Aug 13, 2023

Tentang Seseorang yang Disimpan Waktu

      

this image is generated with AI
Life is too short, talk to your crush.

      Di sebuah kota yang hiruk-pikuknya tak pernah benar-benar tidur, Rafa duduk di tepi ranjangnya, menghela napas panjang sambil menatap satu lembar undangan yang baru saja dapatkan dari seorang teman. Satu nama tertulis di sana, seorang kawan lama yang hendak melangsungkan pernikahan, memasuki babak baru sebagai sepasang suami-istri. Di samping itu, yang membuat Rafa terkejut adalah kabar bahwa Clara, seorang perempuan yang ternyata masih hidup di hatinya, teryata juga turut hadir dalam acara itu. Selepas acara perpisahan sekolah, keduanya menjadi jarang bertemu. Meskipun dahulu mereka hidup dalam satu kelas yang sama.

    Sudah lima tahun sejak terakhir kali keduanya saling bertatap muka. Walaupun kampus tempat mereka menimba ilmu berada di kota yang sama, tapi takdir seolah enggan untuk membiarkan mereka bertemu, dalam ketidaksengajaan sekalipun. Rafa menyimpan Clara tanpa seorang pun yang mengetahui: foto-foto lama, rekaman tawa dari masa sekolah, dan semua kenangan tentang Clara yang masih bisa ia ingat setiap detailnya.

    Saat hari acara tiba, Rafa sudah bersiap dengan penampilannya. Rambutnya dipangkas bersih rapi, mengenakan atasan batik warna merah marun andalannya, dipadupadankan dengan bawahan celana bahan berwarna biru dongker, tidak lupa juga sepasang sneakers putih yang baru dibeli minggu kemarin. Tujuannya hanya satu, ia tidak ingin terlihat lusuh ketika bertemu dengan Clara.

    Sesampainya Rafa di lokasi, terlihat bahwa pesta pernikahan cukup ramai oleh tamu undangan. Banyak wajah yang dikenalinya, sebagian memantik kembali ingatan-ingatan di masa sekolah, dan sebagian lainnya hanya bayang samar dari masa lalu. Namun, sedari awal, Rafa hanya ingin mencari satu sosok. Dan ketika matanya menangkap Clara dari kejauhan yang mengenakan dress biru muda sederhana, Rafa tahu bahwa segalanya tidak banyak berubah. Senyum itu masih mampu merobohkan dunianya dalam sekejap, sama seperti waktu dulu.

    Ketika akhirnya bertegur sapa, juga bersama dengan teman-teman yang lain, mereka berdua sempat berbincang-bincang sejenak. Obrolan template orang yang sudah tidak lama bertemu; mulai dari membahas tentang pekerjaan, tempat tinggal saat ini, atau update perihal kehidupan pribadi masing-masing. Namun, dari semua tajuk yang mereka perbincangkan, tidak ada yang benar-benar mau memulai membicarakan luka. Tak satu pun dari mereka menyebut tentang “dulu”, atau alasan mengapa setelah lulus mereka tak lagi mencoba saling menemukan satu sama lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Clara.

“Masih sama aja kayak dulu, masih konyol, kadang juga masih sering ceroboh,” jawab Rafa, “Masih sama seperti yang terakhir kali kita bertemu, tidak ada yang berubah begitu drastis.”  Tambahnya. 

     Mendengar jawaban itu, Clara pun tersenyum, lalu ia coba mengalihkan pandangannya sejenak, seolah berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Di sekeliling mereka, musik mengalun, lagu-lagu hits dimainkan oleh band pengiring, gelak tawa bersahutan dari berbagai sudut venue, dan sorak-sorai kebahagiaan sedang dirayakan. Di antara keriuhan yang tercipta pada acara tersebut, ada jeda panjang yang tak bisa disela dengan tawa ringan yang menghinggapi antara Rafa dan Clara.

      Tak terasa hari pun mulai menggelap, pesta pun akan segera usai. Rafa menatap Clara untuk yang terakhir kali sebelum keduanya akan berpisah, dan tak tahu kapan akan bertemu kembali. “Andai aku diijinkan untuk berharap,” kata Rafa perlahan, “Rasa-rasanya aku tidak meminta banyak hal, cukup satu percakapan seperti ini, tapi yang tak buru-buru disudahi.”

     Clara menatapnya sekali lagi, kemudian membalas. “Kita bisa berharap akan semua hal, Raf. Tapi harus disadari juga, kalau tidak semua pengharapan kita akan terwujud, dan kita harus tidak apa-apa akan kenyataan itu.”

