Apr 24, 2026

Segumpal Benda lengket, dan Kenangan yang Melekat


Mungkin ada beberapa diantara kalian yang familiar dengan gambar di atas, ya betul: Slime.

Kita agaknya sepaham apabila benda ini sempat populer dari mulai kalangan anak-anak hingga remaja beberapa tahun silam. Dulu, Slime banyak diperjualbelikan di lingkungan sekolah atau di toko-toko mainan, biasanya terbungkus dalam kemasan menarik yang sukses memancing rasa penasaran para peminatnya.

Pada awalnya saya tidak begitu paham kegunaan dari benda ini, waktu itu saya mengira kalau Slime tidak lebih dari sekadar benda aneh yang menggelikan bila digenggam. Baru belakangan ini saya akhirnya mengerti bahwa benda bertekstur lembek ini rupanya punya fungsi lain: salah satu yang paling sering digunakan yaitu untuk membersihkan debu di sela-sela papan ketik laptop atau komputer. Tapi kalau mau dicari lebih dalam, manfaatnya ternyata lumayan banyak.

Bagi saya pribadi, Slime menyimpan wujud kenangannya tersendiri yang hingga detik ini masih bisa saya ingat detailnya, sebab benda ini menjadi saksi awal kedekatan saya dengan seseorang. Kalau dipikir-pikir lagi, memang agak aneh jika menghubungkan suatu kedekatan dengan sebuah benda lembek yang memiliki tekstur seperti segumpal ingus yang dicampur dengan tepung tapioka ini.

Ceritanya berawal ketika saya mulai menjalin pendekatan dengan seorang perempuan, setelah intens berkomunikasi selama beberapa bulan, ada satu momen dimana obrolan kami tiba-tiba mengarah pada pembahasan Slime ini. Saya masih ingat samar-samar, waktu itu kami beradu argumen mengenai kegunaan benda ini, mengapa saya masih ingat peristiwa itu walaupun sudah lebih dari delapan tahun silam? Sebab itu menjadi kali pertama bagi kami sedikit berdebat mempertahankan opini masing-masing mengenai, "dalam kondisi yang seperti apa, sehingga manusia membutuhkan keberadaan benda satu ini."

Kala itu, saya bersikeras bahwa tidak ada satu pun alasan rasional yang membuat seseorang perlu memiliki Slime. Sementara dia, seperti biasa, akan menjadi lawan yang gemar untuk menguji pendapat saya dengan opininya yang berseberangan. Dia beranggapan bahwa keberadaan benda lengket satu ini sedikit banyak bisa membantu, salah satunya sebagai pemberi efek relaksasi bagi tubuh. Menurut saya, itu terdengar dibuat-buat. Bagi dia, itu hal yang logis.

Selain dari visualnya yang sangat tidak eye pleasing, Sekalipun benda ini lenyap dari peredaran, dunia tidak akan kehilangan fungsinya—hidup manusia tetap akan berjalan seperti biasanya. Tapi, dengan tetap teguh pada pendiriannya, dia menyatakan bahwa kita sebagai makhluk yang selalu mencari bentuk kenyamanan, sudah barang tentu akan membutuhkan keberadaan benda ini. Dalam adu pendapat yang semakin intens tersebut, saya tetiba teringat kalau punya sepupu yang juga suka untuk bereksperimen membuat Slime dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar. Setelah sedikit banyak mendiskusikan hal tersebut, tiba-tiba ter-celetuk-lah sebaris kalimat dari bibir cantiknya itu, termanifestasikan ke dalam satu teks yang berbunyi: "boleh nggak tolong mintain sedikit ke saudaramu?" (Redaksinya tidak seratus persen sama, tapi kurang lebih intinya seperti itu)

Saya yang sedari awal memang kontra dengan eksistensi dari benda ini, tidak bergeming dengan permintaan dia. Namanya juga perempuan, dengan seluruh seni dalam caranya merayu, selalu punya jalan untuk menggoyahkan benteng pertahanan kaum pria. Dengan bersenjatakan tutur kata yang manis, dia sukses meruntuhkan pertahanan yang saya bangun dari tumpukan opini dan rasa sok logis sedari awal. Singkat cerita, saya pun berhasil mendapatkan segenggam Slime dari saudara dengan imbalan sejumlah nominal rupiah, alias dikon tuku, fak!

