Sep 26, 2026

Berusaha Untuk Menyempatkan, Walau Sak Klumit.

Kita mestinya setuju apabila seiring bertambahnya usia, pasti juga selaras dengan beban tanggung jawab yang kian membanyak. Sehingga, menyisihkan waktu guna berkumpul bersama kawan-kawan mulai terasa tidak lagi relevan untuk diwujudkan, dan itu bisa dimaklumi. Ketika waktu senggang yang kita punya semakin sedikit—di tengah hiruk-pikuk menjalani kehidupan sebagai orang dewasa—maka kesempatan tersebut akan lebih baik bila dipergunakan untuk istirahat. Lantas, memutuskan untuk berkumpul dan ngoceh ngalor-ngidul hingga larut malam nampaknya bukanlah pilihan yang bijak untuk dikerjakan.

Belum lagi jika kebagian jatah lembur untuk menyelesaikan tenggat tugas yang harus cepat-cepat dituntaskan, pasti energi yang tersisa di ujung minggu sudah tinggal sedikit sekali. Pada titik tertentu, leyeh-leyeh di rumah sambil memulihkan tenaga guna menghadapi pekan selanjutnya memang terasa jauh lebih masuk akal ketimbang harus kembali keluar hanya untuk duduk berlama-lama.

Akan tetapi, sesekali ketika ada ajakan nongkrong dari sobat, boleh lah dipertimbangkan untuk ikut serta, toh tidak sesering itu juga. Sebagai manusia yang otaknya sudah berkembang sempurna, kita tentunya mafhum bahwa setiap individu memiliki skala prioritas yang berbeda-beda, tapi mbok ya... masa tidak bisa menyempatkan sedikit waktu—barang beberapa jam—untuk bertukar kabar, update perihal kehidupan, atau sekadar ngobrol ndakik-ndakik di satu tempat yang sudah disepakati?

Semisal memang tempat menetap saat ini sudah berjauh-jauhan, masih bisa dimaklumi jika tidak bisa turut hadir. Tapi kalau tempat tinggal saat ini masih berada di satu kota yang sama, ditambah lokasi untuk bertemu pun sudah disesuaikan dengan jarak tempuh masing-masing, kok ya masih alpa juga.

Padahal, salah satu fungsi memiliki tongkrongan bersama lingkar kawan terpercaya—selain menjadi tempat sambat dan nesu-nesu—adalah sebagai filter kalau misalnya ada tindak tanduk atau pernyataanmu yang wagu dan berpotensi mengundang konflik jika disampaikan ke ruang publik. Di situ, akan ada orang-orang yang walau omongannya sendiri kadang ramashok, tapi bisa memberi sedikit input-input yang boleh jadi bisa menyelamatkanmu dari kemungkinan mendapat masalah.

Keunggulan lain dari kegiatan srawung, yaitu ketika kondisi diri sedang kalut karena berbagai ragam persoalan, misuh-misuh atau meluapkan keluh kesah pada saat nongkrong bisa menjadi solusi alternatif yang murah. Bahkan tidak jarang juga muncul jalan keluar atas kesulitan yang sedang dihadapi. Walaupun, memang harus diakui, porsi kementhus-nya sering kali jauh lebih besar daripada bagian seriusnya.

Di setiap periode perjumpaan, tipe obrolan yang timbul senantiasa beragam tajuknya. Hampir selalu ada pembaruan informasi yang sebelumnya tidak pernah terdengar. Ada saja satu-dua peristiwa masa lalu yang sebenarnya pernah terjadi, namun luput dari perhatian dan baru terungkap pada saat perjumpaan itu berlangsung. Rasanya seperti setiap individu saling memberi potongan informasi untuk melengkapi gambaran utuh tentang kejadian sesungguhnya. Porsi pembahasan tempo dulu sering mendapatkan bagian paling besar untuk diulas dari berbagai jenis topik obrolan yang coba dilempar di meja pertemuan.

