![]() |
| Kredit: official media sosial @PSSleman |
Tentu masih terpatri dengan jelas di ingatan kita semua bagaimana pedihnya melihat tim kesayangan—PSS Sleman—harus turun kasta dari kompetisi liga tertinggi sepak bola negeri ini, setahun yang lalu. Menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tidak sedikit dari kita yang menangis, sedangkan sebagian yang lain mengumpat dan meluapkan amarah dengan sumpah serapah.
Pada momen setelahnya, barulah kita teringat pada perkataan kawan kita—Tonggos Darurat—dalam aksi monolognya beberapa tahun silam, “Mosok takut degradasi, degradasi yo tinggal naik lagi, gampang tho? Sepak bola loh ini, menang-kalah yo biasa, disyukuri, Mas. Besok kalau kita turun kasta, yo naik lagi (musim) berikutnya, gitu aja. Urusan mudah itu untuk PSS Sleman.” Kalimat itu yang kemudian menampar kita, memecut untuk lebih nggetih dalam mendukung PSS. Kita diingatkan bahwa kebanggaan tetap kebanggaan, apapun yang akan terjadi nanti.
Sorak-sorai teriakan dukungan akan senantiasa terdengar lantang dari teras-teras tribun, rapalan doa terus didengungkan hingga mendobrak batas-batas langit. PSS Sleman adalah hidup, dan hidup harus terus diperjuangkan. Tak akan gentar bermain di kasta mana pun. ORA MUNTIR!
Semangat yang sama diharapkan mampu menular ke seluruh punggawa Super Elang Jawa di musim ini untuk mengarungi kompetisi Liga 2. Tak lupa, apresiasi juga diberikan kepada manajemen tim yang masih mempertahankan staf kepelatihan dan sejumlah pemain kunci. Langkah yang sangat tepat, mengingat jadwal kompetisi tinggal beberapa bulan lagi. Agak riskan jika harus merombak keseluruhan tim.
Dan hasilnya mulai terlihat dari performa permainan di musim ini. PSS mampu bersaing dalam perebutan posisi pertama klasemen grup. Bahkan, dari semua pertandingan yang dimainkan di kandang, PSS belum pernah sekali pun menelan kekalahan. Jika menilik dari perolehan selisih gol, PSS menempati posisi pertama dari 20 tim peserta yang lain. Itu semua tidak terlepas dari pola permainan yang menjanjikan dan determinasi kuat yang ditunjukkan oleh semua pemain, sehingga asa menuju pentas sepak bola tertinggi di Indonesia masih terbuka lebar.
Rasa percaya terhadap kemampuan PSS musim ini tumbuh begitu besar, meskipun beberapa laga sempat menyisakan rasa gemas karena poin yang seharusnya bisa diamankan justru disia-siakan begitu saja. Dan semua pastinya tahu bahwa kompetisi sepak bola adalah maraton panjang. Bermain bagus saja tidaklah cukup, konsistensi dalam segala aspek juga menjadi syarat utama untuk bertahan hingga akhir.
Puncaknya, PSS Sleman mampu menempati posisi pertama di klasemen grup dan memastikan satu tiket promosi ke Super League musim depan. Hasil itu diperoleh setelah mengandaskan perlawanan PSIS Semarang dengan skor akhir 3–0 untuk kemenangan Super Elang Jawa. Bermain di hadapan 16.000 pendukung di Stadion Maguwoharjo, para pemain PSS tampil habis-habisan, bermain menyerang sejak menit pertama. Beberapa peluang emas sempat didapat, tetapi gol pembuka baru tiba di menit ke-34 melalui sontekan manis Gustavo Tocantins yang memanfaatkan umpan ciamik dari Frederic Injai.
Dukungan untuk PSS Sleman tidak hanya datang saat pertandingan berlangsung. Beberapa hari sebelumnya, ratusan suporter memadati tempat latihan Super Elang Jawa di daerah Pakembinangun, Sleman. Mereka hadir untuk memberikan dukungan moral tambahan kepada para punggawa, kemudian menutupnya dengan doa bersama.
Terlepas dari lika-liku perjalanan mengarungi liga kasta kedua musim ini, satu tiket promosi dalam genggaman adalah hadiah terbaik, khususnya untuk Kabupaten Sleman dan PSS Sleman yang akan merayakan harinya pada bulan Mei ini. Hari ini milik kita. Walaupun tidak keluar sebagai juara Liga 2, perayaan pertandingan terakhir tetap berlangsung sangat meriah. Aksi koreografi, mozaik, dan giant flag tampak mewarnai dari semua sisi tribun stadion, kemudian ditutup dengan pesta flare sesaat setelah peluit akhir dibunyikan. Kita punya cara khas untuk merayakan keberhasilan musim ini. Kali ini temanya “ONAR”. Tentu dengan pengimplementasian yang kreatif, tidak dalam bentuk kriminal atau merusak. Kita bersua dengan saudara-saudara jauh, saling berbagi "minuman" dan apa saja yang bisa dibagi. Semua punya misi yang sama yaitu menyebarkan virus-virus PSS di seluruh penjuru negeri. Merayakan sepak bola dengan suka cita, lalu tipsy setelahnya.
PSS Sleman pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada sekadar turun kasta, tetapi kita masih senantiasa kokoh berdiri, merangkul kiri-kanan, dan meneriakkan dukungan. Faktanya, setiap menjelang laga tandang, banyak dari kita yang rela berutang, menggadaikan kepunyaan, bahkan menjual barang yang mereka miliki. Meluangkan waktu, tenaga, dan materi. Semua itu dilakukan hanya demi menunjukkan bahwa PSS tidak pernah sendirian saat bermain di kota orang; kita senantiasa terus membersamai. Kita sudah terlampau cinta dengan klub ini, sampai-sampai melampaui logika berpikir manusia pada umumnya.
Bahwa ada yang lelah, biarkan mereka menepi. Regenerasi akan terus berlanjut. Cinta untuk PSS Sleman akan terus tumbuh dan menular tanpa bisa dibendung oleh siapa pun, dan tidak akan pernah bisa hilang bahkan ketika takdir coba untuk merenggutnya.
Sampai jumpa di musim berikutnya, di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kita mulai lagi, kita bersorak lagi.
Terima kasih.
Sampai kau bisa