Debat panjang mengenai Slime ini akhirnya usai dalam satu malam saja. Dan dia, seperti yang bisa ditebak, mendapatkan apa yang diinginkannya. Soal siapa yang keluar sebagai pemenang dalam kontestasi tengkar argumen kali ini, rasanya tak perlu dipertanyakan lagi. Dia, sebagai representasi abadi dari kaum perempuan, selalu punya cara untuk unggul dalam segala hal. Sementara laki-laki, sekeras apa pun berupaya mempertahankan argumen, pada akhirnya hanya akan menjadi pihak yang mengalah. Ada satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang cukup populer untuk menggambarkan nasib laki-laki di hadapan perempuannya: “wis biasa kalah, wis biasa ngalah, wis biasa dadi sing salah.”

Keesokan harinya, pukul 6 pagi, saya sudah duduk dibangku panjang depan kelas sembari menggenggam satu kotak kecil berisi Slime yang sudah dia minta di malam sebelumnya. Lumayan lama saya menunggu di tempat itu, karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk tiba di sekolah tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Sedangkan dia, baru akan datang ketika waktu nyaris habis, atau bahkan bersamaan dengan dentang bel pertama. Dalam hal ini, bisa dinilai sendiri siapa yang paling rajin di antara kami. Untuk perkara lain, mungkin saya kerap kali kalah, tapi untuk urusan ketepatan waktu, bisa dipastikan bahwa saya menang mutlak.

Begitu melihat dia berjalan menuju ke arah kelas, saya sudah dengan posisi siap menjulurkan tangan, hendak memberikan pesanannya. Di situ kami tidak sempat berbincang banyak, karena jam masuk sudah terlalu mepet. Hanya sekadar tatapan, kami sudah cukup untuk saling mengerti isi pikiran masing-masing. Saya yakin betul akan hal itu, sebab ketika benda menjijikkan itu berpindah dari tangan saya ke tangannya, kami justru tertawa di tengah prosesi tersebut. Mungkin akan tampak aneh bagi siapa pun yang melihat tanpa tahu konteksnya.

Sedikit intermezzo agar memberi gambaran tentang karakteristik kami berdua, kami memang gemar membahas topik-topik yang random. Kami berdua tidak begitu suka membicarakan hal-hal yang membutuhkan daya pikir berat; lebih senang jika berbincang tentang perkara remeh yang bahkan terkadang tidak masuk di nalar, asal bisa memancing tawa di sela-sela obrolan, itu sudah lebih dari cukup. Andaikan saja ada orang lain yang berkesempatan membaca riwayat percakapan kami di aplikasi pesan singkat, saya yakin mereka akan tiba pada satu konklusi yang serupa, yaitu: kedua orang ini memang aneh.

Sejak kali pertama berkomunikasi dengan dia, saya langsung bisa mendapatkan klik-nya. Karena saya tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk dianggap keren atau sekadar terlihat menarik. Bersama dia, saya bisa menjadi diri sendiri saya sepenuhnya tanpa perlu dibalut dengan kepura-puraan dalam bentuk apa pun. Ada rasa nyaman yang tumbuh seiring berjalannya waktu, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sudah mengenal saya jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Dan saya cukup yakin, dia pun juga merasakan hal serupa. Kalau kalian sudah sampai di bagian ini dan mulai berpikir bahwa cara kami menjalin komunikasi terdengar janggal, yakinlah, masih banyak keanehan lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Sebab, kadar absurditas jalin interaksi antara kami berdua sudah melampaui akal manusia normal pada umumnya.

Saya tidak pernah menyangka, benda kecil yang menggelikan ini ternyata menyimpan nilai kenangan yang begitu lekat dengan seseorang. Slime sudah menjadi satu dari ribuan hal yang pernah kami ceritakan pada masa itu, masa di mana tawa kami pernah saling bersahutan tanpa perlu memikirkan beragam persoalan seperti; cicilan, tanggungan, atau hal rumit lain yang biasa dihadapi oleh kebanyakan manusia dewasa.

Kini, setiap kali melihat Slime, ingatan itu terputar kembali. Membawa saya pulang pada suatu pagi di depan ruang kelas, pada sepasang tawa yang kami tahan agar tidak memantik perhatian orang-orang di sekitar. Dan jika sedang membicarakan Slime, maka akan selalu tertuju pada satu nama.

*Saya harap tulisan ini tidak terlalu membingungkan untuk diikuti. Namun jika ada bagian yang terasa ganjil atau sulit dipahami, izinkan saya menyampaikan maaf terlebih dahulu.

