May 10, 2026

Percaya Kita Kan Rayakan, Kawan

Kredit: official media sosial @PSSleman

Tentu masih terpatri dengan jelas di ingatan kita semua bagaimana pedihnya melihat tim kesayangan—PSS Sleman—harus turun kasta dari kompetisi liga tertinggi sepak bola negeri ini, setahun yang lalu. Menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tidak sedikit dari kita yang menangis, sedangkan sebagian yang lain mengumpat dan meluapkan amarah dengan sumpah serapah.

Pada momen setelahnya, barulah kita teringat pada perkataan kawan kita—Tonggos Darurat—dalam aksi monolognya beberapa tahun silam, “Mosok takut degradasi, degradasi yo tinggal naik lagi, gampang tho? Sepak bola loh ini, menang-kalah yo biasa, disyukuri, Mas. Besok kalau kita turun kasta, yo naik lagi (musim) berikutnya, gitu aja. Urusan mudah itu untuk PSS Sleman.” Kalimat itu yang kemudian menampar kita, memecut untuk lebih nggetih dalam mendukung PSS. Kita diingatkan bahwa kebanggaan tetap kebanggaan, apapun yang akan terjadi nanti.

Sorak-sorai teriakan dukungan akan senantiasa terdengar lantang dari teras-teras tribun, rapalan doa terus didengungkan hingga mendobrak batas-batas langit. PSS Sleman adalah hidup, dan hidup harus terus diperjuangkan. Tak akan gentar bermain di kasta mana pun. ORA MUNTIR!

Semangat yang sama diharapkan mampu menular ke seluruh punggawa Super Elang Jawa di musim ini untuk mengarungi kompetisi Liga 2. Tak lupa, apresiasi juga diberikan kepada manajemen tim yang masih mempertahankan staf kepelatihan dan sejumlah pemain kunci. Langkah yang sangat tepat, mengingat jadwal kompetisi tinggal beberapa bulan lagi. Agak riskan jika harus merombak keseluruhan tim.

Dan hasilnya mulai terlihat dari performa permainan di musim ini. PSS mampu bersaing dalam perebutan posisi pertama klasemen grup. Bahkan, dari semua pertandingan yang dimainkan di kandang, PSS belum pernah sekali pun menelan kekalahan. Jika menilik dari perolehan selisih gol, PSS menempati posisi pertama dari 20 tim peserta yang lain. Itu semua tidak terlepas dari pola permainan yang menjanjikan dan determinasi kuat yang ditunjukkan oleh semua pemain, sehingga asa menuju pentas sepak bola tertinggi di Indonesia masih terbuka lebar.

Rasa percaya terhadap kemampuan PSS musim ini tumbuh begitu besar, meskipun beberapa laga sempat menyisakan rasa gemas karena poin yang seharusnya bisa diamankan justru disia-siakan begitu saja. Dan semua pastinya tahu bahwa kompetisi sepak bola adalah maraton panjang. Bermain bagus saja tidaklah cukup, konsistensi dalam segala aspek juga menjadi syarat utama untuk bertahan hingga akhir.

Puncaknya, PSS Sleman mampu menempati posisi pertama di klasemen grup dan memastikan satu tiket promosi ke Super League musim depan. Hasil itu diperoleh setelah mengandaskan perlawanan PSIS Semarang dengan skor akhir 3–0 untuk kemenangan Super Elang Jawa. Bermain di hadapan 16.000 pendukung di Stadion Maguwoharjo, para pemain PSS tampil habis-habisan, bermain menyerang sejak menit pertama. Beberapa peluang emas sempat didapat, tetapi gol pembuka baru tiba di menit ke-34 melalui sontekan manis Gustavo Tocantins yang memanfaatkan umpan ciamik dari Frederic Injai.

