Mungkin ada beberapa diantara kalian yang familiar dengan gambar di atas, ya betul: Slime.
Kita agaknya sepaham apabila benda ini sempat populer dari mulai kalangan anak-anak hingga remaja beberapa tahun silam. Dulu, Slime banyak diperjualbelikan di lingkungan sekolah atau di toko-toko mainan, biasanya terbungkus dalam kemasan menarik yang sukses memancing rasa penasaran para peminatnya.
Pada awalnya saya tidak begitu paham kegunaan dari benda ini, waktu itu saya mengira kalau Slime tidak lebih dari sekadar benda aneh yang menggelikan bila digenggam. Baru belakangan ini saya akhirnya mengerti bahwa benda bertekstur lembek ini rupanya punya fungsi lain: salah satu yang paling sering digunakan yaitu untuk membersihkan debu di sela-sela papan ketik laptop atau komputer. Tapi kalau mau dicari lebih dalam, manfaatnya ternyata lumayan banyak.
Bagi saya pribadi, Slime menyimpan wujud kenangannya tersendiri yang hingga detik ini masih bisa saya ingat detailnya, sebab benda ini menjadi saksi awal kedekatan saya dengan seseorang. Kalau dipikir-pikir lagi, memang agak aneh jika menghubungkan suatu kedekatan dengan sebuah benda lembek yang memiliki tekstur seperti segumpal ingus yang dicampur dengan tepung tapioka ini.
Ceritanya berawal ketika saya mulai menjalin pendekatan dengan seorang perempuan, setelah intens berkomunikasi selama beberapa bulan, ada satu momen dimana obrolan kami tiba-tiba mengarah pada pembahasan Slime ini. Saya masih ingat samar-samar, waktu itu kami beradu argumen mengenai kegunaan benda ini, mengapa saya masih ingat peristiwa itu walaupun sudah lebih dari delapan tahun silam? Sebab itu menjadi kali pertama bagi kami sedikit berdebat mempertahankan opini masing-masing mengenai, "dalam kondisi yang seperti apa, sehingga manusia membutuhkan keberadaan benda satu ini."
Kala itu, saya bersikeras bahwa tidak ada satu pun alasan rasional yang membuat seseorang perlu memiliki Slime. Sementara dia, seperti biasa, akan menjadi lawan yang gemar untuk menguji pendapat saya dengan opininya yang berseberangan. Dia beranggapan bahwa keberadaan benda lengket satu ini sedikit banyak bisa membantu, salah satunya sebagai pemberi efek relaksasi bagi tubuh. Menurut saya, itu terdengar dibuat-buat. Bagi dia, itu hal yang logis.
Selain dari visualnya yang sangat tidak eye pleasing, Sekalipun benda ini lenyap dari peredaran, dunia tidak akan kehilangan fungsinya—hidup manusia tetap akan berjalan seperti biasanya. Tapi, dengan tetap teguh pada pendiriannya, dia menyatakan bahwa kita sebagai makhluk yang selalu mencari bentuk kenyamanan, sudah barang tentu akan membutuhkan keberadaan benda ini. Dalam adu pendapat yang semakin intens tersebut, saya tetiba teringat kalau punya sepupu yang juga suka untuk bereksperimen membuat Slime dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar. Setelah sedikit banyak mendiskusikan hal tersebut, tiba-tiba ter-celetuk-lah sebaris kalimat dari bibir cantiknya itu, termanifestasikan ke dalam satu teks yang berbunyi: "boleh nggak tolong mintain sedikit ke saudaramu?" (Redaksinya tidak seratus persen sama, tapi kurang lebih intinya seperti itu)
Saya yang sedari awal memang kontra dengan eksistensi dari benda ini, tidak bergeming dengan permintaan dia. Namanya juga perempuan, dengan seluruh seni dalam caranya merayu, selalu punya jalan untuk menggoyahkan benteng pertahanan kaum pria. Dengan bersenjatakan tutur kata yang manis, dia sukses meruntuhkan pertahanan yang saya bangun dari tumpukan opini dan rasa sok logis sedari awal. Singkat cerita, saya pun berhasil mendapatkan segenggam Slime dari saudara dengan imbalan sejumlah nominal rupiah, alias dikon tuku, fak!
