Feb 16, 2026

Tempat Pulang Paling Nyaman Selain Rumah








Kampung tempat kelahiran Ayah selalu menjadi tempat pulang yang paling nyaman, selain rumah yang kini kami tinggali. Dan rasanya, selamanya akan selalu begitu. Sebagai gambaran singkat, dusun itu berada di salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung, yang jaraknya terpaut cukup jauh dari satu dusun ke dusun lain, dipisahkan oleh hamparan perkebunan, persawahan, hingga perbukitan rendah. Memang sudah menjadi karakteristik pemukiman yang berada di daerah lereng gunung yaitu menyebar, penduduknya membangun rumah secara terpisah, mencari lokasi yang landai, subur, dan dekat sumber air. Letak kondisi geografis dusun ini berbatasan langsung dengan kawasan perbukitan lereng Gunung Wilis.

Hidup di wilayah yang asri, sepi, dan teduh tentu terasa begitu menyenangkan—setidaknya jika dilihat dari kacamata generasi sekarang yang kerap jengah pada ritme hidup serba cepat. Untuk mencapai lokasi tersebut, kami harus menempuh ratusan kilometer, perjalanan sekitar empat jam melintasi beberapa kabupaten dan kota. Menjadi tempat pulang yang selalu saya rindukan setiap selepas menunaikan ibadah hari raya. Ingatan terjauh saya tentang pulang ke kampung itu mungkin samar-samar ketika masih SD, itu pun tidak begitu banyak yang bisa saya kumpulkan untuk diceritakan. Yang paling mudah diingat mungkin sekitar SMP, SMA, hingga sekarang.

Namun, yang paling membekas justru keseruan di usia dua belas tahun atau ke bawah, ketika momen mudik ke kampung Ayah menjadi hal yang sudah dinantikan bahkan ketika baru memasuki awal-awal Ramadan. Berjumpa dengan sepupu-sepupu yang jarak usianya terpaut tidak begitu jauh, membuat referensi permainan masih terbilang mirip. Sesampainya di sana, berbagai macam hidangan khas sudah siap tersaji, menunggu untuk kami habiskan. Durasi menginap di sana juga relatif lebih lama jika dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Dahulu, lama kami menetap bisa mencapai maksimal 4 hari sejak keberangkatan dari rumah. Saat itu, sebagai bocah yang masih tahunya cuma main dan main, hanya mendapat jatah waktu berkunjung selama empat hari dalam setahun perjumpaan dengan keluarga jauh merupakan kenelangsaan dalam jalin ikatan darah yang terasa menyesakkan.

Sedikit informasi mengenai mengapa durasi menginap saat mudik terlihat begitu singkat, karena adanya kondisi yang memaksa harus memiliki batas seperti itu, kedua orang tua yang berprofesi sebagai ASN (yang bekerja di lingkungan rumah sakit di bawah naungan Pemerintah Provinsi) pada masa itu masih diwajibkan untuk mengikuti sistem piket, harus siap bergantian jaga dengan pegawai-pegawai yang lain, sekalipun pada musim libur lebaran atau libur panjang lainnya.

Melanjutkan cerita perjalanan ke kampung Ayah. Ketika kendaraan melintasi beberapa area menuju ke arah dusun, Ayah kerap berbagi segelintir cerita yang pernah beliau alami bersama teman-temannya di area tersebut. Dari peristiwa yang seru-seru, hingga pengalaman yang menurutnya cukup menyeramkan. Jika dilalui waktu malam hari, ruas jalan tersebut memang memiliki lampu penerangan yang minim, sehingga pengendara dituntut untuk lebih ekstra waspada. Karena badan jalan berbatasan langsung dengan jurang, sementara di sisi lain terhimpit oleh perbukitan rendah yang menekan seolah menyempitkan ruang gerak. Di sepanjang ruas jalan itu, Ayah selalu menuturkan peristiwa masyhur yang terjadi pada tahun '65, dimana banyak orang-orang yang dihilangkan nyawanya dan kemudian di jasadnya dibuang disekitaran jurang tersebut. Kisah- kisah yang diceritakan tak pernah jauh dari nuansa muram dan getir, seolah menjadi pengantar yang pas sebelum kami tiba di tempat tujuan.