Dukungan untuk PSS Sleman tidak hanya datang saat pertandingan berlangsung. Beberapa hari sebelumnya, ratusan suporter memadati tempat latihan Super Elang Jawa di daerah Pakembinangun, Sleman. Mereka hadir untuk memberikan dukungan moral tambahan kepada para punggawa, kemudian menutupnya dengan doa bersama.

Terlepas dari lika-liku perjalanan mengarungi liga kasta kedua musim ini, satu tiket promosi dalam genggaman adalah hadiah terbaik, khususnya untuk Kabupaten Sleman dan PSS Sleman yang akan merayakan harinya pada bulan Mei ini. Hari ini milik kita. Walaupun tidak keluar sebagai juara Liga 2, perayaan pertandingan terakhir tetap berlangsung sangat meriah. Aksi koreografi, mozaik, dan giant flag tampak mewarnai dari semua sisi tribun stadion, kemudian ditutup dengan pesta flare sesaat setelah peluit akhir dibunyikan. Kita punya cara khas untuk merayakan keberhasilan musim ini. Kali ini temanya “ONAR”. Tentu dengan pengimplementasian yang kreatif, tidak dalam bentuk kriminal atau merusak. Kita bersua dengan saudara-saudara jauh, saling berbagi "minuman" dan apa saja yang bisa dibagi. Semua punya misi yang sama yaitu menyebarkan virus-virus PSS di seluruh penjuru negeri. Merayakan sepak bola dengan suka cita, lalu tipsy setelahnya.

PSS Sleman pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada sekadar turun kasta, tetapi kita masih senantiasa kokoh berdiri, merangkul kiri-kanan, dan meneriakkan dukungan. Faktanya, setiap menjelang laga tandang, banyak dari kita yang rela berutang, menggadaikan kepunyaan, bahkan menjual barang yang mereka miliki. Meluangkan waktu, tenaga, dan materi. Semua itu dilakukan hanya demi menunjukkan bahwa PSS tidak pernah sendirian saat bermain di kota orang; kita senantiasa terus membersamai. Kita sudah terlampau cinta dengan klub ini, sampai-sampai melampaui logika berpikir manusia pada umumnya.

Bahwa ada yang lelah, biarkan mereka menepi. Regenerasi akan terus berlanjut. Cinta untuk PSS Sleman akan terus tumbuh dan menular tanpa bisa dibendung oleh siapa pun, dan tidak akan pernah bisa hilang bahkan ketika takdir coba untuk merenggutnya.

Sampai jumpa di musim berikutnya, di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kita mulai lagi, kita bersorak lagi.

Terima kasih.


Sampai kau bisa



Apr 24, 2026

Segumpal Benda lengket, dan Kenangan yang Melekat


Mungkin ada beberapa diantara kalian yang familiar dengan gambar di atas, ya betul: Slime.

Kita agaknya sepaham apabila benda ini sempat populer dari mulai kalangan anak-anak hingga remaja beberapa tahun silam. Dulu, Slime banyak diperjualbelikan di lingkungan sekolah atau di toko-toko mainan, biasanya terbungkus dalam kemasan menarik yang sukses memancing rasa penasaran para peminatnya.

Pada awalnya saya tidak begitu paham kegunaan dari benda ini, waktu itu saya mengira kalau Slime tidak lebih dari sekadar benda aneh yang menggelikan bila digenggam. Baru belakangan ini saya akhirnya mengerti bahwa benda bertekstur lembek ini rupanya punya fungsi lain: salah satu yang paling sering digunakan yaitu untuk membersihkan debu di sela-sela papan ketik laptop atau komputer. Tapi kalau mau dicari lebih dalam, manfaatnya ternyata lumayan banyak.

Bagi saya pribadi, Slime menyimpan wujud kenangannya tersendiri yang hingga detik ini masih bisa saya ingat detailnya, sebab benda ini menjadi saksi awal kedekatan saya dengan seseorang. Kalau dipikir-pikir lagi, memang agak aneh jika menghubungkan suatu kedekatan dengan sebuah benda lembek yang memiliki tekstur seperti segumpal ingus yang dicampur dengan tepung tapioka ini.