    Kemudian Clara pun berpamitan kepada Rafa, dan berjalan menjauh di antara lampu-lampu temaram dan nyanyian perpisahan yang sedang dilantukan. Rafa hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang, sama seperti waktu dulu saat mereka merayakan kelulusan, saling berpamitan tanpa sempat benar-benar mengucap “selamat tinggal”.

      Malam itu Rafa pulang dengan hati yang sesak, tapi disisi lain ada ketenangan yang mengiringinya. Meskipun ada luka yang masih belum pulih, tapi ia tak lagi bertanya mengapa. Kadang, pertemuan tidak ditakdirkan untuk berujung pada kebersamaan. Tapi cukup untuk mengingatkan, bahwa pernah ada seseorang yang membuat hatinya percaya bahwa cinta, sekadar hadir saja, sudah cukup untuk dikenang seumur hidup.

Nov 22, 2022

Telaah Nurani

  1.  Ia tak pernah berhenti menyukaimu, karena memang tak pernah memulainya. Yang selama ini hidup dan berkembang hanyalah perasaanmu sendiri, dipupuk oleh harapan dan disirami angan-angan yang tak pernah bersambut.

  2. Dalam situasi yang tak ideal ini, boleh jadi Tuhan sedang menunjukkan jalan lain, jalan yang menjauhkanmu sejenak, agar tak kau sakiti dia yang begitu berarti. Sebab kadang, cinta yang tulus tak selalu dibuktikan dengan kedekatan, tapi dengan keberanian untuk menjauh demi kebaikan.

  3. Siapa pun boleh mencintai, itu anugerah. Tapi tidak semua diberi kesempatan untuk memiliki cinta yang ia doa-doakan di tiap sepertiga malam. Sebab cinta, pada akhirnya, juga memilih siapa yang patut ia datangi.

  4. Telah berkali-kali waktu menyisipkan petunjuk kecil, membisikkan tanda bahwa arahmu keliru. Tapi engkau menolaknya, berpegang erat pada keyakinan bahwa cinta akan tumbuh jika cukup diperjuangkan, meski akar-akarnya tak pernah mendapat tempat.

  5. Cinta tak bisa dicegah, tak bisa dilarang. Ia lahir begitu saja, kadang tanpa logika. Maka biarlah ia menjalar sepuasnya, sebab pada akhirnya, kenyataan sendirilah yang akan menghakimi: menamparnya perlahan, atau menghantamnya tanpa ampun.

  6. Ada tanggung jawab yang tak kasat mata dalam menaruh hati pada sesuatu, yaitu kesediaan untuk remuk redam. Bahwa di balik harapan, selalu ada potensi kekecewaan yang sedang menunggu di ujung jalan.

  7. Barangkali memang benar bahwa kasus terbesar dari patah hati adalah adanya ekspektasi yang dibumihanguskan oleh kenyataan.

  8. Memang sahih, bahwa dari sekian banyak reaksi atas patah hati, bersedih adalah yang paling mudah dan paling manusiawi untuk dipeluk dalam diam.

  9. Hadirnya masih sama seperti sedia kala, meneduhkan dalam diam, menenangkan hingga batas yang tak terucap. Seakan-akan tidak ada hati yang cukup kuat untuk menolak menjadi tempat ia menetap.

  10. Betapa pilunya penolakan itu, sampai-sampai ia tak lagi sanggup mempercayai bahwa semesta pernah menyiapkan celah kecil untuk harapan, seolah segalanya harus benar-benar padam sebelum sempat menyala.

  11. Kendatipun alur ceritnya untuk saat ini masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan, tetap jangan lepas harap pada kuasa ilahi atas kemungkinan-kemungkinan kecil yang bisa mengejutkanmu.

  12. Di bawah langit yang tenang, sebuah kisah dirajut pelan-pelan. Kata demi kata, detik demi detik, semua tertulis dengan kelembutan yang tulus. Namun dibentang harap, lalu menderas hujan. Lalu yang tertinggal hanyalah serpihan luka yang tak sempat diberi nama.

  13. Tanpa suara, hanya langit yang perlahan kelam meski sebelumnya membiru. Dibentang harap di antara kelopak waktu yang menguncup. Tanpa aba-aba, menderas hujan menimpa tanah yang belum sempat menumbuhkan cerita.

  14. Mencintai dan dicintai bukanlah produk dari hukum sebab—akibat. Keduanya berjalan di jalur sunyinya masing-masing, kadang bersilangan, kadang menjauh. Namun, dua-duanya tetap menjadi karunia yang layak disyukuri meski tak selalu saling bertemu.