Dusun tempat lahir Ayah terbilang cukup sepi jika dibanding dengan dusun-dusun lain yang sudah kami lintasi sebelumnya, letaknya jauh dari jalan utama yang biasa ramai oleh lalu lalang kendaraan. Suasana dusun selepas Magrib terasa begitu hening, tenang, dan relatif gelap di beberapa titik. Walaupun begitu, saya tetap menobatkan dusun itu sebagai tempat yang cocok digunakan untuk healing, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Banyak hal yang bisa dijelajahi. Berada di sana rasanya seperti kembali ke kehidupan yang slow, menikmati udara pagi hari dengan suhu yang bisa mencapai sekitaran 23°–25°C. Menyusuri jalanan dusun dengan kontur jalan yang naik turun, cukup untuk membakar beberapa kalori, sembari bertegur sapa dengan tetangga kiri–kanan. Di sepanjang mata memandang, kita dimanjakan dengan hamparan sawah berbentuk terasering yang sangat indah. Di sekitarnya, kita juga bisa menikmati rimbunnya perkebunan jeruk, rambutan, atau salak milik warga yang tumbuh subur.

Dahulu, di sisi halaman samping rumah, tumbuh tanaman anggur yang sengaja kami rambatkan hingga membentuk semacam kanopi alami. Sulur-sulurnya menjalar di atas penyangga yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Selain buahnya bisa dipetik dan dinikmati bersama, ia juga menjadi peneduh yang bisa melindungi segala hal di bawahnya dari panas terik matahari. Sementara itu di halaman depan, berdiri pohon rambutan yang setiap musimnya selalu dinanti. Ketika buahnya mulai memerah dan menggantung rimbun, kami tak perlu pergi jauh untuk membeli ke pedagang. Cukup dengan galah dan kesiapan mental dan fisik untuk menerima segala serangan dari semut-semut, rambutan-rambutan itu jatuh satu per satu, anggota keluarga yang lain sudah bersiap untuk memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Pulang ke kampung Ayah perlahan mulai kehilangan keasyikannya sejak masa‐masa SMP hingga saat ini. Pasca sepeninggal nenek dan paman, juga ada saudara yang merantau ke kota lain, membuat suasana rumah menjadi sedikit agak lengang. Durasi menginap di sana pun menjadi lebih sebentar, paling lama hanya semalam menginap dan esok paginya langsung beranjak kembali pulang. Dan yang paling singkat, siang tiba di sana dan setelah Asar langsung bergegas pulang. Sehingga saya merasanya momen bertemu dengan keluarga jauh tidak ubahnya hanya sekadar formalitas dalam memeriahkan hari raya saja. Sedangkan makna dan esensi sebenarnya dari pulang kampung sudah berangsur-angsur memudar. Perjumpaan tidak lagi semenggairahkan seperti dahulu, tidak ada lagi kegiatan susur dusun di pagi hari, tidak ada lagi saling bercengkrama dengan tetangga kanan-kiri, tidak ada lagi pelesir ke tempat wisata bersama sanak saudara.

Kendatipun begitu, saya masih mampu mengingat serta merindukan masa-masa itu dengan utuh hingga kini. Bagi saya, kampung tempat kelahiran Ayah akan selalu menjadi rumah kedua yang paling nyaman untuk dijadikan tempat pulang. Meskipun ada sedikit yang berubah, meskipun beberapa wajah telah tiada, dan meskipun suasana tidak lagi seramai dulu. Namun, dari kehangatan yang pernah tumbuh di sana—sesederhana apa pun bentuknya—akan selamanya tersimpan dalam ingatan.

Sep 27, 2025

Ketahuilah, Dirimu Juga Berharga

Hai, bagaimana kabarnya?
Semoga kamu masih menyisakan ruang untuk bernafas di tengah sibuknya hari-hari belakangan ini.

