May 23, 2026

Bunga Tidur atau Firasat?

Aku senantiasa berterimakasih kepada hippocampus-ku, karena sudah bekerja keras menjaga ingatan tentangmu untuk tetap hidup di kepalaku.

Dua malam terakhir, aku dibuat terus memikirkan satu peristiwa ganjil yang baru pertama kali kurasakan selama dua puluh enam tahun hidup sebagai manusia. Pengalaman aneh yang sampai sekarang masih tergambar jelas, nyaris tanpa ada detail yang terlewat sedikit pun.

Aku bermimpi tentang dia. Lagi. Namun, yang kali ini cukup berbeda. (sebut saja namanya Nindi)

Selama ini, kita mengenal mimpi sebagai ruang paling absurd yang terputar di dalam kepala manusia ketika tidur—tempat bagi semua hal yang tidak masuk akal kerap terjadi. Kadang bisa sangat menakutkan, di waktu yang lain bisa membingungkan, sering kali pula begitu acak, sehingga sesaat setelah terbangun, kita lupa bagaimana alur ceritanya tadi. Akan tetapi, mimpi yang kualami ini justru terasa terlalu nyata, seperti aktivitas yang sehari-hari terjadi di dunia nyata.

Ceritanya bermula pada malam kemarin lusa.

mimpi pada malam itu dimulai dengan adegan, aku pergi ke rumah Nindi untuk mengajaknya keluar jalan-jalan ke salah satu pusat pusat perbelanjaan. Kami menghabiskan waktu bersama seperti selayaknya pasangan manusia normal pada umumnya: berjalan tanpa tujuan jelas, keluar-masuk toko, menonton film horor yang sedang tanyang, saling melempar candaan receh disela-sela makan siang di KFC, lalu tertawa pada hal-hal yang mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain. Waktu terasa bergerak terlalu cepat hingga tanpa sadar matahari sudah mau tenggelam.

Ketika akhirnya kami memutuskan mengakhiri keseruan pada hari itu, tiba-tiba terlintas keinginan di kepalaku untuk mengajak Nindi mampir sebentar ke rumah.

Sesampainya kami di rumah, aku memintanya untuk menunggu sebentar di teras, sembari kuhampiri Ibu yang kebetulan saat itu sedang memasak di dapur. Aku memanggil beliau, lalu memperkenalkan Nindi dengan Ibu. Anehnya, suasana di dalam mimpi itu terasa hangat sekali. Ibu menyambutnya dengan wajah yang berbinar bahagia, lalu kami bertiga mengobrol santai di kursi depan teras. Tidak ada yang janggal pada urutan kejadian waktu itu.

Setelah dirasa puas berbincang-bincang, aku pun berpamitan kepada Ibu untuk mengantar Nindi pulang. Di sepanjang perjalanan, aku dan Nindi kembali mengulas obrolan dengan Ibu beberapa saat yang lalu. Dia mengatakan jika Ibu ternyata orangnya lebih talkative dibanding diriku yang cenderung lebih pendiam. Untuk orang yang baru pertama kali bertemu dan berkenalan, Nindi merasa nyaman mengobrol dengan Ibu, tidak ada rasa canggung dan kekakuan, katanya. Mendengar hal itu, aku hanya mengiyakan dan tidak mencoba mendebat.

Setelah sekitar setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah Nindi. Sebelum berpisah, aku berkata bahwa esok hari akan kembali menjemputnya untuk berburu ramen di tempat favorit kami.

Lalu cerita mimpi di malam pertama selesai begitu saja.

Aku terbangun pukul tiga pagi. Lalu selebihnya, hari itu berjalan selayaknya hari-hari sebelumnya. Aku beraktivitas seperti biasa, bercanda dengan teman, menjalani rutinitas seperti tidak terjadi apa-apa. Mimpi di malam itu sempat tidak kuhiraukan.

Sampai akhirnya malam berikutnya datang. Aku bermimpi tentang Nindi lagi.

Dan di sinilah terjadinya keanehan yang kumaksudkan diawal tulisan.

Mimpi di malam kedua ternyata bukan cerita baru. Ia justru melanjutkan bagian yang terputus dari malam sebelumnya. Seumur hidup, baru kali ini aku mengalami mimpi yang ceritanya bersambung—dua malam berbeda, namun masih berada dalam satu alur yang sama.

Mimpi di malam kedua dimulai. Ceritanya diawali dengan adegan ketika aku baru sampai rumah selepas mengantar Nindi pulang. Aku buru-buru menghampiri Ibu dan menanyakan first impression-nya mengenai perempuan yang baru saja kukenalkan tadi. Respons beliau tampak begitu membahagiakan, cukup untuk membuat hatiku lega. Ibu juga menambahkan pujian berupa kalimat, “Kamu pintar juga mencari pasangan.” Aku kembali berbunga-bunga mendengar hal itu.

