Aug 20, 2017

Suatu Hari di Bulan Juli.

Suatu hari di bulan Juli. Bersesuaian dengan hari Senin yang dimulai dengan rintik kecil hujan yang perlahan mulai menggenapi seluruh tepian bumi, dan berbarengan dengan awal masuk sekolah selepas libur semester genap. Tapi entah mengapa, sejak langkah saya menjejak masuk ke ruang kelas sebelah kantin itu, segalanya mulai tak sama lagi.

Pandangan saya tertuju pada satu orang asing yang sedang duduk di tengah ruang kelas, dikelilingi oleh wajah-wajah lama yang sudah lebih dulu saya hafal rupa dan suaranya. Mata saya sempat tertambat sebentar pada sosok itu, tidak lama, hanya sepersekian detik, tapi terbilang mampu memantik rasa penasaran. Siapakah gerangan perempuan tersebut? Mengapa hadirnya terasa begitu kontras di tempat yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua?

Sesudah mendapat informasi dari salah satu sohabat, saya baru mengetahui ternyata dia adalah siswi pindahan dari sekolah lain. Sekilas terdengar seperti informasi sederhana yang seharusnya tak membuat debar jantung saya menjadi tak menentu. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya, membentuk gelombang yang tidak bisa saya tenangkan dengan logika. Selepas itu, tindak tanduk saya tampak mulai berubah, sedikit canggung di kelas sendiri, tidak lagi seleluasa seperti sebelum-sebelumnya. Saya menjalani keseharian dengan lebih banyak memperhatikan gerak-geriknya. Mulanya saya menyangka jika ini hanya rasa ketertarikan biasa saja, atau mungkin juga karena saya sedang memasuki fase-fase romansa di usia remaja.

Hingga pada suatu hari yang begitu damai, masih terpatri jelas dalam ingatan. Saat itu bertepatan dengan hari Jumat, sebuah rentetan notifikasi dari aplikasi pesan singkat Line mengusik tidur pagi saya yang begitu tenang. Usut punya usut, ternyata kegaduhan itu disebabkan karena ulah dari teman-teman yang sedang mendiskusikan sesuatu hal di grup kelas. Saya yang masih dalam keadaan setengah sadar, bangun dari kasur dan meraih ponsel yang ada di atas meja, kemudian memantau dengan seksama sebenarnya hal apa yang sedang diperbincangkan. Diantara pelbagai macam pemberitahuan pesan yang masuk, saya mendapati ada satu pesan dari seseorang yang namanya tidak asing. Ternyata perempuan itu menyapa saya terlebih dahulu, lalu dugaan pertama yang muncul di kepala bahwa hal tersebut boleh jadi dilakukan karena ingin menjembatani ruang kosong antara kami. Kegiatan lumrah yang biasa dikerjakan oleh seseorang yang baru memasuki lingkungan baru, berusaha sebisa mungkin untuk lebih akrab dengan semua penghuni tempat tersebut. Sementara saya, dalam kedunguan yang seperti biasa, kemudian bertanya, “Bisa dapat kontakku dari mana?” Lalu, dengan jeda yang hanya satu menit kemudian membalas, “Kita kan satu grup, satu kelas juga, ya dapet dari situ lah” Saat itu saya langsung merasa malu bukan main, mengapa hal sesederhana itu tidak bisa terpikirkan.

Tapi satu yang tidak bisa ditebak, diawali dari satu pesan yang mungkin terlihat biasa itu, kami mengalirkan percakapan yang lebih intens dan tanpa sekat. Mulai dari membincangkan hal-hal yang sepele, hingga saling lempar pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa ditebak jawabannya. Saking cairnya percakapan Jumat itu, sampai-sampai tak terasa hampir memasuki waktu salat Jumat. Kemudian saya pun berpamitan, dan tidak sadar mengakhiri obrolan dengan kalimat: “Nanti sehabis Jumatan aku kabari lagi.” Kalau pun ada yang yang bertanya mengapa hal tersebut saya lakukan, saya sendiri pun tidak tahu, itu terjadi begitu saja. Saya hanya merasa seperti tidak rela bahwa jalin komunikasi akan berakhir sesingkat itu. Ada perasaan yang ingin terus mengenalnya lebih jauh, seolah masih ada bagian dalam dirinya yang belum sempat saya ketahui, dan sebenarnya tidak harus juga. Serangkaian gestur yang tak lazim, yang sebelumnya tak pernah saya lakukan dalam lingkup pertemanan mana pun, membuat saya tersadar—betapa perlahan saya berubah menjadi seseorang yang pandir.