Ceritanya berawal ketika saya mulai menjalin pendekatan dengan seorang perempuan, setelah intens berkomunikasi selama beberapa bulan, ada satu momen dimana obrolan kami tiba-tiba mengarah pada pembahasan Slime ini. Saya masih ingat samar-samar, waktu itu kami beradu argumen mengenai kegunaan benda ini, mengapa saya masih ingat peristiwa itu walaupun sudah lebih dari delapan tahun silam? Sebab itu menjadi kali pertama bagi kami sedikit berdebat mempertahankan opini masing-masing mengenai, "dalam kondisi yang seperti apa, sehingga manusia membutuhkan keberadaan benda satu ini."

Kala itu, saya bersikeras bahwa tidak ada satu pun alasan rasional yang membuat seseorang perlu memiliki Slime. Sementara dia, seperti biasa, akan menjadi lawan yang gemar untuk menguji pendapat saya dengan opininya yang berseberangan. Dia beranggapan bahwa keberadaan benda lengket satu ini sedikit banyak bisa membantu, salah satunya sebagai pemberi efek relaksasi bagi tubuh. Menurut saya, itu terdengar dibuat-buat. Bagi dia, itu hal yang logis.

Selain dari visualnya yang sangat tidak eye pleasing, Sekalipun benda ini lenyap dari peredaran, dunia tidak akan kehilangan fungsinya—hidup manusia tetap akan berjalan seperti biasanya. Tapi, dengan tetap teguh pada pendiriannya, dia menyatakan bahwa kita sebagai makhluk yang selalu mencari bentuk kenyamanan, sudah barang tentu akan membutuhkan keberadaan benda ini. Dalam adu pendapat yang semakin intens tersebut, saya tetiba teringat kalau punya sepupu yang juga suka untuk bereksperimen membuat Slime dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar. Setelah sedikit banyak mendiskusikan hal tersebut, tiba-tiba ter-celetuk-lah sebaris kalimat dari bibir cantiknya itu, termanifestasikan ke dalam satu teks yang berbunyi: "boleh nggak tolong mintain sedikit ke saudaramu?" (Redaksinya tidak seratus persen sama, tapi kurang lebih intinya seperti itu)

Saya yang sedari awal memang kontra dengan eksistensi dari benda ini, tidak bergeming dengan permintaan dia. Namanya juga perempuan, dengan seluruh seni dalam caranya merayu, selalu punya jalan untuk menggoyahkan benteng pertahanan kaum pria. Dengan bersenjatakan tutur kata yang manis, dia sukses meruntuhkan pertahanan yang saya bangun dari tumpukan opini dan rasa sok logis sedari awal. Singkat cerita, saya pun berhasil mendapatkan segenggam Slime dari saudara dengan imbalan sejumlah nominal rupiah, alias dikon tuku, fak!

Debat panjang mengenai Slime ini akhirnya usai dalam satu malam saja. Dan dia, seperti yang bisa ditebak, mendapatkan apa yang diinginkannya. Soal siapa yang keluar sebagai pemenang dalam kontestasi tengkar argumen kali ini, rasanya tak perlu dipertanyakan lagi. Dia, sebagai representasi abadi dari kaum perempuan, selalu punya cara untuk unggul dalam segala hal. Sementara laki-laki, sekeras apa pun berupaya mempertahankan argumen, pada akhirnya hanya akan menjadi pihak yang mengalah. Ada satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang cukup populer untuk menggambarkan nasib laki-laki di hadapan perempuannya: “wis biasa kalah, wis biasa ngalah, wis biasa dadi sing salah.”

