Jun 1, 2026

Obituari: Kepergian yang Mengingatkan

Pagi tadi, saat sedang menunggu kereta di stasiun, aku mendapat telepon dari Ibu. Beliau mengabarkan kabar duka, bahwa salah seorang tetangga kami baru saja meninggal dunia. Seorang anak yang masih duduk di bangku SMP kelas dua.

Tidak ada riwayat sakit yang serius. Tidak ada tanda-tanda yang membuat orang-orang di sekitarnya bersiap menghadapi kabar duka. Sebagai seorang ibu, tentu kejadian tersebut cukup membuat beliau kepikiran, yang membuatnya menghubungi dan memastikan kondisiku. Apalagi jika dilihat dari segi usia anak itu yang masih sangat muda, bahkan jauh lebih muda daripada aku. Jalan hidupnya, setidaknya dalam bayangan banyak orang, masih terbentang panjang ke depan. Begitulah yang kami pikirkan saat berbincang melalui sambungan telepon.

Kami mengenangnya sebagai anak yang baik dan religius. Cukup rajin mengikuti salat berjamaah di musala dekat rumah, selain itu dia juga dikenal sebagai sosok yang santun kepada tetangga, dan tidak pernah terdengar membuat keonaran. Pribadi yang kehadirannya mudah diterima oleh lingkungan sekitar.

Kemudian ibu juga menceritakan kronologi yang beliau dengar dari keluarga almarhum. Di malam  yang sama sekitar pukul sepuluh, almarhum pulang ke rumah seperti biasa. Bahkan masih menyempatkan untuk makan malam, dan juga masih sempat bercakap dengan keluarga, sebelum akhirnya berpamitan untuk tidur. Tidak ada gelagat yang aneh. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada satu pun tanda yang membuat siapa saja menduga bahwa malam itu akan menjadi malam terakhirnya.

Namun ketika menjelang subuh, ayahnya hendak membangunkan untuk menunaikan salat berjamaah, tubuhnya sudah diketemukan dalam keadaan kaku, nafas dan nadinya juga sudah tidak ada. Besar kemungkinan ia telah mengembuskan napas terakhir beberapa jam sebelumnya, sendirian, dalam tidur nyenyaknya.

Kabar itu membuatku tertegun, kemudian merenungi cukup lama.

Ada banyak hal yang sering kita anggap masih bisa ditunda, seperti: Menghubungi orang tua nanti saja, kalau sudah tidak sibuk. Pulang kampung lain waktu saja, kalau sempat. Berfoto bersama kapan-kapan saja, kalau anggotanya lengkap. Mungkin selama ini, kita hidup dengan keyakinan bahwa masih ada hari esok untuk melakukan semuanya. Padahal kenyataannya, kita tidak pernah tahu siapa yang akan lebih dulu pergi.

Sepenggal kalimat di atas mungkin terdengar seperti klise. Sudah terlalu sering kita jumpai hingga kadang sudah tidak ada lagi gaungnya. Namun pagi ini, kebenaran itu mengetuk pintu sadarku.

Maka untuk siapa saja yang hingga saat ini masih diberkahi kehadiran orang tua, saudara, pasangan, atau anak-anak yang tumbuh sehat di rumah, cobalah meluangkan waktu lebih banyak bersama mereka. Duduk lebih lama, sekedar membincangkan hal yang ringan-ringan saja. Mengabadikan lebih banyak momen, entah itu dalam bentuk foto/video, yang akan kita simpan sebagai kenangan ketika nanti tiba waktunya.

Sebab akan sangat miris, jika bertahun-tahun sepeninggal orang-orag yang kita sayangi, tapi ingatan kita tentang wajah dan suara dari mereka sudah mulai memudar dimakan waktu. Barangkali itulah mengapa kebersamaan selalu layak dirawat selagi masih ada kesempatan. Karena pada akhirnya, hidup hanya akan diukur dari jejak-jejak kenangan yang berhasil kita abadikan dari orang-orang yang kita cintai.