Ketika pertemuan berlangsung, tiap orang pasti memiliki perannya sendiri-sendiri: ada yang sepanjang obrolan berusaha untuk tetap serius; beberapa memilih pasif dan lebih banyak mendengarkan; pasti ada yang hobinya nyenggak omongan dari yang lain; ada juga yang kerap jadi sasaran tuduh atas perilaku tidak terpuji; satu-dua orang kelihatan jarang berbicara, tapi sekalinya berseloroh, kata-kata yang dituturkan seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama alias ngawure Naudzubillah.

Namun, yang paling krusial justru peran orang yang senantiasa berusaha untuk memberikan iklim positif dengan terus-menerus menyapu omongan tidak pantas dari individu-individu yang cangkeme bosok—dan mungkin ini lah peran yang konsisten saya ambil dalam berbagai kesempatan. Saya cukup aktif untuk mengimbangi agar arah diskusi masih di tahap aman dan tidak terlalu serampangan. Sesekali, saya juga mengingatkan ketika ada diksi-diksi kurang pantas terlontar, utamanya ketika lokasi kumpul berada di area umum.

Dalam sebuah perkumpulan, pasti ada tipe-tipe teman yang kebiasaannya suka ngentah-i omongan dari kawan yang sedang menginisiasi giat temu. Dan hampir bisa dipastikan jika orang-orang tersebut sudah dipersatukan dalam sebuah pertemuan, kalimat-kalimat yang dilontarkan tidak jauh dari perkara-perkara saru, vulgar, dan sensitif.

Jenis-jenis percakapan semacam itu yang wajib dan harus berhenti cukup di tongkrongan saja. Sebab ketika berlanjut atau diteruskan hingga ranah media sosial, potensi untuk kena hujat, cancel, atau paido mesti semakin besar.

Terlepas dari itu semua, jika ada satu hal yang dirasa paling menantang dari seluruh tahapan menuju sebuah perjumpaan, barangkali proses memantik rundingan di grup WhatsApp menjadi jawabannya. Mengingat saat ini grup hanya aktif ketika ada kabar lelayu atau undangan pernikahan. Seorang inisiator harus punya hati yang lebih lapang, karena potensi untuk tidak dihiraukan lebih besar daripada mendapat sambutan hangat. Sebab sekarang-sekarang ini, tanggapan dalam bentuk stiker/react emoji lebih digemari dari pada respons dalam bentuk teks/kalimat.

Belum lagi ketika harus berurusan dengan satu-dua orang yang di awal katanya mau support saat ada yang mulai membuka keran diskusi, tapi kenyataannya malah ngrecohi dengan kalimat-kalimat yang acap kali membuat mental sedikit goyah. Ke-alpa-an mayoritas anggota yang kurang responsif terhadap rencana yang ditawarkan juga menjadi alasan utama mengapa agenda bertemu kadang batal terlaksana.

Cukup bisa dipahami jika makin ke sini sudah tidak ada lagi yang bersedia diberi mandat untuk menjadi inisiator. Sekarang, lebih seringnya malah nge-reach satu per satu melalui personal chat kepada orang-orang yang dianggap luwes, terlihat longgar, dan kemungkinan besar selalu mengiyakan bila diajak. Maka dari itu, angkat topi buat orang-orang yang masih terus mau meluangkan waktu untuk mengatur jadwal temu dari berbagai kesibukan teman-teman yang lain, tetap optimis untuk menjaga tali silaturahmi agar tidak terputus.

Kendatipun sekarang-sekarang dilanda pelbagai kesibukan, namun ketika ada ajakan kumpul dan kebetulan berhalangan untuk hadir, sedapat mungkin menawarkan opsi tanggal pengganti untuk bisa dipertimbangkan. Sebab pada dasarnya saya memiliki prinsip, “friendship number one, finansial isoh dipikir karo mlaku.” Oleh karena itu, selalu berusaha untuk menyenggangkan meskipun barang sebentar.

