Kampung tempat kelahiran Ayah selalu menjadi tempat pulang yang paling nyaman, selain rumah yang kini kami tinggali. Dan rasanya, selamanya akan selalu begitu. Sebagai gambaran singkat, dusun itu berada di salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung, yang jaraknya terpaut cukup jauh dari satu dusun ke dusun lain, dipisahkan oleh hamparan perkebunan, persawahan, hingga perbukitan rendah. Memang sudah menjadi karakteristik pemukiman yang berada di daerah lereng gunung yaitu menyebar, penduduknya membangun rumah secara terpisah, mencari lokasi yang landai, subur, dan dekat sumber air. Letak kondisi geografis dusun ini berbatasan langsung dengan kawasan perbukitan lereng Gunung Wilis.
Hidup di wilayah yang asri, sepi, dan teduh tentu terasa begitu menyenangkan—setidaknya jika dilihat dari kacamata generasi sekarang yang kerap jengah pada ritme hidup serba cepat. Untuk mencapai lokasi tersebut, kami harus menempuh ratusan kilometer, perjalanan sekitar empat jam melintasi beberapa kabupaten dan kota. Menjadi tempat pulang yang selalu saya rindukan setiap selepas menunaikan ibadah hari raya. Ingatan terjauh saya tentang pulang ke kampung itu mungkin samar-samar ketika masih SD, itu pun tidak begitu banyak yang bisa saya kumpulkan untuk diceritakan. Yang paling mudah diingat mungkin sekitar SMP, SMA, hingga sekarang.
Namun, yang paling membekas justru keseruan di usia dua belas tahun atau ke bawah, ketika momen mudik ke kampung Ayah menjadi hal yang sudah dinantikan bahkan ketika baru memasuki awal-awal Ramadan. Berjumpa dengan sepupu-sepupu yang jarak usianya terpaut tidak begitu jauh, membuat referensi permainan masih terbilang mirip. Sesampainya di sana, berbagai macam hidangan khas sudah siap tersaji, menunggu untuk kami habiskan. Durasi menginap di sana juga relatif lebih lama jika dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Dahulu, lama kami menetap bisa mencapai maksimal 4 hari sejak keberangkatan dari rumah. Saat itu, sebagai bocah yang masih tahunya cuma main dan main, hanya mendapat jatah waktu berkunjung selama empat hari dalam setahun perjumpaan dengan keluarga jauh merupakan kenelangsaan dalam jalin ikatan darah yang terasa menyesakkan.
Sedikit informasi mengenai mengapa durasi menginap saat mudik terlihat begitu singkat, karena adanya kondisi yang memaksa harus memiliki batas seperti itu, kedua orang tua yang berprofesi sebagai ASN (yang bekerja di lingkungan rumah sakit di bawah naungan Pemerintah Provinsi) pada masa itu masih diwajibkan untuk mengikuti sistem piket, harus siap bergantian jaga dengan pegawai-pegawai yang lain, sekalipun pada musim libur lebaran atau libur panjang lainnya.
Melanjutkan cerita perjalanan ke kampung Ayah. Ketika kendaraan melintasi beberapa area menuju ke arah dusun, Ayah kerap berbagi segelintir cerita yang pernah beliau alami bersama teman-temannya di area tersebut. Dari peristiwa yang seru-seru, hingga pengalaman yang menurutnya cukup menyeramkan. Jika dilalui waktu malam hari, ruas jalan tersebut memang memiliki lampu penerangan yang minim, sehingga pengendara dituntut untuk lebih ekstra waspada. Karena badan jalan berbatasan langsung dengan jurang, sementara di sisi lain terhimpit oleh perbukitan rendah yang menekan seolah menyempitkan ruang gerak. Di sepanjang ruas jalan itu, Ayah selalu menuturkan peristiwa masyhur yang terjadi pada tahun '65, dimana banyak orang-orang yang dihilangkan nyawanya dan kemudian di jasadnya dibuang disekitaran jurang tersebut. Kisah- kisah yang diceritakan tak pernah jauh dari nuansa muram dan getir, seolah menjadi pengantar yang pas sebelum kami tiba di tempat tujuan.