Setelah obrolan singkat itu, aku berjalan memasuki kamar dan tertidur.

Lalu tibalah hari esok. (Ini masih cerita di dalam mimpi, ya)

Aku ketiduran seperti orang yang sedang pingsan. Belasan panggilan tak terjawab dari Nindi memenuhi hampir seluruh layar ponselku. Karena kesal menunggu terlalu lama, akhirnya Nindi memutuskan datang langsung ke rumah untuk mengonfrontasiku sebab sudah tega membiarkannya menunggu berjam-jam tanpa kepastian.

Sesampainya di rumah, dia bertemu Ibu dan mempertanyakan keberadaanku. Nindi mengadu perihal aku yang sudah berjanji akan menjemput, tetapi sampai berjam-jam kemudian masih belum datang juga. Ibu yang tidak tahu-menahu akan persoalan itu hanya menyampaikan kepada Nindi bahwa aku masih tidur di kamar, dan kemudian mempersilahkan Nindi untuk membangunkanku.

Nindi berjalan menuju kamar.

Mendekat perlahan.

Lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku.

Dan kemudian aku langsung terbangun.

Namun, bukan karena Nindi.

Melainkan karena suara Ibu di dunia nyata.

Akhirnya rangkaian mimpi itu berakhir sudah. Aku terbangun dan mendapati bahwa matahari sudah terbit.

Pagi itu, Aku duduk cukup lama di tepian tempat tidur. Masih setengah sadar, sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang baru saja terjadi. Aku merasa mimpi yang kualami barusan begitu janggal.

Sampai hari ini, aku masih mencari-cari makna di balik semua itu. Kenapa sebuah mimpi bisa bersambung di dua malam yang berbeda? Apakah orang lain pernah mengalaminya juga, selain aku? Atau sebenarnya itu hanya bentuk lain dari perasaan rinduku semata?

Karena penasaran, aku sempat membaca beberapa tulisan di internet mengenai mimpi. Ada yang mengatakan jikalau mimpi yang tidak bisa kita ingat detail peristiwanya, berarti itu dikategorikan sebagai bunga tidur. Namun bila mimpi yang dialami masih bisa diingat dengan jelas bahkan hingga dihari-hari berikutnya, sering kali hal tersebut dianggap sebagai sebuah firasat.

Entah benar atau tidak, aku sendiri belum menemukan penjelasan ilmiah yang benar-benar mampu menjawab pengalaman itu secara saintifik. Yang jelas, aku memang cukup sering bermimpi tentang Nindi. Akan tetapi, yang satu ini terlalu mendetail, jelas, dan runut.

Hingga akhirnya aku berkesimpulan sendiri: mungkin Tuhan sedang ingin menghibur hatiku yang sedang rindu, mempertemukanku dengan Nindi melalui perantara mimpi, sesuatu yang agaknya sulit terwujud di dunia nyata.

May 10, 2026

Percaya Kita Kan Rayakan, Kawan

Kredit: official media sosial @PSSleman

Tentu masih terpatri dengan jelas di ingatan kita semua bagaimana pedihnya melihat tim kesayangan—PSS Sleman—harus turun kasta dari kompetisi liga tertinggi sepak bola negeri ini, setahun yang lalu. Menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tidak sedikit dari kita yang menangis, sedangkan sebagian yang lain mengumpat dan meluapkan amarah dengan sumpah serapah.

Pada momen setelahnya, barulah kita teringat pada perkataan kawan kita—Tonggos Darurat—dalam aksi monolognya beberapa tahun silam, “Mosok takut degradasi, degradasi yo tinggal naik lagi, gampang tho? Sepak bola loh ini, menang-kalah yo biasa, disyukuri, Mas. Besok kalau kita turun kasta, yo naik lagi (musim) berikutnya, gitu aja. Urusan mudah itu untuk PSS Sleman.” Kalimat itu yang kemudian menampar kita, memecut untuk lebih nggetih dalam mendukung PSS. Kita diingatkan bahwa kebanggaan tetap kebanggaan, apapun yang akan terjadi nanti.

Sorak-sorai teriakan dukungan akan senantiasa terdengar lantang dari teras-teras tribun, rapalan doa terus didengungkan hingga mendobrak batas-batas langit. PSS Sleman adalah hidup, dan hidup harus terus diperjuangkan. Tak akan gentar bermain di kasta mana pun. ORA MUNTIR!

