May 26, 2025

Saat Suatu Cinta Harus Jatuh

Kredit foto: @PSSleman

 Sabtu, 24 Mei 2025

      Stadion Gelora Bangkalan menjelma menjadi panggung megah dari duel penuh pertaruhan, suatu kisah penuh tensi tercipta pada sore itu. Tidak hanya tiga angka yang sedang diperebutkan, namun juga satu tempat terakhir untuk tetap berdiri sejajar di pentas teratas sepak bola Indonesia pada musim berikutnya. Di laga pamungkas ini, PSS Sleman datang membawa nasib, dengan ribuan doa yang menempel erat di pundak para punggawanya. Ribuan suporter riuh memadati sudut-sudut stadion, berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru wilayah Indonesia. Mereka hadir turut serta membawa semangat, nyanyian, dan cinta yang sudah tertanam sejak lama. PSS Sleman melakoni partai hidup-mati melawan Madura United, dan kemenangan adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi. Tak cukup sampai di situ, dua pesaing lainnya di papan bawah klasemen, yaitu Barito Putera dan Semen Padang, wajib kalah dari lawannya masing-masing, agar PSS bisa selamat dari jerat degradasi.

     Peluit kick-off babak pertama dibunyikan, pertandingan berjalan penuh gairah dan tensi tinggi sedari menit pertama. Para pemain Super Elja yang turun di sebelas pertama terlihat tampil lepas dan cair, meneruskan tren positif yang sempat tampak dalam laga-laga sebelumnya saat melawan PSM Makassar, PSIS Semarang, dan Persija Jakarta. Umpan-umpan pendek yang mengalir dari kaki ke kaki membentuk pola permainan yang amat memukau. Setiap sentuhan memperlihatkan estetika sepak bola ala-ala klub Eropa, menjadikan pertandingan serupa pertunjukan seni yang begitu memesona. Gol pertama yang ditunggu-tunggu akhirnya datang di menit ke-34 lewat sepakan keras dari Betinho yang mengarah ke pojok kanan bawah dari gawang yang dikawal oleh Aditya Harlan, kemudian disusul gol kedua yang kali ini disumbang oleh Tocantins di menit ke-41 memanfaatkan assist yang manis dari Vico. Sontak harapan melonjak tinggi, peluk bahagia mengalir. Namun tidak ada yang benar-benar bisa tenang, sebab di pertandingan lain, nasib yang sama juga sedang diperebutkan.

Istirahat jeda babak pertama.

    Hasil dari dua pertandingan lain sementara masih belum mengenakkan bagi segenap pendukung PSS Sleman, Barito dan Semen Padang yang diharapkan kalah dari lawan masing-masing justru malah imbang. Harapan terus menggantung di udara, di tribun, wajah-wajah gusar mulai menampakkan wujudnya. Mata yang tadinya berbinar, kini mulai mengarah ke layar ponsel masing-masing, menanti kabar baik dari tempat yang berbeda.

    Paruh kedua dimulai. Sorak-sorai dari para suporter PSS menggema lebih lantang dari babak sebelumnya, gemuruhnya terdengar hingga meredam suara suporter tim tuan rumah. Permainan berlangsung cukup intens, baik PSS maupun Madura United saling jual beli serangan, bahkan di beberapa momen, Madura United hampir saja mampu memperkecil ketertinggalan, namun penampilan menawan dari Alan José di bawah mistar gawang mampu membendung peluang-peluang berbahaya dari para pemain Madura United. Ketika permainan memasuki tensi yang semakin meninggi, PSS Sleman justru menambah keunggulan di menit ke-80. Kali ini, umpan manis yang dilepaskan Tocantins mengudara sempurna dan disambut oleh sundulan tajam dari Cirino yang tidak mampu dibendung oleh kiper lawan, menegaskan dominasi penuh tim tamu di tanah Madura. Namun, petaka justru hadir di pertengahan babak kedua, kabar tak mengenakkan hadir dari laga yang lain, di mana Semen Padang dan Barito Putera sama-sama sedang unggul atas lawannya. Harapan yang semula tumbuh, perlahan mulai layu. Nyanyian mulai lirih, teriak dukungan berganti sepi. Suporter yang semula berdiri gagah, kini mulai duduk terdiam, raut wajah mereka terlihat muram. Sorot-sorot matanya memang menatap jalannya pertandingan, tapi pikirannya mengembara entah ke mana. Semua sadar, waktu berjalan terlalu cepat, kesempatan mulai menyempit, dan harapan perlahan menjadi kepingan yang tak utuh lagi.