Kabarnya akhir-akhir ini kerjaan lagi hectic sekali, ya?
Terlebih lagi sudah berada di penghujung bulan, ketika tenggat waktu kerjaan mesti dituntaskan sebelum kalender berganti. Bahkan akhir pekan pun masih harus terseret lembur di kantor, sampai-sampai langkah pulang selalu tertunda hingga larut malam.

Belum lagi hal-hal menjengkelkan lainnya, seperti, kerja kerasmu yang sering kali tidak sepenuhnya mendapat apresiasi. Tapi ya mau bagaimana lagi, memang itu sudah bagian dari tanggung jawab pekerjaan, iya nggak? 

Saya cuma ingin mengingatkan: dalam kesibukan yang seperti apa pun, jangan lupa untuk tetap menjaga kondisi tubuh. Biarkan waktu istirahat tetap menjadi milikmu, jangan sampai terganggu akibat stres pekerjaan yang menumpuk. Berbiasalah, sebab keribetan di usia-usia seperti saat ini memang bagian dari perjalanan hidup yang mau tidak mau harus dijalani. 

Kalau memang sedang lelah, biarkan tubuhmu rebah seharian, bisa juga dibarengi dengan nonton drama Korea, film atau series di platform penyedia layanan streaming favoritmu. Andai kata hari itu lagi jenuh, dan ingin mencari suasana baru, barangkali dengan pergi ke tempat yang menyajikan pemandangan alam bisa mengusir kebosanan. Atau andaikan sedang sedih, menangis saja, tak apa, itu manusiawi kok. Kamu tidak harus selalu tampil kuat setiap saat. Bilamana suasana hati lagi kesal, mungkin bisa terobati dengan beli jajanan-jajanan pedas dan segelas es kopi gula aren atau bisa juga jalan bersama teman-teman untuk berburu tempat ramen yang enak, itu pun termasuk opsi pilihan yang bagus. Pun jika ingin sesegera mungkin meningkatkan kadar dopamin dan serotonin untuk meredam kortisol yang meninggi akibat burnout usai seharian bekerja, salah satu cara sederhana yang bisa ditempuh adalah dengan workout, lari misalnya. Semampunya saja, sesuai dengan kapasitas fisik. Dan sebenarnya masih terlalu banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengusir penat selepas bergulat dengan tumpukan dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerja.

Bila memang sedang merasa kesepian dan butuh teman untuk mengobrol, atau sekadar ingin sambat masalah kehidupan. Jangan ragu menghubungiku, 24/7 siap untuk menerima segala jenis aduan. Saya memang tidak bisa menjanjikan semua masalah akan terpecahkan, tapi saya bisa mendengar, bisa berbagi resah, supaya kamu tidak merasa harus memanggul semuanya sendirian. Jangan pernah khawatir bahwa tidak ada yang memedulikanmu. Kadang yang diperlukan hanya sedikit peka terhadap sekitar. Disitu kamu akan menyadari betapa banyaknya orang yang peduli, tidak hanya pada kesuksesanmu, tetapi juga pada rapuh dan jatuhmu.

Penting untuk diingat, bahwa setiap orang punya batas dan cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Tidak ada gunanya membandingkan kemampuan diri dengan orang lain, karena tiap-tiap manusia pasti akan menemui titik runtuhnya masing-masing, percayalah. Maka dari itu, jangan biarkan ketakutan-ketakutan tentang masa depan yang tidak pasti mengontrol penuh wilayah pikiran, sebab masih banyak hal menyenangkan yang menantimu di tikungan berikutnya. Ketahuilah, beraneka ragam kebahagiaan telah bertebaran di muka bumi ini, kamu hanya perlu memetiknya satu per satu.

Terakhir yang harus disadari, apabila beban masalah yang sedang dihadapi terasa begitu berat, kamu tidak dituntut untuk menemukan penyelesaian atau mencari jalan keluarnya. Terkadang, tugasmu hanyalah bertahan selama mungkin. Bertahan saja, demi mereka yang senantiasa menunggu tawamu di rumah.

Aug 3, 2025

Segelas Sidikalang, Selepas Terbuang

    

this image was created using ChatGPT
Sido sayang aku po ora? Nek hooh tak omong ibuk.

