Showing posts with label Ceritanya mau bercerita. Show all posts
Showing posts with label Ceritanya mau bercerita. Show all posts

Apr 24, 2026

Segumpal Benda lengket, dan Kenangan yang Melekat


Mungkin ada beberapa diantara kalian yang familiar dengan gambar di atas, ya betul: Slime.

Kita agaknya sepaham apabila benda ini sempat populer dari mulai kalangan anak-anak hingga remaja beberapa tahun silam. Dulu, Slime banyak diperjualbelikan di lingkungan sekolah atau di toko-toko mainan, biasanya terbungkus dalam kemasan menarik yang sukses memancing rasa penasaran para peminatnya.

Pada awalnya saya tidak begitu paham kegunaan dari benda ini, waktu itu saya mengira kalau Slime tidak lebih dari sekadar benda aneh yang menggelikan bila digenggam. Baru belakangan ini saya akhirnya mengerti bahwa benda bertekstur lembek ini rupanya punya fungsi lain: salah satu yang paling sering digunakan yaitu untuk membersihkan debu di sela-sela papan ketik laptop atau komputer. Tapi kalau mau dicari lebih dalam, manfaatnya ternyata lumayan banyak.

Bagi saya pribadi, Slime menyimpan wujud kenangannya tersendiri yang hingga detik ini masih bisa saya ingat detailnya, sebab benda ini menjadi saksi awal kedekatan saya dengan seseorang. Kalau dipikir-pikir lagi, memang agak aneh jika menghubungkan suatu kedekatan dengan sebuah benda lembek yang memiliki tekstur seperti segumpal ingus yang dicampur dengan tepung tapioka ini.

Ceritanya berawal ketika saya mulai menjalin pendekatan dengan seorang perempuan, setelah intens berkomunikasi selama beberapa bulan, ada satu momen dimana obrolan kami tiba-tiba mengarah pada pembahasan Slime ini. Saya masih ingat samar-samar, waktu itu kami beradu argumen mengenai kegunaan benda ini, mengapa saya masih ingat peristiwa itu walaupun sudah lebih dari delapan tahun silam? Sebab itu menjadi kali pertama bagi kami sedikit berdebat mempertahankan opini masing-masing mengenai, "dalam kondisi yang seperti apa, sehingga manusia membutuhkan keberadaan benda satu ini."

Kala itu, saya bersikeras bahwa tidak ada satu pun alasan rasional yang membuat seseorang perlu memiliki Slime. Sementara dia, seperti biasa, akan menjadi lawan yang gemar untuk menguji pendapat saya dengan opininya yang berseberangan. Dia beranggapan bahwa keberadaan benda lengket satu ini sedikit banyak bisa membantu, salah satunya sebagai pemberi efek relaksasi bagi tubuh. Menurut saya, itu terdengar dibuat-buat. Bagi dia, itu hal yang logis.

Selain dari visualnya yang sangat tidak eye pleasing, Sekalipun benda ini lenyap dari peredaran, dunia tidak akan kehilangan fungsinya—hidup manusia tetap akan berjalan seperti biasanya. Tapi, dengan tetap teguh pada pendiriannya, dia menyatakan bahwa kita sebagai makhluk yang selalu mencari bentuk kenyamanan, sudah barang tentu akan membutuhkan keberadaan benda ini. Dalam adu pendapat yang semakin intens tersebut, saya tetiba teringat kalau punya sepupu yang juga suka untuk bereksperimen membuat Slime dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar. Setelah sedikit banyak mendiskusikan hal tersebut, tiba-tiba ter-celetuk-lah sebaris kalimat dari bibir cantiknya itu, termanifestasikan ke dalam satu teks yang berbunyi: "boleh nggak tolong mintain sedikit ke saudaramu?" (Redaksinya tidak seratus persen sama, tapi kurang lebih intinya seperti itu)

Saya yang sedari awal memang kontra dengan eksistensi dari benda ini, tidak bergeming dengan permintaan dia. Namanya juga perempuan, dengan seluruh seni dalam caranya merayu, selalu punya jalan untuk menggoyahkan benteng pertahanan kaum pria. Dengan bersenjatakan tutur kata yang manis, dia sukses meruntuhkan pertahanan yang saya bangun dari tumpukan opini dan rasa sok logis sedari awal. Singkat cerita, saya pun berhasil mendapatkan segenggam Slime dari saudara dengan imbalan sejumlah nominal rupiah, alias dikon tuku, fak!