Feb 16, 2026

Tempat Pulang Paling Nyaman Selain Rumah








Kampung tempat kelahiran Ayah selalu menjadi tempat pulang yang paling nyaman, selain rumah yang kini kami tinggali. Dan rasanya, selamanya akan selalu begitu. Sebagai gambaran singkat, dusun itu berada di salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung, yang jaraknya terpaut cukup jauh dari satu dusun ke dusun lain, dipisahkan oleh hamparan perkebunan, persawahan, hingga perbukitan rendah. Memang sudah menjadi karakteristik pemukiman yang berada di daerah lereng gunung yaitu menyebar, penduduknya membangun rumah secara terpisah, mencari lokasi yang landai, subur, dan dekat sumber air. Letak kondisi geografis dusun ini berbatasan langsung dengan kawasan perbukitan lereng Gunung Wilis.

Hidup di wilayah yang asri, sepi, dan teduh tentu terasa begitu menyenangkan—setidaknya jika dilihat dari kacamata generasi sekarang yang kerap jengah pada ritme hidup serba cepat. Untuk mencapai lokasi tersebut, kami harus menempuh ratusan kilometer, perjalanan sekitar empat jam melintasi beberapa kabupaten dan kota. Menjadi tempat pulang yang selalu saya rindukan setiap selepas menunaikan ibadah hari raya. Ingatan terjauh saya tentang pulang ke kampung itu mungkin samar-samar ketika masih SD, itu pun tidak begitu banyak yang bisa saya kumpulkan untuk dibagikan.

Dari bermacam peristiwa yang terjadi, paling membekas justru keseruan di usia dua belas tahun atau ke bawah, ketika momen mudik ke tempat kelahiran Ayah menjadi hal yang sudah dinantikan bahkan ketika baru memasuki awal-awal Ramadan. Berjumpa dengan sepupu-sepupu yang jarak usianya terpaut tidak begitu jauh, membuat referensi permainan masih terbilang mirip. Sesampainya di sana, berbagai macam hidangan khas sudah siap tersaji, menunggu untuk kami santap habis. Durasi menginap juga relatif lebih lama jika dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Dahulu, lama kami menetap bisa mencapai maksimal empat hari sejak keberangkatan dari rumah. Saat itu, sebagai bocah yang masih tahunya cuma main dan main, hanya mendapat jatah waktu berkunjung selama empat hari dalam setahun perjumpaan dengan keluarga jauh merupakan kenelangsaan dalam jalin ikatan darah yang terasa menyesakkan.

Sedikit informasi mengenai mengapa durasi menginap saat mudik terlihat begitu singkat, karena adanya kondisi yang memaksa harus memiliki batas seperti itu, kedua orang tua yang berprofesi sebagai ASN (yang bekerja di lingkungan rumah sakit di bawah naungan Pemerintah Provinsi) pada masa itu masih diwajibkan untuk mengikuti sistem piket, harus siap bergantian jaga dengan pegawai-pegawai yang lain, sekalipun pada musim libur lebaran atau libur panjang lainnya.

Melanjutkan cerita perjalanan ke kampung Ayah. Ketika kendaraan melintasi beberapa titik menuju ke arah dusun, Ayah kerap berbagi segelintir cerita yang pernah beliau alami bersama teman-temannya di area tersebut. Dari kejadian yang seru-seru, hingga pengalaman yang menurutnya cukup menyeramkan. Jika dilalui waktu malam hari, ruas jalan tersebut memang memiliki lampu penerangan yang minim, sehingga pengendara dituntut untuk lebih ekstra waspada. Karena badan jalan berbatasan langsung dengan jurang, sementara di sisi lain terhimpit oleh perbukitan rendah yang menekan seolah menyempitkan ruang gerak. Di sepanjang ruas jalan itu, Ayah selalu menuturkan peristiwa masyhur yang terjadi pada tahun '65, dimana banyak orang-orang yang dihilangkan nyawanya karena dianggap sebagai orang yang terafiliasi dengan partai berhaluan kiri, dan kemudian di jasadnya dibuang disekitaran jurang di area tersebut. Kisah-kisah yang diceritakan tak pernah jauh dari nuansa muram dan getir, seolah menjadi pengantar yang pas sebelum kami tiba di tempat tujuan.