Jul 18, 2026

Merayakan Satu Dekade Pertemuan

    

this image is generated with AI
Seperti sebaris syair dari MCR, "The hardest part of this is leaving you"

Entah mengapa, peristiwa-peristiwa yang terbentuk di masa sekolah masih kerap menampakkan dirinya secara utuh dalam layar memori yang tersimpan rapi di hippocampus-ku. Pada sebagian orang jika disuruh mengingat tentang masa sekolah; mungkin yang pertama kali muncul hanya sebatas tempat menimba ilmu semata, atau juga tentang mengisi LKS (Lembar Kerja Siswa), mengerjakan soal ujian, atau memupuk nilai akademis untuk mendongkrak peruntungan di level pendidikan selanjutnya. 

Bagi saya, masa putih abu-abu sudah bermetamorfosis menjadi catatan harian yang menandai pelbagai momen yang mewujud dari serangkaian fenomena yang terjadi sehari-hari, mulai dari yang sifatnya sepele/ringan hingga konflik antar individu yang menjadikan amarah sebagai fondasinya. Tapi untuk saya pribadi, kenangan yang paling melekat justru ketika menyangkut satu rupa, satu nama, yang keberadaannya sudah seperti pendar mentari di pagi berkabut.

Selepas bertemu dengan seorang perempuan ini, keseharian saya dalam menjalani kewajiban belajar menjadi lebih mengasyikkan dari pada sebelum-sebelumnya. Bagi saya, dia telah menjadi alasan primer untuk tetap bertahan dengan hiruk-pikuk kondisi lingkungan pembelajaran yang begitu dinamis, utamanya ketika berurusan dengan pengajar yang memiliki watak killer. Sesudah bergabungnya dia di tengah wajah-wajah yang membosankan itu, membuat saya merasa senantiasa siap untuk menghadapi berbagai macam keruwetan hidup.

Saya masih bisa mengingat semua tentangnya dengan cukup jelas. Mulai dari gerak langkah yang begitu memukau nan anggun, hingga tawanya yang semringah ketika mendapati ada hal lucu terjadi di dalam ruang belajar. Saya, yang sebelumnya nyaris tak punya urgensi untuk datang terlalu awal, tiba-tiba menjadi pribadi yang berusaha untuk lebih dulu singgah di halaman sekolah bahkan ketika gerbang belum terbuka sepenuhnya. 

Saya beranjak dari rumah dengan perasaan yang berbunga-bunga, menjejaki aspal yang masih lengang dari hingar bingar pengendara. Semua itu saya lakukan karena tahu bahwa dia akan datang tidak lama kemudian. Keberadaannya一yang barangkali tidak dipandang sebagai sesuatu yang istimewa bagi orang lain一selalu berhasil mendongkrak semangat saya untuk menjalani sisa masa sekolah yang amat menjenuhkan itu. 

Tapi yang menjadi problem, saya tak pernah fasih menjelaskan apa yang sebenarnya saya rasakan kala itu. Memang ada rasa yang tumbuh, tapi apakah perasaan yang bersemi itu sungguh tulen, atau hanya sebatas resurjensi ego masa remaja yang suka mencari perhatian? Andaikan itu dimaknai hanya sebatas rasa suka sesaat, tapi kenapa hingga saat ini tingkat kadar dari rasa suka itu tidak berkurang sedikitpun, setelah satu dekade berselang?

Setiap bel pulang berbunyi, saya menolak untuk cepat-cepat beranjak. Saya biasanya lebih memilih untuk duduk sejenak di bangku panjang depan kelas, berpura-pura membaca buku atau memainkan ponsel. Tujuan utamanya adalah: menanti apakah dia akan sekilas menoleh ke arah saya atau tidak. Dan jika iya, maka gamang yang menjalar disepanjang hari bisa seketika lebur. Saya lebih menganut paham: sebaik-baiknya rasa adalah yang hanya dinikmati seorang sendiri, tanpa perlu digembar-gemborkan ke khalayak ramai.

