihkan lara. Sehingga yang tersisa hanyalah sebaris nama di buku tahunan, dan satu potret bersolek yang terjepit di halaman akhir buku catatan Geografi.
Saya tak pernah tahu apakah ia pernah curiga bahwa saya menyukainya, atau mungkin kehadiran saya tidak lebih dari sekadar satu titik kecil di berbagai jejaring sosial kehidupannya. Harapan saya sesederhana一apabila suatu saat nanti ia menoleh ke belakang一cuma ingin dia tahu bahwa pernah ada seorang pegiat yang selalu memperhatikannya di sepanjang hari, yang memedulikannya tanpa pernah mengharapkan timbal balik. Cukuplah bila kenangan itu ternyata bisa hidup sebagai nukilan kecil di dalam ingatannya.