Dusun tempat tujuan kami memang terbilang lebih sepi jika dibanding dengan dusun-dusun lain yang sudah kami lintasi sebelumnya, letaknya agak jauh dari jalan utama yang biasa ramai oleh lalu lalang kendaraan. Suasana dusun selepas Magrib terasa begitu hening, tenang, dan juga relatif gelap di beberapa titik. Walaupun seperti itu kondisinya, saya tetap menobatkan dusun itu sebagai tempat yang cocok digunakan untuk healing, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang bising oleh deru mesin kendaraan maupun manusianya. Banyak hal yang bisa dijelajahi. Berada di sana rasanya seperti kembali ke kehidupan yang slow, menikmati udara pagi hari dengan suhu yang bisa mencapai sekitaran 23°–25°C. Menyusuri jalanan dusun dengan kontur jalan yang naik turun, cukup untuk membakar beberapa kalori, sembari bertegur sapa dengan tetangga kiri–kanan. Di sepanjang mata memandang, kita dimanjakan dengan hamparan sawah berbentuk terasering yang sangat indah. Di sekitarnya, kita juga bisa menikmati rimbunnya perkebunan jeruk, rambutan, atau salak milik warga yang tumbuh subur.

Dahulu, di sisi halaman samping rumah, tumbuh tanaman anggur yang sengaja dirambatkan hingga membentuk semacam kanopi alami. Sulur-sulurnya menjalar di atas penyangga yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Selain buahnya bisa dipetik dan dinikmati bersama, itu juga secara tidak langsung menjadi peneduh yang bisa melindungi segala hal di bawahnya dari panas terik matahari. Sementara itu di halaman depan, tumbuh pohon rambutan yang setiap musimnya selalu dinanti. Ketika buahnya mulai memerah dan menggantung rimbun, kami tak perlu pergi jauh untuk membeli ke pedagang. Cukup dengan galah dan kesiapan mental dan fisik untuk menerima segala serangan dari semut-semut, rambutan-rambutan itu jatuh satu per satu, kemudian giliran anggota keluarga lain yang bersiap untuk mengumpulkan lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Pulang ke kampung Ayah perlahan mulai kehilangan keasyikannya sejak dari masa‐masa SMP hingga saat ini. Pasca sepeninggal nenek dan paman, juga ada saudara yang merantau ke kota lain, membuat suasana rumah menjadi sedikit agak lengang. Durasi menginap di sana pun menjadi lebih sebentar, paling lama hanya semalam menginap dan esok paginya langsung beranjak kembali pulang. Dan pernah yang paling singkat, siang tiba di sana dan setelah Asar langsung bergegas pulang. Sehingga saya merasanya momen bertemu dengan sanak saudara tidak ubahnya hanya sekadar formalitas dalam memeriahkan hari raya saja. Sedangkan makna dan esensi sebenarnya dari pulang kampung sudah berangsur-angsur memudar. Perjumpaan tidak lagi semenggairahkan seperti dahulu, tidak ada lagi kegiatan susur dusun di pagi hari, bercengkrama dengan tetangga kanan-kiri sudah sangat jarang terjadi, dan tidak ada lagi pelesir ke tempat wisata bersama kerabat-kerabat.

Kendatipun begitu, saya masih mampu mengingat serta merindukan masa-masa itu dengan utuh hingga kini. Bagi saya, kampung tempat kelahiran Ayah akan selalu menjadi rumah kedua yang paling nyaman untuk dijadikan tempat pulang. Meskipun ada sedikit yang berubah, meskipun beberapa wajah telah tiada, dan meskipun suasana tidak lagi seramai dulu. Namun, dari kehangatan yang pernah tumbuh di sana—sesederhana apa pun bentuknya—akan selamanya terpatri di dalam ingatan.

Sep 27, 2025

Ketahuilah, Dirimu Juga Berharga

Hai, bagaimana kabarnya?
Semoga kamu masih menyisakan ruang untuk bernafas di tengah sibuknya hari-hari belakangan ini.

Kabarnya akhir-akhir ini kerjaan lagi hectic sekali, ya?
Terlebih lagi sudah berada di penghujung bulan, ketika tenggat waktu kerjaan mesti dituntaskan sebelum kalender berganti. Bahkan akhir pekan pun masih harus terseret lembur di kantor, sampai-sampai langkah pulang selalu tertunda hingga larut malam.

Belum lagi hal-hal menjengkelkan lainnya, seperti, kerja kerasmu yang sering kali tidak sepenuhnya mendapat apresiasi. Tapi ya mau bagaimana lagi, memang itu sudah bagian dari tanggung jawab pekerjaan, iya nggak? 