Namun, bulan-bulan menjelang kelulusan hadir membawa pelik yang tidak bisa ditampik. Ketika kawan-kawan lain tengah sibuk menyoal capaian nilai, merintis jejaring ke perguruan tinggi idaman, atau menyusun alternatif masa depan dengan segala kompleksitasnya. Di sisi lain, saya masih berkutat dengan perangai hati yang mendesak agar segera merampungkan pekerjaan dalam hal menerjemahkan perasaan ke dalam kata-kata, kemudian selekas mungkin untuk mengungkapkan kepadanya sebelum penyesalan tiba lebih dulu.

Malam-malam menjelang puncak acara purnawiyata kala itu, saya masih menyimpan pesan terakhir darinya—pertanyaan simpel tentang cara menyusun paragraf. Dalam pesannya, ia mungkin hanya bertanya perihal tata bahasa, tapi yang saya tangkap justru lebih dari itu. Saya melihat bahwa ada ketulusan yang mendasari setiap jeda, setiap titik, setiap susunan kata yang ia rangkai menjadi  sebuah kalimat. Dan mungkin, justru di sana lah saya bisa jatuh hati, pada kepiawaiannya dalam menerjemahkan dunia melalui kata-kata.

Setelah masa-masa sekolah telah berakhir, kami benar-benar terpisah. Tak ada lagi temu yang terjalin, dia selalu alpa ketika ada acara kumpul-kumpul, tak ada lagi gurau kolektif yang bisa menyisihkan lara. Sehingga yang tersisa hanyalah sebaris nama di buku tahunan, dan satu potret bersolek yang terjepit di halaman akhir buku catatan Geografi.

Saya tak pernah tahu apakah ia pernah curiga bahwa saya menyukainya, atau mungkin kehadiran saya tidak lebih dari sekadar satu titik kecil di berbagai jejaring sosial kehidupannya. Harapan saya sesederhana一apabila suatu saat nanti ia menoleh ke belakang一cuma ingin dia tahu bahwa pernah ada seorang pegiat yang selalu memperhatikannya di sepanjang hari, yang memedulikannya tanpa pernah mengharapkan timbal balik. Cukuplah bila kenangan itu ternyata bisa hidup sebagai nukilan kecil di dalam ingatannya.

Jun 1, 2026

Obituari: Kepergian yang Mengingatkan

Pagi tadi, saat sedang menunggu kereta di stasiun, aku mendapat telepon dari Ibu. Beliau mengabarkan berita lelayu, bahwa salah seorang tetangga kami baru saja meninggal dunia. Seorang anak yang masih duduk di bangku SMP kelas dua.

Tidak ada riwayat sakit yang serius. Tidak ada tanda-tanda yang membuat orang-orang di sekitarnya bersiap menghadapi kabar duka. Sebagai seorang ibu, tentu kejadian tersebut cukup membuat beliau kepikiran, yang lantas membuatnya menghubungi untuk sekadar memastikan kondisiku. Apalagi jika dilihat dari segi usia anak itu yang masih begitu belia, bahkan jauh lebih muda daripada aku. Jalan hidupnya, setidaknya dalam bayangan banyak orang, masih terbentang panjang ke depan. Begitulah yang kami pikirkan saat berbincang melalui sambungan telepon.

Kami mengenangnya sebagai anak yang baik dan religius. Cukup rajin mengikuti salat berjamaah di musala dekat rumah, selain itu dia juga dikenal sebagai sosok yang santun kepada tetangga, dan tidak pernah terdengar membuat keonaran. Pribadi yang kehadirannya mudah diterima oleh lingkungan sekitar.

Kemudian ibu juga menceritakan kronologi yang beliau dengar dari keluarga almarhum. Di malam  yang sama sekitar pukul sepuluh, almarhum pulang ke rumah seperti biasa. Bahkan masih menyempatkan untuk makan malam, dan juga masih sempat mengobrol dengan keluarganya, sebelum akhirnya berpamitan untuk tidur. Tidak ada gelagat yang aneh. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada satu pun tanda yang membuat siapa saja menduga bahwa malam itu akan menjadi malam terakhirnya.