    Mendewasa, menurutku adalah fase di mana kita sudah tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk keramaian. Kita akan lebih condong mencari tempat yang cenderung lengang apabila ingin menikmati ketenangan atau sekadar mencari ruang nyaman tanpa terganggu dengan derap kencang suara musik. Aku juga tidak terlalu paham apakah itu memang sifat yang lumrah dimiliki setiap orang yang sudah menginjak usia lebih dari seperempat abad, atau hanya bentuk ejawantah dari karakterku sendiri yang sejak awal memang tidak terlalu suka berada di tengah keriuhan.

  Aku lebih tertarik mengeksplorasi tempat berdasarkan apa yang ditawarkannya, tidak sekadar ikut dalam kebiasaan arus utama yang kadang hanya mengikuti trend semata. Terlebih lagi jika tempat-tempat itu kebetulan menyediakan sajian kopi beserta kudapan pelengkap lainnya yang nikmat. Ada beberapa tempat yang selalu jadi andalanku: racikan kopinya pas, suasananya tidak terlalu bising, dan pengunjung yang datang kebanyakan hanya ingin menikmati waktu sendiri, tanpa ingin terganggu dengan suara-suara bising. Di sana jarang sekali terlihat remaja-remaja yang biasanya gemar membuat gaduh sebuah tempat dengan segala tingkah lakunya; seperti sedang aduh kelahi ihwal yang tidak penting, meracau tanpa jeda dengan intonasi yang tinggi, atau tawa memekik yang terkadang mereka tidak sadar bahwa hal tersebut cukup mengganggu orang di sekitarnya.

     Satu tempat yang rutin kuhampiri jika ingin mencari suasana pembeda dengan harapan bisa memantik ide-ide kreatif adalah, sebuah kafe kecil yang memenuhi semua prasyarat sebagai definisi tempat yang nyaman versiku. Tidak hanya sajian-sajian yang ditawarkannya saja yang enak, tetapi juga suasananya cukup mendukung untuk siapa pun yang butuh suasana tenang saat ingin WFA (Work From Anywhere). Seperti biasa, aku selalu kembali dengan menu andalanku; segelas kopi Sidikalang, beserta dua keping kue kering pendamping yang disisipkan di sisi gelas. Diminum lima sampai tujuh menit setelah disajikan di atas meja. Susunannya pasti berulang: gelas kopi berada di sisi kanan laptop dengan diapit dompet dan sebotol air mineral, kemudian di sisi kiri terdapat ponsel serta tumpukan kunci beserta pengisi daya portabel.

    Aku adalah tipe orang yang suka lupa waktu bila terlampau fokus dalam mengerjakan sesuatu, kadang tidak terasa kalau sudah berjam-jam duduk menatap laptop tanpa sempat peduli sekitar. Aku duduk di tempat itu sejak matahari masih menggantung di langit dan tejanya mulai miring menyentuh dinding-dinding kafe, hingga akhirnya malam datang perlahan menjemputnya pulang. Dan ketika jam menunjuk pukul setengah tujuh malam, aku tersadar masih terpaku di kursi yang sama. Namun, perasaan "tanggung" pada setiap pekerjaan yang masih menunggu untuk dituntaskan, membuatku memutuskan untuk memperpanjang durasi berada di tempat itu. Tinggal beberapa lagi sudah rampung, pikirku.

Hingga tiba-tiba, mataku menangkapmu masuk melewati pintu depan.

    Pikiranku langsung gaduh. Aku dan bagian diriku yang lain tengah bersilang pendapat, mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyapamu terlebih dahulu. Namun, tampaknya takdir memang tak suka untuk didesak, karena dia tidak suka berlama-lama menanti gerak lelaki yang keberaniannya terhenti di ujung lidah. Pada akhirnya, kamu yang terlebih dahulu menyapaku dengan gestur khas yang begitu lekat dalam ingatanku.