    Peluit panjang yang menandakan selesainya pertandingan pun akhirnya ditiupkan. Laga berakhir, begitu pun kesempatan PSS untuk bertahan di Liga 1 pada musim berikutnya. Skor akhir 3-0 untuk kemenangan Super Elja. PSS Sleman memang menang, namun itu tidaklah cukup. PSS resmi turun kasta, tangis haru mulai silih berganti sayup-sayup terdengar. Umpatan-umpatan dan sumpah serapah mulai bersautan, di kanan, kiri, depan, belakang. Tidak ada laki-laki atau perempuan, semuanya adalah pencinta yang tengah menghadapi patah hati kolektif. Duka ini soal kehilangan satu tempat di kasta tertinggi yang sebelumnya sudah diperjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata.

     Dalam beberapa laga terakhir, performa PSS sebenarnya sudah mulai membaik. Sang nahkoda, Pieter Huistra, berhasil membentuk struktur pola bermain yang menjanjikan, pergerakan pemain menjadi lebih dinamis, dan aliran bolanya pun hidup. Tapi, musim Liga tidak cukup hanya mengandalkan di pekan-pekan terakhir, ia adalah maraton panjang yang membutuhkan konsistensi. Dan itu yang tidak dimiliki oleh PSS Sleman sepanjang musim ini. Masalah yang sama terus saja berulang, orang-orang baru yang menduduki kursi manajemen datang dan pergi silih berganti. Strategi berubah-ubah, dan identitas tim diotak-atik seakan tak punya marwah. Seperti tidak ada pelajaran dari masa lalu yang diingat dan dipelajari. Akhirnya, untuk kesekian kali, PSS kembali terjerembab ke tempat yang dahulu pernah ditinggalkan.

    Namun ini bukanlah akhir, Liga 2 bukanlah kubur harapan. Kita pernah mengarungi jalan ini sebelumnya, dan kita tahu bagaimana cara keluar dari sana. Ini adalah momen yang tepat untuk kembali merapatkan barisan, untuk mengingat bahwa cinta paling murni adalah yang tetap bertahan walaupun sorak-sorai sudah mulai menyepi, dan harapan terus diuji oleh kenyataan yang getir. Pada akhirnya, dan bagaimanapun keadaannya, suara pendukung PSS Sleman tak akan pernah padam. Entah di Liga 1, Liga 2, atau di mana pun kaki-kaki para punggawa Super Elja itu berpijak. Dukungan akan tetap menggema, dari sudut-sudut desa hingga ke teras stadion. Cinta untuk PSS Sleman akan tetap menjadi virus yang tumbuh, menular, dan tak bisa dibendung oleh siapa pun. Karena cinta sejati tak akan pernah hilang, bahkan ketika takdir mencoba untuk merenggutnya.


WE WILL STAY FOREVER THIS WAY

May 23, 2025

Hai, apa kabar?

Here I am, playin' with those memories again.

Hai, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya...
Gimana kerjaannya? Lancar?
Katanya akhir-akhir ini lagi sibuk banget ya? 
Hari Sabtu yang mestinya buat istirahat. Tapi, kamu malah masih harus lembur di kantor.
Apa pun itu harus tetap semangat terus ya.

    Kangen nih, udah lama kita nggak ngobrol-ngobrol lagi. Masih ingat nggak hal-hal random yang pernah kita diskusiin sampek dini hari waktu itu? ah, mungkin kamu juga udah lupa, emangnya nggak kangen apa ngelakuin hal-hal kayak gitu lagi? Atau mungkin kamu udah nemuin orang yang lebih asik dari aku? kalau memang begitu adanya, syukur deh, aku juga seneng kalau kamu udah ketemu sama orang yang bisa bikin kamu nyaman, yang bisa memperlakukan kamu dengan baik. Beruntung banget ya dia, bisa bareng-bareng sama kamu terus, bisa jadi tempat istirahat kalau lagi capek, bisa saling support kalau ada masalah, bisa jadi penyemangat kalau lagi jatuh, bisa jadi penghibur kalau lagi sedih, bisa jadi tempat tukar pikiran, pokoknya banyak lagi deh. Tapi sayang, yah... bukan aku yang ada di sana, tapi gapapa, it’s okay, fine... (it’s okay, fine, tapi dibahas semua, hehehe...)