Namun ketika menjelang subuh, ayahnya hendak membangunkan untuk menunaikan salat berjamaah, tubuhnya sudah diketemukan dalam keadaan kaku, nafas dan nadinya juga sudah tidak ada. Besar kemungkinan ia telah mengembuskan napas terakhir beberapa jam sebelumnya, sendirian, di dalam tidur nyenyaknya.

Kabar itu membuatku tertegun, kemudian merenungi cukup lama.

Ada banyak hal yang sering kita anggap masih bisa dikerjakan nanti-nanti, seperti: Menghubungi orang tua nanti saja, kalau sudah tidak sibuk. Pulang kampung lain waktu saja, kalau waktunya longgar. Berfoto bersama kapan-kapan saja, kalau anggotanya lengkap. Mungkin selama ini, kita hidup dengan keyakinan bahwa masih ada hari esok untuk melakukan semuanya. Padahal kenyataannya, kita tidak pernah tahu siapa yang akan lebih dulu pergi.

Sepenggal kalimat di atas mungkin terdengar seperti klise. Sudah terlalu sering kita jumpai hingga kadang sudah tidak ada lagi gaungnya. Namun pagi ini, kebenaran itu mengetuk pintu sadarku.

Maka untuk siapa saja yang hingga saat ini masih diberkahi kehadiran orang tua, saudara, pasangan, atau anak-anak yang tumbuh sehat di rumah, cobalah luangkan waktu lebih banyak bersama mereka. Duduk lebih lama, sekedar membincangkan hal yang ringan-ringan saja. Mengabadikan lebih banyak momen, entah itu dalam bentuk foto/video, yang akan kita simpan sebagai kenangan ketika nanti tiba waktunya.

Sebab akan sangat miris, jika bertahun-tahun sepeninggal orang-orag yang kita sayangi, tapi ingatan kita tentang wajah dan suara dari mereka sudah mulai memudar dimakan waktu. Barangkali itulah mengapa kebersamaan selalu layak dirawat selagi masih ada kesempatan. Karena pada akhirnya, hidup hanya akan diukur dari jejak-jejak kenangan yang berhasil kita abadikan dari orang-orang yang kita cintai.

May 23, 2026

Bunga Tidur atau Firasat?

Aku senantiasa berterimakasih kepada hippocampus-ku, karena sudah bekerja keras menjaga ingatan tentangmu untuk tetap hidup di kepalaku.

Dua malam terakhir, aku dibuat terus memikirkan satu peristiwa ganjil yang baru pertama kali kurasakan selama dua puluh enam tahun hidup sebagai manusia. Pengalaman aneh yang sampai sekarang masih tergambar jelas, nyaris tanpa ada detail yang terlewat sedikit pun.

Aku bermimpi tentang dia. Lagi. Namun, yang kali ini cukup berbeda. (sebut saja namanya Nindi)

Selama ini, kita mengenal mimpi sebagai ruang paling absurd yang terputar di dalam kepala manusia ketika tidur—tempat bagi semua hal yang tidak masuk akal kerap terjadi. Kadang bisa sangat menakutkan, di waktu yang lain bisa membingungkan, sering kali pula begitu acak, sehingga sesaat setelah terbangun, kita lupa bagaimana alur ceritanya tadi. Akan tetapi, mimpi yang kualami ini justru terasa terlalu nyata, seperti aktivitas yang sehari-hari terjadi di dunia nyata.

Ceritanya bermula pada malam kemarin lusa.

mimpi pada malam itu dimulai dengan adegan, aku pergi ke rumah Nindi untuk mengajaknya keluar jalan-jalan ke salah satu pusat pusat perbelanjaan. Kami menghabiskan waktu bersama seperti selayaknya pasangan manusia normal pada umumnya: berjalan tanpa tujuan jelas, keluar-masuk toko, menonton film horor yang sedang tanyang, saling melempar candaan receh disela-sela makan siang di KFC, lalu tertawa pada hal-hal yang mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain. Waktu terasa bergerak terlalu cepat hingga tanpa sadar matahari sudah mau tenggelam.

Ketika akhirnya kami memutuskan mengakhiri keseruan pada hari itu, tiba-tiba terlintas keinginan di kepalaku untuk mengajak Nindi mampir sebentar ke rumah.