Keesokan harinya, pukul 6 pagi, saya sudah duduk dibangku panjang depan kelas sembari menggenggam satu kotak kecil berisi Slime yang sudah dia minta di malam sebelumnya. Lumayan lama saya menunggu di tempat itu, karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk tiba di sekolah tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Sedangkan dia, baru akan datang ketika waktu nyaris habis, atau bahkan bersamaan dengan dentang bel pertama. Dalam hal ini, bisa dinilai sendiri siapa yang paling rajin di antara kami. Untuk perkara lain, mungkin saya kerap kali kalah, tapi untuk urusan ketepatan waktu, bisa dipastikan bahwa saya menang mutlak.

Begitu melihat dia berjalan menuju ke arah kelas, saya sudah dengan posisi siap menjulurkan tangan, hendak memberikan pesanannya. Di situ kami tidak sempat berbincang banyak, karena jam masuk sudah terlalu mepet. Hanya sekadar tatapan, kami sudah cukup untuk saling mengerti isi pikiran masing-masing. Saya yakin betul akan hal itu, sebab ketika benda menjijikkan itu berpindah dari tangan saya ke tangannya, kami justru tertawa di tengah prosesi tersebut. Mungkin akan tampak aneh bagi siapa pun yang melihat tanpa tahu konteksnya.

Sedikit intermezzo agar memberi gambaran tentang karakteristik kami berdua, kami memang gemar membahas topik-topik yang random. Kami berdua tidak begitu suka membicarakan hal-hal yang membutuhkan daya pikir berat; lebih senang jika berbincang tentang perkara remeh yang bahkan terkadang tidak masuk di nalar, asal bisa memancing tawa di sela-sela obrolan, itu sudah lebih dari cukup. Andaikan saja ada orang lain yang berkesempatan membaca riwayat percakapan kami di aplikasi pesan singkat, saya yakin mereka akan tiba pada satu konklusi yang serupa, yaitu: kedua orang ini memang aneh.

Sejak kali pertama berkomunikasi dengan dia, saya langsung bisa mendapatkan klik-nya. Karena saya tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk dianggap keren atau sekadar terlihat menarik. Bersama dia, saya bisa menjadi diri sendiri saya sepenuhnya tanpa perlu dibalut dengan kepura-puraan dalam bentuk apa pun. Ada rasa nyaman yang tumbuh seiring berjalannya waktu, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sudah mengenal saya jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Dan saya cukup yakin, dia pun juga merasakan hal serupa. Kalau kalian sudah sampai di bagian ini dan mulai berpikir bahwa cara kami menjalin komunikasi terdengar janggal, yakinlah, masih banyak keanehan lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Sebab, kadar absurditas jalin interaksi antara kami berdua sudah melampaui akal manusia normal pada umumnya.

Saya tidak pernah menyangka, benda kecil yang menggelikan ini ternyata menyimpan nilai kenangan yang begitu lekat dengan seseorang. Slime sudah menjadi satu dari ribuan hal yang pernah kami ceritakan pada masa itu, masa di mana tawa kami pernah saling bersahutan tanpa perlu memikirkan beragam persoalan seperti; cicilan, tanggungan, atau hal rumit lain yang biasa dihadapi oleh kebanyakan manusia dewasa.

Kini, setiap kali melihat Slime, ingatan itu terputar kembali. Membawa saya pulang pada suatu pagi di depan ruang kelas, pada sepasang tawa yang kami tahan agar tidak memantik perhatian orang-orang di sekitar. Dan jika sedang membicarakan Slime, maka akan selalu tertuju pada satu nama.

*Saya harap tulisan ini tidak terlalu membingungkan untuk diikuti. Namun jika ada bagian yang terasa ganjil atau sulit dipahami, izinkan saya menyampaikan maaf terlebih dahulu.