     Kamu menghampiriku dan kita duduk berhadap-hadapan. Lebih kurang sudah tujuh tahun kita tidak bertemu semenjak terakhir kali bertatap muka saat mengikuti rangkaian acara purnawiyata kala itu. Sekilas yang kuperhatikan, tidak banyak yang berubah dari yang pernah kuingat dalam perjumpaan terakhir kita. Kamu masih tampak elok dalam setiap gerak gerikmu, dan aku masih saja terkesima akan semua itu.

     Aku bersyukur saat itu kondisi antrean cukup padat, sehingga kita memiliki waktu sedikit lebih lama untuk berbincang mengenai banyak hal. Kita bercerita ngalor-ngidul, mulai dari nostalgia masa-masa sekolah hingga update tentang kehidupan masing-masing. Sikap kita bukan seperti seseorang yang sudah lama tidak berjumpa; terlalu mudah bagi kita untuk bisa melebur satu sama lain, seolah gaduh perpisahan kala itu tidak pernah ada.

     Aku coba membangkitkan ingatan-ingatan masa lalu, mengulas kembali semua hal yang pernah kita lakukan bersama-sama. Apa kamu masih suka mendebat lawan bicaramu tentang mana yang lebih nikmat antara Sidikalang atau Gayo? Dan bila kamu sudah jengah dengan tajuk kopi, kamu mengalihkan dengan perdebatan yang lain yaitu antara bubur diaduk atau tidak diaduk. Kamu berkeyakinan bahwa cara terbaik dalam menikmati semangkuk bubur adalah dengan tidak diaduk; alasanmu, estetika juga penting dalam proses kita menikmati sebuah makanan. Di sisi lain, aku masih berpegang teguh pada prinsip bahwa, menikmati hidangan adiluhung seperti bubur melalui cara yang tidak diaduk adalah sebuah penghinaan terbesar pada peradaban umat manusia. Terlepas dari itu semua, rasanya masih banyak persoalan lain yang lebih penting untuk didiskusikan daripada sekadar mempertentangkan cara orang dalam menyantap sebuah hidangan.

    Apa pun perdebatan yang pernah kita diskusikan kala itu, sesungguhnya yang kusukai bukan soal siapa yang menang atau benar. Aku justru lebih menikmati caramu menyusun argumen dengan menyertakan opini-opini yang terlihat begitu meyakinkan, meskipun sering kali isi dari substansinya tidak ada. Tetapi, dengan begitu aku mempunyai jeda waktu lebih panjang untuk bisa memandangi paras indahmu.

    Hingga pesananmu sudah selesai dibuat: dua gelas es kopi susu gula aren tersaji di atas meja. Sejauh yang bisa kuingat, itu bukan menjadi favoritmu dalam memilih jenis sajian kopi. Kamu memberikan penjelasan bahwa spektrum ketertarikan seseorang terhadap sesuatu akan berganti-ganti seiring pertambahan usia. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengusik pikirku: aktivitas apa yang memaksamu untuk meneguk dua gelas es kopi gula aren tinggi kalori dalam waktu bersamaan? Kamu menjelaskan lebih lanjut jika salah satu dari pesanan itu ditujukan untuk kekasihmu yang sedang menunggu di dalam mobil. Ternyata, hari itu kalian baru saja menuntaskan sesi joging bersama di sebuah tempat yang tidak jauh dari kafe tersebut. Sebuah bentuk tetirah yang amat romantis untuk bisa dilabeli sebagai "hubungan yang sehat", baik secara harfiah maupun kiasan.

Seolah kalimat itu ingin menyayatku perlahan-lahan, dan berhasil.

     Selepas itu, kamu berpamitan untuk pergi. Sempat terucap bahwa kamu berharap kita bisa bersua lagi di waktu-waktu mendatang. Aku tidak mengiyakan dan tidak juga menegasikan. Aku masih terkesiap dengan kalimat terakhir yang kamu beri sebelum kita menutup percakapan pada malam itu, tiga kata sederhana yang hingga kini masih sulit untuk kucerna sepenuhnya: "Kau sudah berkekasih"

    Dari terakhir yang pernah kuingat ketika aku coba menyatakan perasaanku, kamu masih di tahap belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku kira itu merupakan alasan yang benar-benar akan kamu pegang erat untuk menolak siapa saja yang berusaha mendekatimu. Tetapi kini aku sadar jika memang bukan aku yang kamu harapkan sedari awal.