Debat panjang mengenai Slime ini akhirnya usai dalam satu malam saja. Dan dia, seperti yang bisa ditebak, mendapatkan apa yang diinginkannya. Soal siapa yang keluar sebagai pemenang dalam kontestasi tengkar argumen kali ini, rasanya tak perlu dipertanyakan lagi. Dia, sebagai representasi abadi dari kaum perempuan, selalu punya cara untuk unggul dalam segala hal. Sementara laki-laki, sekeras apa pun berupaya mempertahankan argumen, pada akhirnya hanya akan menjadi pihak yang mengalah. Ada satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang cukup populer untuk menggambarkan nasib laki-laki di hadapan perempuannya: “wis biasa kalah, wis biasa ngalah, wis biasa dadi sing salah.”

Keesokan harinya, pukul 6 pagi, saya sudah duduk dibangku panjang depan kelas sembari menggenggam satu kotak kecil berisi Slime yang sudah dia minta di malam sebelumnya. Lumayan lama saya menunggu di tempat itu, karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk tiba di sekolah tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Sedangkan dia, baru akan datang ketika waktu nyaris habis, atau bahkan bersamaan dengan dentang bel pertama. Dalam hal ini, bisa dinilai sendiri siapa yang paling rajin di antara kami. Untuk perkara lain, mungkin saya kerap kali kalah, tapi untuk urusan ketepatan waktu, bisa dipastikan bahwa saya menang mutlak.

Begitu melihat dia berjalan menuju ke arah kelas, saya sudah dengan posisi siap menjulurkan tangan, hendak memberikan pesanannya. Di situ kami tidak sempat berbincang banyak, karena jam masuk sudah terlalu mepet. Hanya sekadar tatapan, kami sudah cukup untuk saling mengerti isi pikiran masing-masing. Saya yakin betul akan hal itu, sebab ketika benda menjijikkan itu berpindah dari tangan saya ke tangannya, kami justru tertawa di tengah prosesi tersebut. Mungkin akan tampak aneh bagi siapa pun yang melihat tanpa tahu konteksnya.

Sedikit intermezzo agar memberi gambaran tentang karakteristik kami berdua, kami memang gemar membahas topik-topik yang random. Kami berdua tidak begitu suka membicarakan hal-hal yang membutuhkan daya pikir berat; lebih senang jika berbincang tentang perkara remeh yang bahkan terkadang tidak masuk di nalar, asal bisa memancing tawa di sela-sela obrolan, itu sudah lebih dari cukup. Andaikan saja ada orang lain yang berkesempatan membaca riwayat percakapan kami di aplikasi pesan singkat, saya yakin mereka akan tiba pada satu konklusi yang serupa, yaitu: kedua orang ini memang aneh.

Sejak kali pertama berkomunikasi dengan dia, saya langsung bisa mendapatkan klik-nya. Karena saya tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk dianggap keren atau sekadar terlihat menarik. Bersama dia, saya bisa menjadi diri sendiri saya sepenuhnya tanpa perlu dibalut dengan kepura-puraan dalam bentuk apa pun. Ada rasa nyaman yang tumbuh seiring berjalannya waktu, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sudah mengenal saya jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Dan saya cukup yakin, dia pun juga merasakan hal serupa. Kalau kalian sudah sampai di bagian ini dan mulai berpikir bahwa cara kami menjalin komunikasi terdengar janggal, yakinlah, masih banyak keanehan lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Sebab, kadar absurditas jalin interaksi antara kami berdua sudah melampaui akal manusia normal pada umumnya.