Feb 16, 2026

Tempat Pulang Paling Nyaman Selain Rumah








Kampung tempat kelahiran Ayah selalu menjadi tempat pulang yang paling nyaman, selain rumah yang kini kami tinggali. Dan rasanya, selamanya akan selalu begitu. Sebagai gambaran singkat, dusun itu berada di salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung, yang jaraknya terpaut cukup jauh dari satu dusun ke dusun lain, dipisahkan oleh hamparan perkebunan, persawahan, hingga perbukitan rendah. Memang sudah menjadi karakteristik pemukiman yang berada di daerah lereng gunung yaitu menyebar, penduduknya membangun rumah secara terpisah, mencari lokasi yang landai, subur, dan dekat sumber air. Letak kondisi geografis dusun ini berbatasan langsung dengan kawasan perbukitan lereng Gunung Wilis.

Hidup di wilayah yang asri, sepi, dan teduh tentu terasa begitu menyenangkan—setidaknya jika dilihat dari kacamata generasi sekarang yang kerap jengah pada ritme hidup serba cepat. Untuk mencapai lokasi tersebut, kami harus menempuh ratusan kilometer, perjalanan sekitar empat jam melintasi beberapa kabupaten dan kota. Menjadi tempat pulang yang selalu saya rindukan setiap selepas menunaikan ibadah hari raya. Ingatan terjauh saya tentang pulang ke kampung itu mungkin samar-samar ketika masih SD, itu pun tidak begitu banyak yang bisa saya kumpulkan untuk dibagikan.

Dari bermacam peristiwa yang terjadi, paling membekas justru keseruan di usia dua belas tahun atau ke bawah, ketika momen mudik ke tempat kelahiran Ayah menjadi hal yang sudah dinantikan bahkan ketika baru memasuki awal-awal Ramadan. Berjumpa dengan sepupu-sepupu yang jarak usianya terpaut tidak begitu jauh, membuat referensi permainan masih terbilang mirip. Sesampainya di sana, berbagai macam hidangan khas sudah siap tersaji, menunggu untuk kami santap habis. Durasi menginap juga relatif lebih lama jika dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Dahulu, lama kami menetap bisa mencapai maksimal empat hari sejak keberangkatan dari rumah. Saat itu, sebagai bocah yang masih tahunya cuma main dan main, hanya mendapat jatah waktu berkunjung selama empat hari dalam setahun perjumpaan dengan keluarga jauh merupakan kenelangsaan dalam jalin ikatan darah yang terasa menyesakkan.

Sedikit informasi mengenai mengapa durasi menginap saat mudik terlihat begitu singkat, karena adanya kondisi yang memaksa harus memiliki batas seperti itu, kedua orang tua yang berprofesi sebagai ASN (yang bekerja di lingkungan rumah sakit di bawah naungan Pemerintah Provinsi) pada masa itu masih diwajibkan untuk mengikuti sistem piket, harus siap bergantian jaga dengan pegawai-pegawai yang lain, sekalipun pada musim libur lebaran atau libur panjang lainnya.

Melanjutkan cerita perjalanan ke kampung Ayah. Ketika kendaraan melintasi beberapa titik menuju ke arah dusun, Ayah kerap berbagi segelintir cerita yang pernah beliau alami bersama teman-temannya di area tersebut. Dari kejadian yang seru-seru, hingga pengalaman yang menurutnya cukup menyeramkan. Jika dilalui waktu malam hari, ruas jalan tersebut memang memiliki lampu penerangan yang minim, sehingga pengendara dituntut untuk lebih ekstra waspada. Karena badan jalan berbatasan langsung dengan jurang, sementara di sisi lain terhimpit oleh perbukitan rendah yang menekan seolah menyempitkan ruang gerak. Di sepanjang ruas jalan itu, Ayah selalu menuturkan peristiwa masyhur yang terjadi pada tahun '65, dimana banyak orang-orang yang dihilangkan nyawanya karena dianggap sebagai orang yang terafiliasi dengan partai berhaluan kiri, dan kemudian di jasadnya dibuang disekitaran jurang di area tersebut. Kisah-kisah yang diceritakan tak pernah jauh dari nuansa muram dan getir, seolah menjadi pengantar yang pas sebelum kami tiba di tempat tujuan.