Sesampainya kami di rumah, aku memintanya untuk menunggu sebentar di teras, sembari kuhampiri Ibu yang kebetulan saat itu sedang memasak di dapur. Aku memanggil beliau, lalu memperkenalkan Nindi dengan Ibu. Anehnya, suasana di dalam mimpi itu terasa hangat sekali. Ibu menyambutnya dengan wajah yang berbinar bahagia, lalu kami bertiga mengobrol santai di kursi depan teras. Tidak ada yang janggal pada urutan kejadian waktu itu.

Setelah dirasa puas berbincang-bincang, aku pun berpamitan kepada Ibu untuk mengantar Nindi pulang. Di sepanjang perjalanan, aku dan Nindi kembali mengulas obrolan dengan Ibu beberapa saat yang lalu. Dia mengatakan jika Ibu ternyata orangnya lebih talkative dibanding diriku yang cenderung lebih pendiam. Untuk orang yang baru pertama kali bertemu dan berkenalan, Nindi merasa nyaman mengobrol dengan Ibu, tidak ada rasa canggung dan kekakuan, katanya. Mendengar hal itu, aku hanya mengiyakan dan tidak mencoba mendebat.

Setelah sekitar setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah Nindi. Sebelum berpisah, aku berkata bahwa esok hari akan kembali menjemputnya untuk berburu ramen di tempat favorit kami.

Lalu cerita mimpi di malam pertama selesai begitu saja.

Aku terbangun pukul tiga pagi. Lalu selebihnya, hari itu berjalan selayaknya hari-hari sebelumnya. Aku beraktivitas seperti biasa, bercanda dengan teman, menjalani rutinitas seperti tidak terjadi apa-apa. Mimpi di malam itu sempat tidak kuhiraukan.

Sampai akhirnya malam berikutnya datang. Aku bermimpi tentang Nindi lagi.

Dan di sinilah terjadinya keanehan yang kumaksudkan diawal tulisan.

Mimpi di malam kedua ternyata bukan cerita baru. Ia justru melanjutkan bagian yang terputus dari malam sebelumnya. Seumur hidup, baru kali ini aku mengalami mimpi yang ceritanya bersambung—dua malam berbeda, namun masih berada dalam satu alur yang sama.

Mimpi di malam kedua dimulai. Ceritanya diawali dengan adegan ketika aku baru sampai rumah selepas mengantar Nindi pulang. Aku buru-buru menghampiri Ibu dan menanyakan first impression-nya mengenai perempuan yang baru saja kukenalkan tadi. Respons beliau tampak begitu membahagiakan, cukup untuk membuat hatiku lega. Ibu juga menambahkan pujian berupa kalimat, “Kamu pintar juga mencari pasangan.” Aku kembali berbunga-bunga mendengar hal itu.

Setelah obrolan singkat itu, aku berjalan memasuki kamar dan tertidur.

Lalu tibalah hari esok. (Ini masih cerita di dalam mimpi, ya)

Aku ketiduran seperti orang yang sedang pingsan. Belasan panggilan tak terjawab dari Nindi memenuhi hampir seluruh layar ponselku. Karena kesal menunggu terlalu lama, akhirnya Nindi memutuskan datang langsung ke rumah untuk mengonfrontasiku sebab sudah tega membiarkannya menunggu berjam-jam tanpa kepastian.

Sesampainya di rumah, dia bertemu Ibu dan mempertanyakan keberadaanku. Nindi mengadu perihal aku yang sudah berjanji akan menjemput, tetapi sampai berjam-jam kemudian masih belum datang juga. Ibu yang tidak tahu-menahu akan persoalan itu hanya menyampaikan kepada Nindi bahwa aku masih tidur di kamar, dan kemudian mempersilahkan Nindi untuk membangunkanku.

Nindi berjalan menuju kamar.

Mendekat perlahan.

Lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku.

Dan kemudian aku langsung terbangun.

Namun, bukan karena Nindi.