Saya tidak pernah menyangka, benda kecil yang menggelikan ini ternyata menyimpan nilai kenangan yang begitu lekat dengan seseorang. Slime sudah menjadi satu dari ribuan hal yang pernah kami ceritakan pada masa itu, masa di mana tawa kami pernah saling bersahutan tanpa perlu memikirkan beragam persoalan seperti; cicilan, tanggungan, atau hal rumit lain yang biasa dihadapi oleh kebanyakan manusia dewasa.

Kini, setiap kali melihat Slime, ingatan itu terputar kembali. Membawa saya pulang pada suatu pagi di depan ruang kelas, pada sepasang tawa yang kami tahan agar tidak memantik perhatian orang-orang di sekitar. Dan jika sedang membicarakan Slime, maka akan selalu tertuju pada satu nama.

*Saya harap tulisan ini tidak terlalu membingungkan untuk diikuti. Namun jika ada bagian yang terasa ganjil atau sulit dipahami, izinkan saya menyampaikan maaf terlebih dahulu.

Aug 13, 2023

Tentang Seseorang yang Disimpan Waktu

      

this image is generated with AI
Life is too short, talk to your crush.

      Di sebuah kota yang hiruk-pikuknya tak pernah benar-benar tidur, Rafa duduk di tepi ranjangnya, menghela napas panjang sambil menatap satu lembar undangan yang baru saja dapatkan dari seorang teman. Satu nama tertulis di sana, seorang kawan lama yang hendak melangsungkan pernikahan, memasuki babak baru sebagai sepasang suami-istri. Di samping itu, yang membuat Rafa terkejut adalah kabar bahwa Clara, seorang perempuan yang ternyata masih hidup di hatinya, teryata juga turut hadir dalam acara itu. Selepas acara perpisahan sekolah, keduanya menjadi jarang bertemu. Meskipun dahulu mereka hidup dalam satu kelas yang sama.

    Sudah lima tahun sejak terakhir kali keduanya saling bertatap muka. Walaupun kampus tempat mereka menimba ilmu berada di kota yang sama, tapi takdir seolah enggan untuk membiarkan mereka bertemu, dalam ketidaksengajaan sekalipun. Rafa menyimpan Clara tanpa seorang pun yang mengetahui: foto-foto lama, rekaman tawa dari masa sekolah, dan semua kenangan tentang Clara yang masih bisa ia ingat setiap detailnya.

    Saat hari acara tiba, Rafa sudah bersiap dengan penampilannya. Rambutnya dipangkas bersih rapi, mengenakan atasan batik warna merah marun andalannya, dipadupadankan dengan bawahan celana bahan berwarna biru dongker, tidak lupa juga sepasang sneakers putih yang baru dibeli minggu kemarin. Tujuannya hanya satu, ia tidak ingin terlihat lusuh ketika bertemu dengan Clara.

    Sesampainya Rafa di lokasi, terlihat bahwa pesta pernikahan cukup ramai oleh tamu undangan. Banyak wajah yang dikenalinya, sebagian memantik kembali ingatan-ingatan di masa sekolah, dan sebagian lainnya hanya bayang samar dari masa lalu. Namun, sedari awal, Rafa hanya ingin mencari satu sosok. Dan ketika matanya menangkap Clara dari kejauhan yang mengenakan dress biru muda sederhana, Rafa tahu bahwa segalanya tidak banyak berubah. Senyum itu masih mampu merobohkan dunianya dalam sekejap, sama seperti waktu dulu.