Dusun tempat tujuan kami memang terbilang lebih sepi jika dibanding dengan dusun-dusun lain yang sudah kami lintasi sebelumnya, letaknya agak jauh dari jalan utama yang biasa ramai oleh lalu lalang kendaraan. Suasana dusun selepas Magrib terasa begitu hening, tenang, dan juga relatif gelap di beberapa titik. Walaupun seperti itu kondisinya, saya tetap menobatkan dusun itu sebagai tempat yang cocok digunakan untuk healing, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang bising oleh deru mesin kendaraan maupun manusianya. Banyak hal yang bisa dijelajahi. Berada di sana rasanya seperti kembali ke kehidupan yang slow, menikmati udara pagi hari dengan suhu yang bisa mencapai sekitaran 23°–25°C. Menyusuri jalanan dusun dengan kontur jalan yang naik turun, cukup untuk membakar beberapa kalori, sembari bertegur sapa dengan tetangga kiri–kanan. Di sepanjang mata memandang, kita dimanjakan dengan hamparan sawah berbentuk terasering yang sangat indah. Di sekitarnya, kita juga bisa menikmati rimbunnya perkebunan jeruk, rambutan, atau salak milik warga yang tumbuh subur.

Dahulu, di sisi halaman samping rumah, tumbuh tanaman anggur yang sengaja dirambatkan hingga membentuk semacam kanopi alami. Sulur-sulurnya menjalar di atas penyangga yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Selain buahnya bisa dipetik dan dinikmati bersama, itu juga secara tidak langsung menjadi peneduh yang bisa melindungi segala hal di bawahnya dari panas terik matahari. Sementara itu di halaman depan, tumbuh pohon rambutan yang setiap musimnya selalu dinanti. Ketika buahnya mulai memerah dan menggantung rimbun, kami tak perlu pergi jauh untuk membeli ke pedagang. Cukup dengan galah dan kesiapan mental dan fisik untuk menerima segala serangan dari semut-semut, rambutan-rambutan itu jatuh satu per satu, kemudian giliran anggota keluarga lain yang bersiap untuk mengumpulkan lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Pulang ke kampung Ayah perlahan mulai kehilangan keasyikannya sejak dari masa‐masa SMP hingga saat ini. Pasca sepeninggal nenek dan paman, juga ada saudara yang merantau ke kota lain, membuat suasana rumah menjadi sedikit agak lengang. Durasi menginap di sana pun menjadi lebih sebentar, paling lama hanya semalam menginap dan esok paginya langsung beranjak kembali pulang. Dan pernah yang paling singkat, siang tiba di sana dan setelah Asar langsung bergegas pulang. Sehingga saya merasanya momen bertemu dengan sanak saudara tidak ubahnya hanya sekadar formalitas dalam memeriahkan hari raya saja. Sedangkan makna dan esensi sebenarnya dari pulang kampung sudah berangsur-angsur memudar. Perjumpaan tidak lagi semenggairahkan seperti dahulu, tidak ada lagi kegiatan susur dusun di pagi hari, bercengkrama dengan tetangga kanan-kiri sudah sangat jarang terjadi, dan tidak ada lagi pelesir ke tempat wisata bersama kerabat-kerabat.

Kendatipun begitu, saya masih mampu mengingat serta merindukan masa-masa itu dengan utuh hingga kini. Bagi saya, kampung tempat kelahiran Ayah akan selalu menjadi rumah kedua yang paling nyaman untuk dijadikan tempat pulang. Meskipun ada sedikit yang berubah, meskipun beberapa wajah telah tiada, dan meskipun suasana tidak lagi seramai dulu. Namun, dari kehangatan yang pernah tumbuh di sana—sesederhana apa pun bentuknya—akan selamanya terpatri di dalam ingatan.