Melainkan karena suara Ibu di dunia nyata.

Akhirnya rangkaian mimpi itu berakhir sudah. Aku terbangun dan mendapati bahwa matahari sudah terbit.

Pagi itu, Aku duduk cukup lama di tepian tempat tidur. Masih setengah sadar, sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang baru saja terjadi. Aku merasa mimpi yang kualami barusan begitu janggal.

Sampai hari ini, aku masih mencari-cari makna di balik semua itu. Kenapa sebuah mimpi bisa bersambung di dua malam yang berbeda? Apakah orang lain pernah mengalaminya juga, selain aku? Atau sebenarnya itu hanya bentuk lain dari perasaan rinduku semata?

Karena penasaran, aku sempat membaca beberapa tulisan di internet mengenai mimpi. Ada yang mengatakan jikalau mimpi yang tidak bisa kita ingat detail peristiwanya, berarti itu dikategorikan sebagai bunga tidur. Namun bila mimpi yang dialami masih bisa diingat dengan jelas bahkan hingga dihari-hari berikutnya, sering kali hal tersebut dianggap sebagai sebuah firasat.

Entah benar atau tidak, aku sendiri belum menemukan penjelasan ilmiah yang benar-benar mampu menjawab pengalaman itu secara saintifik. Yang jelas, aku memang cukup sering bermimpi tentang Nindi. Akan tetapi, yang satu ini terlalu mendetail, jelas, dan runut.

Hingga akhirnya aku berkesimpulan sendiri: mungkin Tuhan sedang ingin menghibur hatiku yang sedang rindu, mempertemukanku dengan Nindi melalui perantara mimpi, sesuatu yang agaknya sulit terwujud di dunia nyata.

May 10, 2026

Percaya Kita Kan Rayakan, Kawan

Kredit: official media sosial @PSSleman

Tentu masih terpatri dengan jelas di ingatan kita semua bagaimana pedihnya melihat tim kesayangan—PSS Sleman—harus turun kasta dari kompetisi liga tertinggi sepak bola negeri ini, setahun yang lalu. Menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tidak sedikit dari kita yang menangis, sedangkan sebagian yang lain mengumpat dan meluapkan amarah dengan sumpah serapah.

Pada momen setelahnya, barulah kita teringat pada perkataan kawan kita—Tonggos Darurat—dalam aksi monolognya beberapa tahun silam, “Mosok takut degradasi, degradasi yo tinggal naik lagi, gampang tho? Sepak bola loh ini, menang-kalah yo biasa, disyukuri, Mas. Besok kalau kita turun kasta, yo naik lagi (musim) berikutnya, gitu aja. Urusan mudah itu untuk PSS Sleman.” Kalimat itu yang kemudian menampar kita, memecut untuk lebih nggetih dalam mendukung PSS. Kita diingatkan bahwa kebanggaan tetap kebanggaan, apapun yang akan terjadi nanti.

Sorak-sorai teriakan dukungan akan senantiasa terdengar lantang dari teras-teras tribun, rapalan doa terus didengungkan hingga mendobrak batas-batas langit. PSS Sleman adalah hidup, dan hidup harus terus diperjuangkan. Tak akan gentar bermain di kasta mana pun. ORA MUNTIR!

Semangat yang sama diharapkan mampu menular ke seluruh punggawa Super Elang Jawa di musim ini untuk mengarungi kompetisi Liga 2. Tak lupa, apresiasi juga diberikan kepada manajemen tim yang masih mempertahankan staf kepelatihan dan sejumlah pemain kunci. Langkah yang sangat tepat, mengingat jadwal kompetisi tinggal beberapa bulan lagi. Agak riskan jika harus merombak keseluruhan tim.

Dan hasilnya mulai terlihat dari performa permainan di musim ini. PSS mampu bersaing dalam perebutan posisi pertama klasemen grup. Bahkan, dari semua pertandingan yang dimainkan di kandang, PSS belum pernah sekali pun menelan kekalahan. Jika menilik dari perolehan selisih gol, PSS menempati posisi pertama dari 20 tim peserta yang lain. Itu semua tidak terlepas dari pola permainan yang menjanjikan dan determinasi kuat yang ditunjukkan oleh semua pemain, sehingga asa menuju pentas sepak bola tertinggi di Indonesia masih terbuka lebar.