Tapi entah mengapa saya menepati perkataan sebelumnya. Saya menghubunginya kembali, tapi dia merespons dengan keheranan, “Terus kenapa laporan sama aku?” Pada momen itu yang saya lakukan hanya tertawa kecil. Sial. Lagi-lagi saya bertingkah debil. Namun ternyata ada hal menyenangkan dalam kebodohan yang tidak sengaja saya ciptakan itu, sesuatu yang membuat saya merasa serupa bocah kecil yang baru menemukan warna baru di halaman hidupnya yang semula hanya hitam-putih.

Selepas peristiwa hari itu, kami mulai membentuk kebiasaan baru. Saling menyapa, bertukar cerita, bahkan ketika tubuh kami sudah terpisah dari bangku sekolah. Dia menjelma menjadi pesan pertama yang saya baca ketika pagi, dan pesan terakhir yang saya tutup sebelum tidur. Padahal kami berada dalam satu ruang yang sama, dan sangat mudah bagi kami bila ingin mengobrol langsung tanpa harus meminjam sinyal dan kuota. Tapi entah mengapa ruang maya terasa lebih nyaman, lebih hangat, dan lebih jujur. Tanpa perlu khawatir mengganggu atau diganggu oleh siapa pun.

Rupanya ada satu hal yang luput dari perkiraan saya, bahwa segenap hal yang manis pun perlahan mulai menyimpan getirnya sendiri. Seiring waktu yang bergulir, saya mulai bertanya-tanya: apakah yang sedang kami jalani ini murni hanya sebatas hubungan pertemanan biasa? Atau ini hanya saya, yang jatuh terlalu dalam sementara dia tetap berada jauh di permukaan?

Hari berlari menjadi minggu, minggu menua menjadi bulan, dan bulan berlalu menjadi tahun—perlahan tapi pasti, waktu mengikis kedekatan yang terjalin sebelumnya, meninggalkannya sebagai jarak yang tak lagi bisa dijembatani. Entah apa yang menjadi penyebabnya, yang jelas kini komunikasi kami tak lagi seramai dahulu. Tak ada lagi kabar yang saling bersahutan, tak ada lagi pesan yang datang tanpa alasan. Akhirnya, kami hanya berbicara ketika memang ada perlunya saja. Namun yang pasti, dia tetap menjadi ramah, tetap hadir, tetap membalas pesan-pesan saya. Tetapi saya tetap bisa merasakan ada jarak yang tak kasat mata, tumbuh seperti kabut tipis di antara kami. Saya mulai gelisah setiap kali dia terlambat membalas. Saya mulai kecewa ketika ceritanya mulai melibatkan orang lain. Walaupun saya tidak pernah menyatakan apa-apa secara langsung, dan saya tidak pernah menyebut kata “suka” atau “rindu” atau “ingin bersamamu lebih lama”. Tapi semua sikap yang saya perlihatkan adalah isyarat, dan seluruh pesan yang saya kirimkan adalah petunjuk.

Puncaknya adalah, ketika saya tidak sengaja melihat dia tengah berjalan dengan orang lain. Seseorang yang juga saya kenal, perlakuan dan tatapannya ke orang itu nampak istimewa. Dari sanalah kemudian saya baru memahami, barangkali memang sedari awal saya hanya bermain sendiri dalam cerita yang kusebut “kita.” Dan saya perlahan mulai menjauh karena tak tahu lagi bagaimana harus mendekat tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Dia mungkin tidak sadar, atau mungkin sadar akan tetapi memilih untuk tak acuh, justru ketidakpedulian itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar penolakan.

Setiap kali mengenang bulan Juli, saya tidak lagi teringat tentang kali pertama dalam hidup dihukum karena telat datang ke sekolah dengan memakai sepatu putih yang jelas-jelas dilarang. Tapi yang saya ingat adalah pertemuan pertama yang tidak pernah saya ekspektasikan akan berakhir menjadi seberpengaruh ini. Tapi toh, hidup memang seperti itu. Kita tidak pernah bisa memiilh kepada siapa kita akan jatuh cinta, itu sudah ranah Tuhan, yang perlu kita siapkan hanyalah kesiapan untuk patah hati.

Dia, akan senantiasa menjadi salah satu bab terbaik yang hingga saat ini belum pernah berhasil saya akhiri dengan kalimat bahagia. Namun tidak apa-apa. Sebab pernah, di antara malam-malam panjang yang kami habiskan untuk bertukar cerita, saya benar-benar merasa bahagia sebagai manusia.

No comments:

Post a Comment