    Ketika akhirnya bertegur sapa, juga bersama dengan teman-teman yang lain, mereka berdua sempat berbincang-bincang sejenak. Obrolan template orang yang sudah tidak lama bertemu; mulai dari membahas tentang pekerjaan, tempat tinggal saat ini, atau update perihal kehidupan pribadi masing-masing. Namun, dari semua tajuk yang mereka perbincangkan, tidak ada yang benar-benar mau memulai membicarakan luka. Tak satu pun dari mereka menyebut tentang “dulu”, atau alasan mengapa setelah lulus mereka tak lagi mencoba saling menemukan satu sama lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Clara.

“Masih sama aja kayak dulu, masih konyol, kadang juga masih sering ceroboh,” jawab Rafa, “Masih sama seperti yang terakhir kali kita bertemu, tidak ada yang berubah begitu drastis.”  Tambahnya. 

     Mendengar jawaban itu, Clara pun tersenyum, lalu ia coba mengalihkan pandangannya sejenak, seolah berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Di sekeliling mereka, musik mengalun, lagu-lagu hits dimainkan oleh band pengiring, gelak tawa bersahutan dari berbagai sudut venue, dan sorak-sorai kebahagiaan sedang dirayakan. Di antara keriuhan yang tercipta pada acara tersebut, ada jeda panjang yang tak bisa disela dengan tawa ringan yang menghinggapi antara Rafa dan Clara.

      Tak terasa hari pun mulai menggelap, pesta pun akan segera usai. Rafa menatap Clara untuk yang terakhir kali sebelum keduanya akan berpisah, dan tak tahu kapan akan bertemu kembali. “Andai aku diijinkan untuk berharap,” kata Rafa perlahan, “Rasa-rasanya aku tidak meminta banyak hal, cukup satu percakapan seperti ini, tapi yang tak buru-buru disudahi.”

     Clara menatapnya sekali lagi, kemudian membalas. “Kita bisa berharap akan semua hal, Raf. Tapi harus disadari juga, kalau tidak semua pengharapan kita akan terwujud, dan kita harus tidak apa-apa akan kenyataan itu.”

    Kemudian Clara pun berpamitan kepada Rafa, dan berjalan menjauh di antara lampu-lampu temaram dan nyanyian perpisahan yang sedang dilantukan. Rafa hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang, sama seperti waktu dulu saat mereka merayakan kelulusan, saling berpamitan tanpa sempat benar-benar mengucap “selamat tinggal”.

      Malam itu Rafa pulang dengan hati yang sesak, tapi disisi lain ada ketenangan yang mengiringinya. Meskipun ada luka yang masih belum pulih, tapi ia tak lagi bertanya mengapa. Kadang, pertemuan tidak ditakdirkan untuk berujung pada kebersamaan. Tapi cukup untuk mengingatkan, bahwa pernah ada seseorang yang membuat hatinya percaya bahwa cinta, sekadar hadir saja, sudah cukup untuk dikenang seumur hidup.

Feb 10, 2018

Harapan yang Menghilang Karena Seonggok Boneka Beruang

    

this image is generated with AI
Loro ati kan? Salah e tulus.

Di sebuah Sekolah Menengah Atas yang bertempat di pinggiran kota, Brian dikenal sebagai siswa yang pendiam. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, kecuali saat menjawab pertanyaan guru atau mengangguk pada sapaan teman. Namun, dibalik tidak banyak omongnya itu, ia senantiasa menyimpan peruntungan yang tidak seorang pun yang tahu: bahwa dia memiliki ketertarikan pada seorang perempuan, teman sekelasnya. Brian selalu menggambarkannya sebagai sosok ceria yang senyumnya bisa memantik semangat bahkan di pagi mendung yang terasa kelewat lengang.