    Tingkat keberanianku mungkin cuma sebatas nulis di blog kayak gini, mana berani aku ungkapin langsung ke kamu. Aku takut, aku takut kalau nanti malah bikin kamu jadi ilfeel sama aku terus pergi deh. Sampai saat ini pun, aku masih belum bisa nemuin caranya biar nggak suka sama kamu, kira-kira ada tips nggak? kalau ada kasih tahu ya, nomorku masih yang lama kok.

    Kalau boleh berandai-andai nih, misalnya, umpamanya, kamu saat ini masih sendiri gitu, kira-kira aku masih ada kesempatan nggak, ya? Gakpapa deh kalau harus nunggu lebih lama lagi, toh aku juga udah nunggu dari dulu, oh iya... tiap tahun juga aku selalu ngungkapin perasaanku ke kamu, pasti kamu nggak ngeh.

Apr 14, 2025

Untuk kamu, Aku Minta Maaf.

Mumpung masih di bulan Syawal, semoga ucapan ini belum basi. Siap-siap, karena mungkin akan sedikit panjang, kayak barang yang udah lama nyangkut di keranjang online shop: telat checkout-nya. Tapi yang satu ini niatnya beneran, sungguh-sungguh.

Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Maaf kalau sedari awal kenal sampai detik ini aku pernah (atau mungkin masih) jadi orang yang terlalu ramai sendiri. Terlalu antusias sendiri, kadang muncul tanpa aba-aba, dan mungkin bikin kamu ngerasa, “ini orang gak capek apa ya, ngomong mulu?”

Belakangan aku sadar, bahwa gak semua hal yang niatnya baik bisa nyaman untuk diterima, apalagi kalau datangnya tiba-tiba, tanpa permisi, dan dengan volume penuh. Mungkin aku pernah melewati batas, tanpa sadar, atau lebih tepatnya: tanpa paham.

Jadi kalau pernah ada hal-hal yang bikin kamu risih, males, atau mungkin kamu cuma pengen diem tapi aku malah nyamber terus... maaf ya. Mungkin saat itu aku cuma lagi sok tahu tentang cara hadir di hidup orang lain, padahal belum cukup ngerti cara bersikap sewajarnya.

Dan satu hal lagi, aku juga sadar, mungkin aku sudah terlalu banyak menyita waktumu. Waktu yang seharusnya bisa kamu pakai buat hal-hal yang lebih penting, lebih tenang, atau lebih berguna, malah habis buat ngeladeni orang yang kadang gak jelas ini. Padahal sebenarnya kamu punya hak penuh untuk gak menghiraukan semua itu. Tapi kamu tetap ada, atau setidaknya masih berusaha sabar... dan untuk itu, aku berterima kasih.

Tapi dari sekian banyak kata-kataku yang kadang gak perlu, yang aneh, yang gak jelas, semoga ada satu dua yang nyampe. Termasuk ucapan ini. Karena ini bukan sekadar basa-basi, tapi bentuk kecil dari rasa hormat yang belum tentu selalu bisa aku tunjukkan dengan cara yang benar.

Semoga di bulan maaf–memaafkan ini akan tetap membawa kelapangan hati, bahkan saat ucapannya datang dari orang yang pikirannya kadang sempit.

Aug 13, 2023

Tentang Seseorang yang Disimpan Waktu

      

this image is generated with AI
Life is too short, talk to your crush.

      Di sebuah kota yang hiruk-pikuknya tak pernah benar-benar tidur, Rafa duduk di tepi ranjangnya, menghela napas panjang sambil menatap satu lembar undangan yang baru saja dapatkan dari seorang teman. Satu nama tertulis di sana, seorang kawan lama yang hendak melangsungkan pernikahan, memasuki babak baru sebagai sepasang suami-istri. Di samping itu, yang membuat Rafa terkejut adalah kabar bahwa Clara, seorang perempuan yang ternyata masih hidup di hatinya, teryata juga turut hadir dalam acara itu. Selepas acara perpisahan sekolah, keduanya menjadi jarang bertemu. Meskipun dahulu mereka hidup dalam satu kelas yang sama.