Debat panjang mengenai Slime ini akhirnya usai dalam satu malam saja. Dan dia, seperti yang bisa ditebak, mendapatkan apa yang diinginkannya. Soal siapa yang keluar sebagai pemenang dalam kontestasi tengkar argumen kali ini, rasanya tak perlu dipertanyakan lagi. Dia, sebagai representasi abadi dari kaum perempuan, selalu punya cara untuk unggul dalam segala hal. Sementara laki-laki, sekeras apa pun berupaya mempertahankan argumen, pada akhirnya hanya akan menjadi pihak yang mengalah. Ada satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang cukup populer untuk menggambarkan nasib laki-laki di hadapan perempuannya: “wis biasa kalah, wis biasa ngalah, wis biasa dadi sing salah.”
Keesokan harinya, pukul 6 pagi, saya sudah duduk dibangku panjang depan kelas sembari menggenggam satu kotak kecil berisi Slime yang sudah dia minta di malam sebelumnya. Lumayan lama saya menunggu di tempat itu, karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk tiba di sekolah tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Sedangkan dia, baru akan datang ketika waktu nyaris habis, atau bahkan bersamaan dengan dentang bel pertama. Dalam hal ini, bisa dinilai sendiri siapa yang paling rajin di antara kami. Untuk perkara lain, mungkin saya kerap kali kalah, tapi untuk urusan ketepatan waktu, bisa dipastikan bahwa saya menang mutlak.
Begitu melihat dia berjalan menuju ke arah kelas, saya sudah dengan posisi siap menjulurkan tangan, hendak memberikan pesanannya. Di situ kami tidak sempat berbincang banyak, karena jam masuk sudah terlalu mepet. Hanya sekadar tatapan, kami sudah cukup untuk saling mengerti isi pikiran masing-masing. Saya yakin betul akan hal itu, sebab ketika benda menjijikkan itu berpindah dari tangan saya ke tangannya, kami justru tertawa di tengah prosesi tersebut. Mungkin akan tampak aneh bagi siapa pun yang melihat tanpa tahu konteksnya.
Sedikit intermezzo agar memberi gambaran tentang karakteristik kami berdua, kami memang gemar membahas topik-topik yang random. Kami berdua tidak begitu suka membicarakan hal-hal yang membutuhkan daya pikir berat; lebih senang jika berbincang tentang perkara remeh yang bahkan terkadang tidak masuk di nalar, asal bisa memancing tawa di sela-sela obrolan, itu sudah lebih dari cukup. Andaikan saja ada orang lain yang berkesempatan membaca riwayat percakapan kami di aplikasi pesan singkat, saya yakin mereka akan tiba pada satu konklusi yang serupa, yaitu: kedua orang ini memang aneh.
Sejak kali pertama berkomunikasi dengan dia, saya langsung bisa mendapatkan klik-nya. Karena saya tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk dianggap keren atau sekadar terlihat menarik. Bersama dia, saya bisa menjadi diri sendiri saya sepenuhnya tanpa perlu dibalut dengan kepura-puraan dalam bentuk apa pun. Ada rasa nyaman yang tumbuh seiring berjalannya waktu, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sudah mengenal saya jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Dan saya cukup yakin, dia pun juga merasakan hal serupa. Kalau kalian sudah sampai di bagian ini dan mulai berpikir bahwa cara kami menjalin komunikasi terdengar janggal, yakinlah, masih banyak keanehan lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Sebab, kadar absurditas jalin interaksi antara kami berdua sudah melampaui akal manusia normal pada umumnya.
Saya tidak pernah menyangka, benda kecil yang menggelikan ini ternyata menyimpan nilai kenangan yang begitu lekat dengan seseorang. Slime sudah menjadi satu dari ribuan hal yang pernah kami ceritakan pada masa itu, masa di mana tawa kami pernah saling bersahutan tanpa perlu memikirkan beragam persoalan seperti; cicilan, tanggungan, atau hal rumit lain yang biasa dihadapi oleh kebanyakan manusia dewasa.
Kini, setiap kali melihat Slime, ingatan itu terputar kembali. Membawa saya pulang pada suatu pagi di depan ruang kelas, pada sepasang tawa yang kami tahan agar tidak memantik perhatian orang-orang di sekitar. Dan jika sedang membicarakan Slime, maka akan selalu tertuju pada satu nama.
*Saya harap tulisan ini tidak terlalu membingungkan untuk diikuti. Namun jika ada bagian yang terasa ganjil atau sulit dipahami, izinkan saya menyampaikan maaf terlebih dahulu.