  15. Dia suka mendengarkan lagu, sama seperti yang kau sering putar.
    Dia suka menyaksiakn film, sama seperti yang kau sering tonton.
    Dia suka apa saja yang juga kau suka, tapi dia tidak menyukaimu.

Jun 5, 2020

Didi Kempot: Tembang, Tangis, dan Tanda Waktu

Kredit foto: whatsgroupofficial at Pinterest.

    Di tanah yang mencintai bahasa sebagai warisan, di antara gelombang nada dan suara gamang dari hati yang retak, ada satu nama yang terpatri begitu lekat: Didi Kempot. Lelaki bersahaja itu bukan hanya seorang musisi saja. Dia menjelma menjadi juru bicara dari segenap orang yang tidak bisa mengekspresikan patah hatinya, semacam penerjemah dari air mata yang enggan jatuh secara terang-terangan.

     Pakde Didi, begitu dia akrab dipanggil, adalah sosok legenda yang kariernya menanjak perlahan, dia hadir bukan dengan gegap gempita seperti kebanyakan tokoh populer zaman sekarang—yang dikenal luas bukan karena karya, melainkan karena cara-cara cepat yang gemar dipuja sesaat. Ia tidak mengejar sorot lampu kepopuleran, tapi tetap setia menyalakan suluh dari panggung ke panggung, dari kaset ke kaset, dari lorong kecil kota hingga stasiun kereta, tempat patah hati paling kerap menetap. Ia menyanyikan perasaan orang kebanyakan, dalam bahasa ibu yang tidak pernah kehilangan rumah di telinga masyarakat khususnya di tanah Jawa.

     Bukan perkara mudah menjaga kesetiaan pada satu bahasa dan satu tema: patah hati. Tapi Pakde Didi melakukannya dengan ketulusan seorang seniman, yang tahu persis bahwa luka-luka itu tidak pernah benar-benar usang. Lagu-lagunya bukan sekadar tentang kehilangan, tapi tentang cara manusia mencerna luka yang dimilikinya. Ada yang menangis di bangku stasiun, ditinggal kekasih menuju kota yang lebih menjanjikan. Ada yang dihianati karena tidak punya cukup harta. Ada pula yang mencintai dengan seluruh jiwa, namun tidak pernah dicintai balik. Itu adalah sedikit dari banyaknya tema yang mengangkat tentang patah hati.

    Ratusan lagu tercipta. Dan nyaris semuanya ditulis dengan tangan yang seolah mengerti betul medan luka. Didi Kempot tahu di mana harus meletakkan rasa kecewa, bagaimana menyisipkan harapan dalam jeda, dan kapan membiarkan duka mendekam begitu saja. Lalu, seiring waktu, tembang-tembang itu menemukan nyawanya, bukan hanya di telinga para pendengar lawas, tapi juga di dada generasi baru yang mulai kelelahan menjadi tangguh sepanjang waktu.

    Sekira medio tahun 2019, dalam satu acara YouTube yang dipandu oleh Gofar Hilman, nama Didi Kempot kembali mencuat. Tapi bukan seperti artis lama yang mencoba kembali tenar. Ia justru disambut seperti mata air yang telah lama dirindukan. Lagu-lagunya diputar di mana-mana, di bis kota, di radio kampung, di konser daring, hingga di acara-acara resmi. Yang mendengarkan bukan hanya mereka yang hidup di masa lalu, tapi juga anak-anak muda yang baru pertama kali mengenal duka dari patah hati pertamanya.

     "The Godfather of Broken Heart," begitu gelar yang disematkan oleh para penggemarnya. Dan siapa yang berani membantah? Tidak ada langgam patah hati yang lebih tulus dari milik Pakde Didi. Ia tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya memeluk rasa sakit itu, menghiburnya, dan menjadikannya sebuah lagu. Seperti jargon yang kerap di gaungkan olehnya yaitu, "sakit hati nggak perlu ditangisi, mending dijogeti"

     Namun takdir, seperti biasa, sering mengambil terlalu cepat yang paling berharga. Tahun 2020, pandemi COVID-19 menerpa seluruh penjuru dunia. Panggung-panggung musik, pentas-pentas kesenian, dan segala bentuk kegiatan yang mengundang kerumunan harus ditiadakan untuk sementara waktu hingga kondisi stabil kembali. Interaksi berubah menjadi  pertemuan-pertemuan secara virtual. Dan di tengah keheningan itulah, kabar duka itu datang. Didi Kempot telah pergi. Meninggalkan kita semua, bahkan sebelum kita merasa puas untuk menyaksikannya bernyanyi secara langsung.