    Sudah lima tahun sejak terakhir kali keduanya saling bertatap muka. Walaupun kampus tempat mereka menimba ilmu berada di kota yang sama, tapi takdir seolah enggan untuk membiarkan mereka bertemu, dalam ketidaksengajaan sekalipun. Rafa menyimpan Clara tanpa seorang pun yang mengetahui: foto-foto lama, rekaman tawa dari masa sekolah, dan semua kenangan tentang Clara yang masih bisa ia ingat setiap detailnya.

    Saat hari acara tiba, Rafa sudah bersiap dengan penampilannya. Rambutnya dipangkas bersih rapi, mengenakan atasan batik warna merah marun andalannya, dipadupadankan dengan bawahan celana bahan berwarna biru dongker, tidak lupa juga sepasang sneakers putih yang baru dibeli minggu kemarin. Tujuannya hanya satu, ia tidak ingin terlihat lusuh ketika bertemu dengan Clara.

    Sesampainya Rafa di lokasi, terlihat bahwa pesta pernikahan cukup ramai oleh tamu undangan. Banyak wajah yang dikenalinya, sebagian memantik kembali ingatan-ingatan di masa sekolah, dan sebagian lainnya hanya bayang samar dari masa lalu. Namun, sedari awal, Rafa hanya ingin mencari satu sosok. Dan ketika matanya menangkap Clara dari kejauhan yang mengenakan dress biru muda sederhana, Rafa tahu bahwa segalanya tidak banyak berubah. Senyum itu masih mampu merobohkan dunianya dalam sekejap, sama seperti waktu dulu.

    Ketika akhirnya bertegur sapa, juga bersama dengan teman-teman yang lain, mereka berdua sempat berbincang-bincang sejenak. Obrolan template orang yang sudah tidak lama bertemu; mulai dari membahas tentang pekerjaan, tempat tinggal saat ini, atau update perihal kehidupan pribadi masing-masing. Namun, dari semua tajuk yang mereka perbincangkan, tidak ada yang benar-benar mau memulai membicarakan luka. Tak satu pun dari mereka menyebut tentang “dulu”, atau alasan mengapa setelah lulus mereka tak lagi mencoba saling menemukan satu sama lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Clara.

“Masih sama aja kayak dulu, masih konyol, kadang juga masih sering ceroboh,” jawab Rafa, “Masih sama seperti yang terakhir kali kita bertemu, tidak ada yang berubah begitu drastis.”  Tambahnya. 

     Mendengar jawaban itu, Clara pun tersenyum, lalu ia coba mengalihkan pandangannya sejenak, seolah berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Di sekeliling mereka, musik mengalun, lagu-lagu hits dimainkan oleh band pengiring, gelak tawa bersahutan dari berbagai sudut venue, dan sorak-sorai kebahagiaan sedang dirayakan. Di antara keriuhan yang tercipta pada acara tersebut, ada jeda panjang yang tak bisa disela dengan tawa ringan yang menghinggapi antara Rafa dan Clara.

      Tak terasa hari pun mulai menggelap, pesta pun akan segera usai. Rafa menatap Clara untuk yang terakhir kali sebelum keduanya akan berpisah, dan tak tahu kapan akan bertemu kembali. “Andai aku diijinkan untuk berharap,” kata Rafa perlahan, “Rasa-rasanya aku tidak meminta banyak hal, cukup satu percakapan seperti ini, tapi yang tak buru-buru disudahi.”

     Clara menatapnya sekali lagi, kemudian membalas. “Kita bisa berharap akan semua hal, Raf. Tapi harus disadari juga, kalau tidak semua pengharapan kita akan terwujud, dan kita harus tidak apa-apa akan kenyataan itu.”

    Kemudian Clara pun berpamitan kepada Rafa, dan berjalan menjauh di antara lampu-lampu temaram dan nyanyian perpisahan yang sedang dilantukan. Rafa hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang, sama seperti waktu dulu saat mereka merayakan kelulusan, saling berpamitan tanpa sempat benar-benar mengucap “selamat tinggal”.