    Untuk menyudahi kisah pada hari itu, aku memutuskan untuk kembali memesan one shot espresso. Aku hanya ingin membandingkan mana yang lebih getir: setengah cangkir kopi hitam, atau realitas yang baru saja mengetuk pintu sadarku.

Jul 1, 2025

Ruang Tetirah yang Bernama "Tidak Tahu"

    Saya acap kali kelewat bingung tiap ada seorang kawan yang meminta nasihat mengenai konflik dalam hubungannya. Bukan karena tidak mampu berseloroh atau menyusun ode tentang keretakan, tapi karena saya selalu berpegang pada satu pakem bahwa: memberi testimoni atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya alami adalah manifestasi kebodohan yang mutlak, semacam ejawantah dari masturbasi ego yang berkedok empati.

    Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki arus batin yang tak serupa. Spektrum emosinya terlampau luas, melingkupi rasa takut ditinggal, harap untuk dipahami, hingga peruntungan tentang siapa yang lebih dulu mengalah saat terjadi perdebatan yang memekik tanpa henti. Dan saya, yang bahkan belum pernah menggadaikan tidur demi menjaga seseorang yang ingin didengar di tengah malam, sungguh tidak layak memberi saran yang seolah-olah adiluhung.

   Lantas, apa yang bisa saya katakan? 'Bahwa mereka harus saling mendengar?' 'Bahwa cinta butuh ruang dan waktu?' Bukankah semua itu cuma tajuk kosong dari artikel daring yang ditulis dengan tergesa-gesa, lalu disebarluaskan secara masif, seolah-olah ada satu formula universal untuk mendamaikan pertikaian yang tertanam dalam tapak hubungan. Saya tidak ingin jadi seperti itu, saya tidak ingin menjelma menjadi insan yang mendompleng keresahan pada orang lain hanya demi terlihat relevan. Karena pada akhirnya, konflik bukan soal siapa yang paling benar. Ia adalah tentang siapa yang bersedia kehilangan sebagian egonya agar yang lain tetap merasa cukup.

    Saban kali seseorang berkeluh ihwal hubungannya pada saya, saya lebih sering diam. Saya biarkan mereka menuturkan sendiri fragmen-fragmen yang tercecer. Kadang saya hanya mengangguk, sebab saya tahu, yang mereka cari bukan solusi. Yang mereka cari adalah ruang tetirah, tempat segala keluh bisa dibaringkan tanpa perlu ditimbang-timbang kadar benar-salahnya.

    Dari situ saya belajar, bahwa sebagian dari konflik dalam hubungan sebenarnya tidak berkutat tentang hal-hal besar. Seringkali hanya perihal semiotika yang tidak disepakati: tentang siapa yang harus lebih dulu menyapa, seberapa cepat membalas pesan, atau bagaimana menanggapi perubahan nada dalam satu percakapan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak pernah dibicarakan akhirnya akan menjadi bara yang membakar. Timbul-tenggelam, lalu meledak dalam satu adu kelahi yang tak pernah benar-benar selesai, dan hanya akan meninggalkan gaung pertanyaan: "Kenapa kita jadi begini?"

    Saya pernah menulis, bahwa setiap hubungan adalah barisan kemungkinan yang tidak bisa ditebak. Kita berjalan dengan rasa, bertemu di simpang keterbatasan bahasa, dan berharap lawan bicara bisa membaca apa yang tidak kita tuturkan. Tidak semua orang punya kemauan untuk nguda rasa, ada beberapa tipe manusia yang lebih nyaman menyimpan semuanya sendiri. Sebagian orang hidup dalam strata logika yang berbeda. Ada yang senyap karena kecewa, ada yang kelu karena tidak tahu harus berkata apa. Sayangnya, tidak semua orang tahu cara menyeberangi spektrum itu.