Saya cuma ingin mengingatkan: dalam kesibukan yang seperti apa pun, jangan lupa untuk tetap menjaga kondisi tubuh. Biarkan waktu istirahat tetap menjadi milikmu, jangan sampai terganggu akibat stres pekerjaan yang menumpuk. Berbiasalah, sebab keribetan di usia-usia seperti saat ini memang bagian dari perjalanan hidup yang mau tidak mau harus dijalani. 

Kalau memang sedang lelah, biarkan tubuhmu rebah seharian, bisa juga dibarengi dengan nonton drama Korea, film atau series di platform penyedia layanan streaming favoritmu. Andai kata hari itu lagi jenuh, dan ingin mencari suasana baru, barangkali dengan pergi ke tempat yang menyajikan pemandangan alam bisa mengusir kebosanan. Atau andaikan sedang sedih, menangis saja, tak apa, itu manusiawi kok. Kamu tidak harus selalu tampil kuat setiap saat. Bilamana suasana hati lagi kesal, mungkin bisa terobati dengan beli jajanan-jajanan pedas dan segelas es kopi gula aren atau bisa juga jalan bersama teman-teman untuk berburu tempat ramen yang enak, itu pun termasuk opsi pilihan yang bagus. Pun jika ingin sesegera mungkin meningkatkan kadar dopamin dan serotonin untuk meredam kortisol yang meninggi akibat burnout usai seharian bekerja, salah satu cara sederhana yang bisa ditempuh adalah dengan workout, lari misalnya. Semampunya saja, sesuai dengan kapasitas fisik. Dan sebenarnya masih terlalu banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengusir penat selepas bergulat dengan tumpukan dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerja.

Bila memang sedang merasa kesepian dan butuh teman untuk mengobrol, atau sekadar ingin sambat masalah kehidupan. Jangan ragu menghubungiku, 24/7 siap untuk menerima segala jenis aduan. Saya memang tidak bisa menjanjikan semua masalah akan terpecahkan, tapi saya bisa mendengar, bisa berbagi resah, supaya kamu tidak merasa harus memanggul semuanya sendirian. Jangan pernah khawatir bahwa tidak ada yang memedulikanmu. Kadang yang diperlukan hanya sedikit peka terhadap sekitar. Disitu kamu akan menyadari betapa banyaknya orang yang peduli, tidak hanya pada kesuksesanmu, tetapi juga pada rapuh dan jatuhmu.

Penting untuk diingat, bahwa setiap orang punya batas dan cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Tidak ada gunanya membandingkan kemampuan diri dengan orang lain, karena tiap-tiap manusia pasti akan menemui titik runtuhnya masing-masing, percayalah. Maka dari itu, jangan biarkan ketakutan-ketakutan tentang masa depan yang tidak pasti mengontrol penuh wilayah pikiran, sebab masih banyak hal menyenangkan yang menantimu di tikungan berikutnya. Ketahuilah, beraneka ragam kebahagiaan telah bertebaran di muka bumi ini, kamu hanya perlu memetiknya satu per satu.

Terakhir yang harus disadari, apabila beban masalah yang sedang dihadapi terasa begitu berat, kamu tidak dituntut untuk menemukan penyelesaian atau mencari jalan keluarnya. Terkadang, tugasmu hanyalah bertahan selama mungkin. Bertahan saja, demi mereka yang senantiasa menunggu tawamu di rumah.

Aug 3, 2025

Segelas Sidikalang, Selepas Terbuang

    

this image was created using ChatGPT
Sido sayang aku po ora? Nek hooh tak omong ibuk.

    Mendewasa, menurutku adalah fase di mana kita sudah tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk keramaian. Kita akan lebih condong mencari tempat yang cenderung lengang apabila ingin menikmati ketenangan atau sekadar mencari ruang nyaman tanpa terganggu dengan derap kencang suara musik. Aku juga tidak terlalu paham apakah itu memang sifat yang lumrah dimiliki setiap orang yang sudah menginjak usia lebih dari seperempat abad, atau hanya bentuk ejawantah dari karakterku sendiri yang sejak awal memang tidak terlalu suka berada di tengah keriuhan.