Perkenalan mereka tidak berawal dari kisah yang memantik perhatian di sekelilingnya. Jalin perkenalan yang terjadi justru dimulai dari hanya saling meminjam alat tulis, kemudian berlanjut dengan bertukar cerita melalui aplikasi pesan singkat LINE atau WhatsApp. Namanya Claudia, seorang perempuan yang mampu membuncah-kan rasa kagum Brian hanya dengan perhatian-perhatian sederhana yang terasa cukup spesial. Selepas perkenalan dan kedekatan itu terjadi, hari-hari Brian terasa lebih berwarna. Ia yang biasanya menjauh dari keramaian dan lebih memilih untuk duduk sendiri di pojok kantin, kini lebih sering untuk berbagi bangku dengan Claudia, sesekali mereka menyeruput teh poci sambil membicarakan ihwal remeh yang justru terasa elok.

Kebiasaan itu menjadi semacam tajuk utama dalam keseharian Brian. Dia pun mendapati dirinya sedang menyukai Claudia, meskipun ia tak pernah berani menggadai egonya dengan sebuah pernyataan secara terbuka kepada Claudia. Namun bila dilihat dari caranya memandang, dari barisan waktu yang ia dompleng-kan untuk selalu punya kesempatan untuk dekat dengan Claudia. Semuanya dapat dimaknai sebagai bentuk testimoni yang lebih kuat dari sekadar ejaan untaian puja.

Kisah itu menemukan jejasnya pada suatu siang selepas ujian akhir semester gasal. Brian duduk sendiri di warung kantin langganannya, berusaha untuk menenangkan diri selepas adu kelahi dengan soal Geografi dan Matematika yang membuat kepalanya terasa sesak. Segelas es teh poci yang ia teguk ternyata hanya mampu sedikit meredakan rasa kelu. Terlalu asyik duduk santai ditambah sepoi-sepoi angin yang menerpa, sehingga ia tidak sadar bahwa matahari mulai agak condong ke barat.

Ketika dia kembali ke kelasnya, pintu yang terbuka memperlihatkan pemandangan yang membuatnya terkesiap. Di dalam ruangan yang sudah lengang itu, terlihat seorang siswa dari kelas lain tengah berlutut di hadapan Claudia, sembari memboyong sebuah boneka beruang besar sebagai bentuk penanda rasa. Dunia Brian seolah membeku, arus pikirannya terhenti, ia tak tahu harus berekspresi seperti apa. Dengan suara yang cukup pelan, ia pun mengucapkan permintaan maaf karena merasa telah mengganggu momen tersebut, kemudian bergegas mengemasi barang-barangnya dan segera beranjak keluar. Tapak jejaknya ketika meninggalkan tempat itu terlihat begitu berat, seolah setiap langkah adalah runtuhan puing yang mengganjal di relung hatinya.

Hari-hari setelah peristiwa tersebut pun diliputi keheningan di antara mereka berdua. Tidak ada lagi senyum yang saling bertautan di sepanjang koridor sekolah. Tidak ada lagi obrolan ringan yang meromantisasi seperti saat berada di kantin. Mereka serupa dua orang yang pernah membangun khazanah kecil kebersamaan, lalu kembali menjadi asing. Brian tidak pernah menanyakan, Claudia tidak pernah menjelaskan. Hening itu menjadi jeda pasca peristiwa, seolah takdir merangkai rekayasa yang kafah untuk membuat keduanya berjarak.

Namun, setiap peradaban kecil yang pernah terbentuk di dalam hati, punya cara tersendiri untuk rampung. Brian pun belajar menerima. Bahwa tidak semua kesukaan harus mendapat validasi dalam bentuk kepemilikan. Bahwa kebersamaan kadang hanya jejak sesaat, meskipun sesak ketika diingat, tetapi tetap relevan sebagai bagian dari kilas balik hidup.

Dan jika suatu saat ada yang bertanya padanya tentang apa yang pernah membuat hidupnya terasa berarti, Brian akan menjawab dengan lugas, "Waktu itu, saat aku duduk di kantin, menyeruput segelas teh poci, mendengar Claudia bercerita, kemudian tertawa bersama, lepas."