Semangat yang sama diharapkan mampu menular ke seluruh punggawa Super Elang Jawa di musim ini untuk mengarungi kompetisi Liga 2. Tak lupa, apresiasi juga diberikan kepada manajemen tim yang masih mempertahankan staf kepelatihan dan sejumlah pemain kunci. Langkah yang sangat tepat, mengingat jadwal kompetisi tinggal beberapa bulan lagi. Agak riskan jika harus merombak keseluruhan tim.

Dan hasilnya mulai terlihat dari performa permainan di musim ini. PSS mampu bersaing dalam perebutan posisi pertama klasemen grup. Bahkan, dari semua pertandingan yang dimainkan di kandang, PSS belum pernah sekali pun menelan kekalahan. Jika menilik dari perolehan selisih gol, PSS menempati posisi pertama dari 20 tim peserta yang lain. Itu semua tidak terlepas dari pola permainan yang menjanjikan dan determinasi kuat yang ditunjukkan oleh semua pemain, sehingga asa menuju pentas sepak bola tertinggi di Indonesia masih terbuka lebar.

Rasa percaya terhadap kemampuan PSS musim ini tumbuh begitu besar, meskipun beberapa laga sempat menyisakan rasa gemas karena poin yang seharusnya bisa diamankan justru disia-siakan begitu saja. Dan semua pastinya tahu bahwa kompetisi sepak bola adalah maraton panjang. Bermain bagus saja tidaklah cukup, konsistensi dalam segala aspek juga menjadi syarat utama untuk bertahan hingga akhir.

Puncaknya, PSS Sleman mampu menempati posisi pertama di klasemen grup dan memastikan satu tiket promosi ke Super League musim depan. Hasil itu diperoleh setelah mengandaskan perlawanan PSIS Semarang dengan skor akhir 3–0 untuk kemenangan Super Elang Jawa. Bermain di hadapan 16.000 pendukung di Stadion Maguwoharjo, para pemain PSS tampil habis-habisan, bermain menyerang sejak menit pertama. Beberapa peluang emas sempat didapat, tetapi gol pembuka baru tiba di menit ke-34 melalui sontekan manis Gustavo Tocantins yang memanfaatkan umpan ciamik dari Frederic Injai.

Dukungan untuk PSS Sleman tidak hanya datang saat pertandingan berlangsung. Beberapa hari sebelumnya, ratusan suporter memadati tempat latihan Super Elang Jawa di daerah Pakembinangun, Sleman. Mereka hadir untuk memberikan dukungan moral tambahan kepada para punggawa, kemudian menutupnya dengan doa bersama.

Terlepas dari lika-liku perjalanan mengarungi liga kasta kedua musim ini, satu tiket promosi dalam genggaman adalah hadiah terbaik, khususnya untuk Kabupaten Sleman dan PSS Sleman yang akan merayakan harinya pada bulan Mei ini. Hari ini milik kita. Walaupun tidak keluar sebagai juara Liga 2, perayaan pertandingan terakhir tetap berlangsung sangat meriah. Aksi koreografi, mozaik, dan giant flag tampak mewarnai dari semua sisi tribun stadion, kemudian ditutup dengan pesta flare sesaat setelah peluit akhir dibunyikan. Kita punya cara khas untuk merayakan keberhasilan musim ini. Kali ini temanya “ONAR”. Tentu dengan pengimplementasian yang kreatif, tidak dalam bentuk kriminal atau merusak. Kita bersua dengan saudara-saudara jauh, saling berbagi "minuman" dan apa saja yang bisa dibagi. Semua punya misi yang sama yaitu menyebarkan virus-virus PSS di seluruh penjuru negeri. Merayakan sepak bola dengan suka cita, lalu tipsy setelahnya.

PSS Sleman pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada sekadar turun kasta, tetapi kita masih senantiasa kokoh berdiri, merangkul kiri-kanan, dan meneriakkan dukungan. Faktanya, setiap menjelang laga tandang, banyak dari kita yang rela berutang, menggadaikan kepunyaan, bahkan menjual barang yang mereka miliki. Meluangkan waktu, tenaga, dan materi. Semua itu dilakukan hanya demi menunjukkan bahwa PSS tidak pernah sendirian saat bermain di kota orang; kita senantiasa terus membersamai. Kita sudah terlampau cinta dengan klub ini, sampai-sampai melampaui logika berpikir manusia pada umumnya.

Bahwa ada yang lelah, biarkan mereka menepi. Regenerasi akan terus berlanjut. Cinta untuk PSS Sleman akan terus tumbuh dan menular tanpa bisa dibendung oleh siapa pun, dan tidak akan pernah bisa hilang bahkan ketika takdir coba untuk merenggutnya.

Sampai jumpa di musim berikutnya, di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kita mulai lagi, kita bersorak lagi.

Terima kasih.


Sampai kau bisa