  Aku lebih tertarik mengeksplorasi tempat berdasarkan apa yang ditawarkannya, tidak sekadar ikut dalam kebiasaan arus utama yang kadang hanya mengikuti trend semata. Terlebih lagi jika tempat-tempat itu kebetulan menyediakan sajian kopi beserta kudapan pelengkap lainnya yang nikmat. Ada beberapa tempat yang selalu jadi andalanku: racikan kopinya pas, suasananya tidak terlalu bising, dan pengunjung yang datang kebanyakan hanya ingin menikmati waktu sendiri, tanpa ingin terganggu dengan suara-suara bising. Di sana jarang sekali terlihat remaja-remaja yang biasanya gemar membuat gaduh sebuah tempat dengan segala tingkah lakunya; seperti sedang aduh kelahi ihwal yang tidak penting, meracau tanpa jeda dengan intonasi yang tinggi, atau tawa memekik yang terkadang mereka tidak sadar bahwa hal tersebut cukup mengganggu orang di sekitarnya.

     Satu tempat yang rutin kuhampiri jika ingin mencari suasana pembeda dengan harapan bisa memantik ide-ide kreatif adalah, sebuah kafe kecil yang memenuhi semua prasyarat sebagai definisi tempat yang nyaman versiku. Tidak hanya sajian-sajian yang ditawarkannya saja yang enak, tetapi juga suasananya cukup mendukung untuk siapa pun yang butuh suasana tenang saat ingin WFA (Work From Anywhere). Seperti biasa, aku selalu kembali dengan menu andalanku; segelas kopi Sidikalang, beserta dua keping kue kering pendamping yang disisipkan di sisi gelas. Diminum lima sampai tujuh menit setelah disajikan di atas meja. Susunannya pasti berulang: gelas kopi berada di sisi kanan laptop dengan diapit dompet dan sebotol air mineral, kemudian di sisi kiri terdapat ponsel serta tumpukan kunci beserta pengisi daya portabel.

    Aku adalah tipe orang yang suka lupa waktu bila terlampau fokus dalam mengerjakan sesuatu, kadang tidak terasa kalau sudah berjam-jam duduk menatap laptop tanpa sempat peduli sekitar. Aku duduk di tempat itu sejak matahari masih menggantung di langit dan tejanya mulai miring menyentuh dinding-dinding kafe, hingga akhirnya malam datang perlahan menjemputnya pulang. Dan ketika jam menunjuk pukul setengah tujuh malam, aku tersadar masih terpaku di kursi yang sama. Namun, perasaan "tanggung" pada setiap pekerjaan yang masih menunggu untuk dituntaskan, membuatku memutuskan untuk memperpanjang durasi berada di tempat itu. Tinggal beberapa lagi sudah rampung, pikirku.

Hingga tiba-tiba, mataku menangkapmu masuk melewati pintu depan.

    Pikiranku langsung gaduh. Aku dan bagian diriku yang lain tengah bersilang pendapat, mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyapamu terlebih dahulu. Namun, tampaknya takdir memang tak suka untuk didesak, karena dia tidak suka berlama-lama menanti gerak lelaki yang keberaniannya terhenti di ujung lidah. Pada akhirnya, kamu yang terlebih dahulu menyapaku dengan gestur khas yang begitu lekat dalam ingatanku.

     Kamu menghampiriku dan kita duduk berhadap-hadapan. Lebih kurang sudah tujuh tahun kita tidak bertemu semenjak terakhir kali bertatap muka saat mengikuti rangkaian acara purnawiyata kala itu. Sekilas yang kuperhatikan, tidak banyak yang berubah dari yang pernah kuingat dalam perjumpaan terakhir kita. Kamu masih tampak elok dalam setiap gerak gerikmu, dan aku masih saja terkesima akan semua itu.

     Aku bersyukur saat itu kondisi antrean cukup padat, sehingga kita memiliki waktu sedikit lebih lama untuk berbincang mengenai banyak hal. Kita bercerita ngalor-ngidul, mulai dari nostalgia masa-masa sekolah hingga update tentang kehidupan masing-masing. Sikap kita bukan seperti seseorang yang sudah lama tidak berjumpa; terlalu mudah bagi kita untuk bisa melebur satu sama lain, seolah gaduh perpisahan kala itu tidak pernah ada.

     Aku coba membangkitkan ingatan-ingatan masa lalu, mengulas kembali semua hal yang pernah kita lakukan bersama-sama. Apa kamu masih suka mendebat lawan bicaramu tentang mana yang lebih nikmat antara Sidikalang atau Gayo? Dan bila kamu sudah jengah dengan tajuk kopi, kamu mengalihkan dengan perdebatan yang lain yaitu antara bubur diaduk atau tidak diaduk. Kamu berkeyakinan bahwa cara terbaik dalam menikmati semangkuk bubur adalah dengan tidak diaduk; alasanmu, estetika juga penting dalam proses kita menikmati sebuah makanan. Di sisi lain, aku masih berpegang teguh pada prinsip bahwa, menikmati hidangan adiluhung seperti bubur melalui cara yang tidak diaduk adalah sebuah penghinaan terbesar pada peradaban umat manusia. Terlepas dari itu semua, rasanya masih banyak persoalan lain yang lebih penting untuk didiskusikan daripada sekadar mempertentangkan cara orang dalam menyantap sebuah hidangan.