      Malam itu Rafa pulang dengan hati yang sesak, tapi disisi lain ada ketenangan yang mengiringinya. Meskipun ada luka yang masih belum pulih, tapi ia tak lagi bertanya mengapa. Kadang, pertemuan tidak ditakdirkan untuk berujung pada kebersamaan. Tapi cukup untuk mengingatkan, bahwa pernah ada seseorang yang membuat hatinya percaya bahwa cinta, sekadar hadir saja, sudah cukup untuk dikenang seumur hidup.

Nov 22, 2022

Telaah Nurani

  1.  Ia tak pernah berhenti menyukaimu, karena memang tak pernah memulainya. Yang selama ini hidup dan berkembang hanyalah perasaanmu sendiri, dipupuk oleh harapan dan disirami angan-angan yang tak pernah bersambut.

  2. Dalam situasi yang tak ideal ini, boleh jadi Tuhan sedang menunjukkan jalan lain, jalan yang menjauhkanmu sejenak, agar tak kau sakiti dia yang begitu berarti. Sebab kadang, cinta yang tulus tak selalu dibuktikan dengan kedekatan, tapi dengan keberanian untuk menjauh demi kebaikan.

  3. Siapa pun boleh mencintai, itu anugerah. Tapi tidak semua diberi kesempatan untuk memiliki cinta yang ia doa-doakan di tiap sepertiga malam. Sebab cinta, pada akhirnya, juga memilih siapa yang patut ia datangi.

  4. Telah berkali-kali waktu menyisipkan petunjuk kecil, membisikkan tanda bahwa arahmu keliru. Tapi engkau menolaknya, berpegang erat pada keyakinan bahwa cinta akan tumbuh jika cukup diperjuangkan, meski akar-akarnya tak pernah mendapat tempat.

  5. Cinta tak bisa dicegah, tak bisa dilarang. Ia lahir begitu saja, kadang tanpa logika. Maka biarlah ia menjalar sepuasnya, sebab pada akhirnya, kenyataan sendirilah yang akan menghakimi: menamparnya perlahan, atau menghantamnya tanpa ampun.

  6. Ada tanggung jawab yang tak kasat mata dalam menaruh hati pada sesuatu, yaitu kesediaan untuk remuk redam. Bahwa di balik harapan, selalu ada potensi kekecewaan yang sedang menunggu di ujung jalan.

  7. Barangkali memang benar bahwa kasus terbesar dari patah hati adalah adanya ekspektasi yang dibumihanguskan oleh kenyataan.

  8. Memang sahih, bahwa dari sekian banyak reaksi atas patah hati, bersedih adalah yang paling mudah dan paling manusiawi untuk dipeluk dalam diam.

  9. Hadirnya masih sama seperti sedia kala, meneduhkan dalam diam, menenangkan hingga batas yang tak terucap. Seakan-akan tidak ada hati yang cukup kuat untuk menolak menjadi tempat ia menetap.

  10. Betapa pilunya penolakan itu, sampai-sampai ia tak lagi sanggup mempercayai bahwa semesta pernah menyiapkan celah kecil untuk harapan, seolah segalanya harus benar-benar padam sebelum sempat menyala.

  11. Kendatipun alur ceritnya untuk saat ini masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan, tetap jangan lepas harap pada kuasa ilahi atas kemungkinan-kemungkinan kecil yang bisa mengejutkanmu.

  12. Di bawah langit yang tenang, sebuah kisah dirajut pelan-pelan. Kata demi kata, detik demi detik, semua tertulis dengan kelembutan yang tulus. Namun dibentang harap, lalu menderas hujan. Lalu yang tertinggal hanyalah serpihan luka yang tak sempat diberi nama.

  13. Tanpa suara, hanya langit yang perlahan kelam meski sebelumnya membiru. Dibentang harap di antara kelopak waktu yang menguncup. Tanpa aba-aba, menderas hujan menimpa tanah yang belum sempat menumbuhkan cerita.

  14. Mencintai dan dicintai bukanlah produk dari hukum sebab—akibat. Keduanya berjalan di jalur sunyinya masing-masing, kadang bersilangan, kadang menjauh. Namun, dua-duanya tetap menjadi karunia yang layak disyukuri meski tak selalu saling bertemu.

  15. Dia suka mendengarkan lagu, sama seperti yang kau sering putar.
    Dia suka menyaksiakn film, sama seperti yang kau sering tonton.
    Dia suka apa saja yang juga kau suka, tapi dia tidak menyukaimu.