Rasa percaya terhadap kemampuan PSS musim ini tumbuh begitu besar, meskipun beberapa laga sempat menyisakan rasa gemas karena poin yang seharusnya bisa diamankan justru disia-siakan begitu saja. Dan semua pastinya tahu bahwa kompetisi sepak bola adalah maraton panjang. Bermain bagus saja tidaklah cukup, konsistensi dalam segala aspek juga menjadi syarat utama untuk bertahan hingga akhir.

Puncaknya, PSS Sleman mampu menempati posisi pertama di klasemen grup dan memastikan satu tiket promosi ke Super League musim depan. Hasil itu diperoleh setelah mengandaskan perlawanan PSIS Semarang dengan skor akhir 3–0 untuk kemenangan Super Elang Jawa. Bermain di hadapan 16.000 pendukung di Stadion Maguwoharjo, para pemain PSS tampil habis-habisan, bermain menyerang sejak menit pertama. Beberapa peluang emas sempat didapat, tetapi gol pembuka baru tiba di menit ke-34 melalui sontekan manis Gustavo Tocantins yang memanfaatkan umpan ciamik dari Frederic Injai.

Dukungan untuk PSS Sleman tidak hanya datang saat pertandingan berlangsung. Beberapa hari sebelumnya, ratusan suporter memadati tempat latihan Super Elang Jawa di daerah Pakembinangun, Sleman. Mereka hadir untuk memberikan dukungan moral tambahan kepada para punggawa, kemudian menutupnya dengan doa bersama.

Terlepas dari lika-liku perjalanan mengarungi liga kasta kedua musim ini, satu tiket promosi dalam genggaman adalah hadiah terbaik, khususnya untuk Kabupaten Sleman dan PSS Sleman yang akan merayakan harinya pada bulan Mei ini. Hari ini milik kita. Walaupun tidak keluar sebagai juara Liga 2, perayaan pertandingan terakhir tetap berlangsung sangat meriah. Aksi koreografi, mozaik, dan giant flag tampak mewarnai dari semua sisi tribun stadion, kemudian ditutup dengan pesta flare sesaat setelah peluit akhir dibunyikan. Kita punya cara khas untuk merayakan keberhasilan musim ini. Kali ini temanya “ONAR”. Tentu dengan pengimplementasian yang kreatif, tidak dalam bentuk kriminal atau merusak. Kita bersua dengan saudara-saudara jauh, saling berbagi "minuman" dan apa saja yang bisa dibagi. Semua punya misi yang sama yaitu menyebarkan virus-virus PSS di seluruh penjuru negeri. Merayakan sepak bola dengan suka cita, lalu tipsy setelahnya.

PSS Sleman pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada sekadar turun kasta, tetapi kita masih senantiasa kokoh berdiri, merangkul kiri-kanan, dan meneriakkan dukungan. Faktanya, setiap menjelang laga tandang, banyak dari kita yang rela berutang, menggadaikan kepunyaan, bahkan menjual barang yang mereka miliki. Meluangkan waktu, tenaga, dan materi. Semua itu dilakukan hanya demi menunjukkan bahwa PSS tidak pernah sendirian saat bermain di kota orang; kita senantiasa terus membersamai. Kita sudah terlampau cinta dengan klub ini, sampai-sampai melampaui logika berpikir manusia pada umumnya.

Bahwa ada yang lelah, biarkan mereka menepi. Regenerasi akan terus berlanjut. Cinta untuk PSS Sleman akan terus tumbuh dan menular tanpa bisa dibendung oleh siapa pun, dan tidak akan pernah bisa hilang bahkan ketika takdir coba untuk merenggutnya.

Sampai jumpa di musim berikutnya, di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kita mulai lagi, kita bersorak lagi.

Terima kasih.


Sampai kau bisa