    Apa pun perdebatan yang pernah kita diskusikan kala itu, sesungguhnya yang kusukai bukan soal siapa yang menang atau benar. Aku justru lebih menikmati caramu menyusun argumen dengan menyertakan opini-opini yang terlihat begitu meyakinkan, meskipun sering kali isi dari substansinya tidak ada. Tetapi, dengan begitu aku mempunyai jeda waktu lebih panjang untuk bisa memandangi paras indahmu.

    Hingga pesananmu sudah selesai dibuat: dua gelas es kopi susu gula aren tersaji di atas meja. Sejauh yang bisa kuingat, itu bukan menjadi favoritmu dalam memilih jenis sajian kopi. Kamu memberikan penjelasan bahwa spektrum ketertarikan seseorang terhadap sesuatu akan berganti-ganti seiring pertambahan usia. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengusik pikirku: aktivitas apa yang memaksamu untuk meneguk dua gelas es kopi gula aren tinggi kalori dalam waktu bersamaan? Kamu menjelaskan lebih lanjut jika salah satu dari pesanan itu ditujukan untuk kekasihmu yang sedang menunggu di dalam mobil. Ternyata, hari itu kalian baru saja menuntaskan sesi joging bersama di sebuah tempat yang tidak jauh dari kafe tersebut. Sebuah bentuk tetirah yang amat romantis untuk bisa dilabeli sebagai "hubungan yang sehat", baik secara harfiah maupun kiasan.

Seolah kalimat itu ingin menyayatku perlahan-lahan, dan berhasil.

     Selepas itu, kamu berpamitan untuk pergi. Sempat terucap bahwa kamu berharap kita bisa bersua lagi di waktu-waktu mendatang. Aku tidak mengiyakan dan tidak juga menegasikan. Aku masih terkesiap dengan kalimat terakhir yang kamu beri sebelum kita menutup percakapan pada malam itu, tiga kata sederhana yang hingga kini masih sulit untuk kucerna sepenuhnya: "Kau sudah berkekasih"

    Dari terakhir yang pernah kuingat ketika aku coba menyatakan perasaanku, kamu masih di tahap belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku kira itu merupakan alasan yang benar-benar akan kamu pegang erat untuk menolak siapa saja yang berusaha mendekatimu. Tetapi kini aku sadar jika memang bukan aku yang kamu harapkan sedari awal.

    Untuk menyudahi kisah pada hari itu, aku memutuskan untuk kembali memesan one shot espresso. Aku hanya ingin membandingkan mana yang lebih getir: setengah cangkir kopi hitam, atau realitas yang baru saja mengetuk pintu sadarku.

Jul 1, 2025

Ruang Tetirah yang Bernama "Tidak Tahu"

    Saya acap kali kelewat bingung tiap ada seorang kawan yang meminta nasihat mengenai konflik dalam hubungannya. Bukan karena tidak mampu berseloroh atau menyusun ode tentang keretakan, tapi karena saya selalu berpegang pada satu pakem bahwa: memberi testimoni atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya alami adalah manifestasi kebodohan yang mutlak, semacam ejawantah dari masturbasi ego yang berkedok empati.

    Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki arus batin yang tak serupa. Spektrum emosinya terlampau luas, melingkupi rasa takut ditinggal, harap untuk dipahami, hingga peruntungan tentang siapa yang lebih dulu mengalah saat terjadi perdebatan yang memekik tanpa henti. Dan saya, yang bahkan belum pernah menggadaikan tidur demi menjaga seseorang yang ingin didengar di tengah malam, sungguh tidak layak memberi saran yang seolah-olah adiluhung.