Dusun tempat lahir Ayah terbilang cukup sepi jika dibanding dengan dusun-dusun lain yang sudah kami lintasi sebelumnya, letaknya jauh dari jalan utama yang biasa ramai oleh lalu lalang kendaraan. Suasana dusun selepas Magrib terasa begitu hening, tenang, dan relatif gelap di beberapa titik. Walaupun begitu, saya tetap menobatkan dusun itu sebagai tempat yang cocok digunakan untuk healing, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Banyak hal yang bisa dijelajahi. Berada di sana rasanya seperti kembali ke kehidupan yang slow, menikmati udara pagi hari dengan suhu yang bisa mencapai sekitaran 23°–25°C. Menyusuri jalanan dusun dengan kontur jalan yang naik turun, cukup untuk membakar beberapa kalori, sembari bertegur sapa dengan tetangga kiri–kanan. Di sepanjang mata memandang, kita dimanjakan dengan hamparan sawah berbentuk terasering yang sangat indah. Di sekitarnya, kita juga bisa menikmati rimbunnya perkebunan jeruk, rambutan, atau salak milik warga yang tumbuh subur.
Dahulu, di sisi halaman samping rumah, tumbuh tanaman anggur yang sengaja kami rambatkan hingga membentuk semacam kanopi alami. Sulur-sulurnya menjalar di atas penyangga yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Selain buahnya bisa dipetik dan dinikmati bersama, ia juga menjadi peneduh yang bisa melindungi segala hal di bawahnya dari panas terik matahari. Sementara itu di halaman depan, berdiri pohon rambutan yang setiap musimnya selalu dinanti. Ketika buahnya mulai memerah dan menggantung rimbun, kami tak perlu pergi jauh untuk membeli ke pedagang. Cukup dengan galah dan kesiapan mental dan fisik untuk menerima segala serangan dari semut-semut, rambutan-rambutan itu jatuh satu per satu, anggota keluarga yang lain sudah bersiap untuk memasukkannya ke dalam kantong plastik.
Pulang ke kampung Ayah perlahan mulai kehilangan keasyikannya sejak masa‐masa SMP hingga saat ini. Pasca sepeninggal nenek dan paman, juga ada saudara yang merantau ke kota lain, membuat suasana rumah menjadi sedikit agak lengang. Durasi menginap di sana pun menjadi lebih sebentar, paling lama hanya semalam menginap dan esok paginya langsung beranjak kembali pulang. Dan yang paling singkat, siang tiba di sana dan setelah Asar langsung bergegas pulang. Sehingga saya merasanya momen bertemu dengan keluarga jauh tidak ubahnya hanya sekadar formalitas dalam memeriahkan hari raya saja. Sedangkan makna dan esensi sebenarnya dari pulang kampung sudah berangsur-angsur memudar. Perjumpaan tidak lagi semenggairahkan seperti dahulu, tidak ada lagi kegiatan susur dusun di pagi hari, tidak ada lagi saling bercengkrama dengan tetangga kanan-kiri, tidak ada lagi pelesir ke tempat wisata bersama sanak saudara.
Kendatipun begitu, saya masih mampu mengingat serta merindukan masa-masa itu dengan utuh hingga kini. Bagi saya, kampung tempat kelahiran Ayah akan selalu menjadi rumah kedua yang paling nyaman untuk dijadikan tempat pulang. Meskipun ada sedikit yang berubah, meskipun beberapa wajah telah tiada, dan meskipun suasana tidak lagi seramai dulu. Namun, dari kehangatan yang pernah tumbuh di sana—sesederhana apa pun bentuknya—akan selamanya tersimpan dalam ingatan.