    Maka, bila ada yang bertanya pendapat pada saya tentang hubungan yang sedang dilanda perselisihan, saya hanya bisa menawarkan pada satu kesimpulan sederhana: bahwa kadang cinta tidak perlu disusun dalam rentetan kalimat. Ia cukup dibuktikan dari cara seseorang memilih untuk tetap tinggal, meskipun tidak ada satupun argumen yang berhasil dimenangkan. Dan bila akhirnya ada yang memilih pergi, maka terimalah itu sebagai bagian dari kadar resiko mencintai. Sebab segala yang kita genggam, selalu punya kemungkinan untuk lepas. Itu hukum yang tidak bisa kita tawar, vice versa, kita pun bisa saja jadi yang pihak yang melepaskan.

    Saya kira, tidak ada satu pun yang benar-benar rampung dalam konteks hubungan. Ada yang selesai tapi tidak benar-benar usai, ada yang memilih tetap tinggal tapi jiwanya sudah lama beranjak. Ada yang tetap bersama, tapi hanya sekadar untuk mempertahankan ide tentang kebersamaan itu sendiri. Di balik semua itu, saya hanya bisa merawat diam yang tak sempat jadi suara. Kadang cukup bersandar pada himne yang sentimental, kadang dengan menuliskan sinisme kecil dalam catatan yang kumuat dalam satu goresan ala kadarnya seperti ini.

    Kalau saya boleh jujur, kadang saya iri pada mereka yang berani memboyong rasa ke hadapan konflik. Yang tidak takut dilabeli lemah, yang pandai menata kata, merangkai ejaan, lalu meletakkan perasaan di tengah-tengah percakapan—dengan segala resiko akan ditertawakan, dibantah, atau dicampakkan. Tapi mungkin itulah yang membedakan mereka dengan saya. Mereka memilih untuk hadir, sementara saya lebih sering memilih lengang. Menepi. Karena bagi saya, diam adalah satu-satunya ruang yang tidak mengganggu siapa-siapa.

    Dan dari semua itu, saya akhirnya belajar satu hal yang terpatri hingga saat ini: bahwa tidak semua yang mengerti cara menulis tentang rasa, juga mengerti cara menyampaikannya langsung pada orang yang menjadi sebab dari rasa itu sendiri.

Jun 7, 2025

Menjaga Asa Menuju Pentas Piala Dunia

    

Kredit foto: Official website the-afc.com
      

     Sore itu, mendung menggantung di atas langit Senayan, namun di dalam Stadion Utama Gelora Bung Karno, semangat para suporter justru semakin membara, menyala, dan berapi-api. Pada malam yang sarat harap itu, Timnas menuliskan satu babak penting dalam epos panjang sepak bola Indonesia. Kepastian melaju ke fase berikutnya bukan sekadar hasil, melainkan bukti bahwa tekad dan keyakinan bisa membelah jalan menuju mimpi. Piala Dunia 2026 kini bukan bayang semu, tapi cahaya yang mulai tampak di ujung perjalanan. Ketika lagu kebangsaan berkumandang dan puluhan ribu suara menjelma satu getaran, Stadion Gelora Bung Karno seolah menjelma bak altar pengabdian. Punggawa Garuda bermain tidak hanya dengan kaki, tetapi dengan hati yang ditopang jutaan harapan dari pendukungnya. 

    Timnas Indonesia meraih kemenangan tipis namun penuh makna: 1-0 atas China, sebuah skor yang membuka gerbang menuju ronde keempat kualifikasi yang akan digelar Oktober mendatang di Arab Saudi dan Qatar. Gol tunggal itu datang dengan sunyi yang mendebarkan. Ole Romeny, seorang penyerang yang selama ini menjadi kepingan puzzle yang hilang dari skuat Timnas Indonesia, berdiri gagah di titik dua belas pas. Nafas tertahan, waktu seolah membeku, dan seisi stadion pun turut berharap cemas. Lalu, dengan satu langkah mantap dan sepakan menyusur tanah yang meluncur ke sisi kiri gawang, menipu penjaga gawang China yang melompat ke arah sebaliknya. Dan, GOLLL... Stadion pun meledak dalam gegap gempita, dalam riuh syukur dan pelukan-pelukan yang tak ingin lepas.