   Lantas, apa yang bisa saya katakan? 'Bahwa mereka harus saling mendengar?' 'Bahwa cinta butuh ruang dan waktu?' Bukankah semua itu cuma tajuk kosong dari artikel daring yang ditulis dengan tergesa-gesa, lalu disebarluaskan secara masif, seolah-olah ada satu formula universal untuk mendamaikan pertikaian yang tertanam dalam tapak hubungan. Saya tidak ingin jadi seperti itu, saya tidak ingin menjelma menjadi insan yang mendompleng keresahan pada orang lain hanya demi terlihat relevan. Karena pada akhirnya, konflik bukan soal siapa yang paling benar. Ia adalah tentang siapa yang bersedia kehilangan sebagian egonya agar yang lain tetap merasa cukup.

    Saban kali seseorang berkeluh ihwal hubungannya pada saya, saya lebih sering diam. Saya biarkan mereka menuturkan sendiri fragmen-fragmen yang tercecer. Kadang saya hanya mengangguk, sebab saya tahu, yang mereka cari bukan solusi. Yang mereka cari adalah ruang tetirah, tempat segala keluh bisa dibaringkan tanpa perlu ditimbang-timbang kadar benar-salahnya.

    Dari situ saya belajar, bahwa sebagian dari konflik dalam hubungan sebenarnya tidak berkutat tentang hal-hal besar. Seringkali hanya perihal semiotika yang tidak disepakati: tentang siapa yang harus lebih dulu menyapa, seberapa cepat membalas pesan, atau bagaimana menanggapi perubahan nada dalam satu percakapan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak pernah dibicarakan akhirnya akan menjadi bara yang membakar. Timbul-tenggelam, lalu meledak dalam satu adu kelahi yang tak pernah benar-benar selesai, dan hanya akan meninggalkan gaung pertanyaan: "Kenapa kita jadi begini?"

    Saya pernah menulis, bahwa setiap hubungan adalah barisan kemungkinan yang tidak bisa ditebak. Kita berjalan dengan rasa, bertemu di simpang keterbatasan bahasa, dan berharap lawan bicara bisa membaca apa yang tidak kita tuturkan. Tidak semua orang punya kemauan untuk nguda rasa, ada beberapa tipe manusia yang lebih nyaman menyimpan semuanya sendiri. Sebagian orang hidup dalam strata logika yang berbeda. Ada yang senyap karena kecewa, ada yang kelu karena tidak tahu harus berkata apa. Sayangnya, tidak semua orang tahu cara menyeberangi spektrum itu.

    Maka, bila ada yang bertanya pendapat pada saya tentang hubungan yang sedang dilanda perselisihan, saya hanya bisa menawarkan pada satu kesimpulan sederhana: bahwa kadang cinta tidak perlu disusun dalam rentetan kalimat. Ia cukup dibuktikan dari cara seseorang memilih untuk tetap tinggal, meskipun tidak ada satupun argumen yang berhasil dimenangkan. Dan bila akhirnya ada yang memilih pergi, maka terimalah itu sebagai bagian dari kadar resiko mencintai. Sebab segala yang kita genggam, selalu punya kemungkinan untuk lepas. Itu hukum yang tidak bisa kita tawar, vice versa, kita pun bisa saja jadi yang pihak yang melepaskan.

    Saya kira, tidak ada satu pun yang benar-benar rampung dalam konteks hubungan. Ada yang selesai tapi tidak benar-benar usai, ada yang memilih tetap tinggal tapi jiwanya sudah lama beranjak. Ada yang tetap bersama, tapi hanya sekadar untuk mempertahankan ide tentang kebersamaan itu sendiri. Di balik semua itu, saya hanya bisa merawat diam yang tak sempat jadi suara. Kadang cukup bersandar pada himne yang sentimental, kadang dengan menuliskan sinisme kecil dalam catatan yang kumuat dalam satu goresan ala kadarnya seperti ini.

    Kalau saya boleh jujur, kadang saya iri pada mereka yang berani memboyong rasa ke hadapan konflik. Yang tidak takut dilabeli lemah, yang pandai menata kata, merangkai ejaan, lalu meletakkan perasaan di tengah-tengah percakapan—dengan segala resiko akan ditertawakan, dibantah, atau dicampakkan. Tapi mungkin itulah yang membedakan mereka dengan saya. Mereka memilih untuk hadir, sementara saya lebih sering memilih lengang. Menepi. Karena bagi saya, diam adalah satu-satunya ruang yang tidak mengganggu siapa-siapa.

    Dan dari semua itu, saya akhirnya belajar satu hal yang terpatri hingga saat ini: bahwa tidak semua yang mengerti cara menulis tentang rasa, juga mengerti cara menyampaikannya langsung pada orang yang menjadi sebab dari rasa itu sendiri.