     Kemenangan ini diraih di tengah badai absennya para pemain kunci. Marselino Ferdinan dan Maarten Paes harus menepi karena akumulasi kartu kuning. Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen yang sedang dibekap cedera, sementara Eliano Reijnders tidak ikut serta karena mendampingi istrinya yang tengah melahirkan. Namun, dari keterbatasan itu justru tercipta kesempatan bagi pemain yang lain untuk menunjukkan tajinya.

     Salah satunya adalah kembalinya seorang tokoh lama: Stefano Lilipaly. Setelah terakhir kali membela Merah Putih pada Agustus 2023, malam itu ia kembali berlari membawa semangat, pengalaman, dan keteduhan dalam setiap sentuhan bolanya. Suaranya menggema, geraknya menular, dan kehadirannya seakan mengingatkan pada khalayak bahwa darah Garuda tak pernah betul-betul hilang dari nadinya.

     Tidak hanya itu, malam itu juga menjadi panggung pertama bagi Beckham Putra di era kepelatihan yang baru. Debutan muda yang langsung menyatu dalam irama tim. Ia nampak tidak canggung sama sekali, juga tak gentar menghadapi lawan, dan justru berkali-kali menyulitkan lini belakang China. Beberapa peluang berbahaya yang tercipta berasal dari kecepatannya, keberaniannya, dan ketajaman instingnya dalam membaca ruang.

     Di bawah mistar, ada nama lain yang juga menorehkan debutnya dengan gemilang: Emil Audero, kiper yang sempat membela klub-klub besar di Seri A Italia seperti Juventus, Venezia, Sampdoria, Inter Milan, dan Como 1907. Ia tidak hanya menjaga gawang, tapi menjaga mimpi seluruh negeri. Beberapa kali ia terbang, menjatuhkan diri, dan menepis bola dengan refleks tajam, menggagalkan peluang emas yang hampir saja membungkam seisi stadion.

     Kemudian di poros tengah, ada sosok Joey Pelupessy. Ia bukan hanya sekadar gelandang bertahan, tetapi juga pemilik ritme permainan pada malam itu. Seperti metronom yang dijalankan dengan presisi ala Pirlo, ia menjaga tempo, menyeimbangkan serangan dan pertahanan, serta menjadi penghubung antar lini yang membuat alur permainan Indonesia begitu rapi dan terstruktur.

   Semua ini menunjukkan satu hal yang tidak terbantahkan: padunya permainan timnas Indonesia. Tidak ada ego, tidak ada keretakan. Yang ada adalah kekompakan yang lahir dari keyakinan bersama bahwa mereka sedang menapaki sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertandingan. Mereka adalah simbol dari harapan, dari kerja keras, dari mimpi yang kini mulai terasa bisa disentuh.

     Lini ke lini berbicara dalam bahasa yang sama. Pertahanan disiplin, lini tengah bekerja tanpa lelah, dan lini serang yang berani menusuk ke jantung pertahanan lawan. segenap pemain dari Liga 1 yang bermain pada malam itu seperti Egy Maulana Vikri, Ricky Kambuaya, Yakob Sayuri, Rizky Ridho, Beckham Putra, dan Stefano Lilipaly menunjukkan bahwa Liga sepak bola dalam negeri memiliki kualitas yang tidak kalah dengan para pemain yang berkarir di luar negeri. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai penghangat bangku cadangan saja, tetapi juga menjadi pelengkap yang sanggup mengubah arah cerita.

    Begitulah malam itu ditutup: dengan pelukan, dengan nyanyian, dan dengan keyakinan. Bahwa kali ini, Garuda benar-benar siap terbang lebih tinggi. Bahwa mimpi itu tak lagi terlalu jauh untuk diraih. Bahwa kita bukan lagi penonton tetap di pinggir panggung, kita kini telah menjadi bagian dari cerita besar sepak bola dunia. Dari Senayan, kita menatap langit dengan satu harap: biarkan bintang-bintang di langit Timur Tengah nanti yang akan menjadi saksi bisu Timnas Indonesia menapaki jejak di panggung agung Piala Dunia 2026.