      Ada kehampaan yang tidak tergantikan sejak saat itu. Lagu-lagunya memang masih sering kita putar, tetap kita nyanyikan di sela-sela pesta atau setelah mabuk oleh kehilangan. Tapi suara itu, yang serak tapi lembut, yang nyaring tapi menenangkan, sudah tidak bisa lagi kita dengar secara langsung. Hanya tinggal gema yang terus hidup dalam ingatan para pencintanya.

Epilog: Kita boleh beradu pendapat perihal siapa musisi terbaik sepanjang masa. Tapi untuk perkara anthem orang patah hati, tetap Pakde Didi Kempot yang nomor satu, ora keno didebat!

Sep 21, 2019

Balasan Pesan yang Menyesakkan

Ada masa-masa dalam hidup di mana keheningan jauh lebih menyesakkan daripada sekadar kata-kata yang menyakitkan. Keheningan tercipta salah satunya karena segala sesuatu telah kehilangan alasan untuk terus diperjuangkan. Dan aku, barangkali telah terlalu lama bertahan dalam ruang sunyi yang kamu ciptakan, ruang yang kamu istilahkan sebagai sebuah hubungan, tapi isinya hanya aku dan bayanganmu yang semakin samar.

Aku ingat betul awal mula kita mulai akrab. Sederhana, hangat, dan menggembirakan. Ada senyum kecil yang terbentuk setiap kali notifikasi darimu muncul di layar ponselku. Aku akan menghentikan apa pun aktivitas yang tengah kulakukan hanya untuk membaca serta membalas pesanmu. Semuanya terjadi karenaーdalam hidupkuーkamu telah menjadi bagian yang selalu ingin ku dahulukan, bahkan sebelum kamu sendiri menyadarinya.

Tapi lambat laun, sikapmu mulai berbeda. Balasanmu datang terlalu lama, tidak seperti sebelum-sebelumnya, sering kali seperti sisa-sisa tenaga di ujung hari. Aku masih memaklumi, sebab setiap orang punya dunia yang perlu diurus. Namun ketika kesibukan berubah menjadi alasan yang abadi, dan kehadiranku tidak pernah cukup mendesak untuk diperhatikan, aku mulai bertanya-tanya: mungkinkah aku hanya sementara bagimu, sementara kamu sudah menjadi pusat orbitku?

Aku mulai merasa seperti pengemis perhatian, yang selalu menanti kapan waktumu luang, kapan perhatianku pantas untuk disambut. Aku menulis panjang-panjang, kamu membalas singkat. Aku bertanya dengan semangat, kamu menjawab seadanya. Aku hadir sepenuh hati, sedangkan kamu datang dan pergi tanpa permisi.

Begitu banyak malam sudah kulalui dengan ponsel yang selalu berada di dekatku, hanya untuk memastikan kalau aku tidak melewatkan satu pun kabar darimu. Namun semakin lama, aku semakin menyadari: yang sebenarnya kutunggu bukan hanya sekadar balasan, melainkan keyakinan bahwa aku tidak sendiri dalam jalinan ini. Bahwa ada dua hati yang sama-sama sedang berjuang, bukan hanya satu yang terus memanggul segalanya.

Konfliknya bukan terletak pada keterlambatanmu, melainkan pada ketidakpedulian yang begitu terasa. Aku mampu menunggu, tetapi aku tak sanggup terus merasa seperti satu-satunya yang berusaha. Kamu sering mengatakan peduli, namun kehadiranmu selalu datang saat mudah, saat luang, saat segalanya sudah rapi. Seakan aku hanyalah jeda dari riuh duniamu, padahal aku ingin dipercaya menjadi bagian dari duniamu itu.

Hingga pada satu malam yang hening, aku mulai berhenti mengetik. Tidak ada lagi “kamu sedang apa?” Tidak ada lagi “tidak apa-apa kalau sibuk, aku hanya ingin tahu kabarmu.” Aku duduk dan merenungi, kemudian bertanya pada diri sendiri: untuk apa aku terus menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar hadir?

Klimaks dari semua ini tidak muncul dalam ledakan kemarahan atau tangis yang pecah. Yang lahir justru keputusan yang tenang, perlahan, dan tak mungkin lagi untuk diubah. Aku berhenti membalas. Bukan karena rasa peduliku sirna, melainkan karena aku akhirnya memilih peduli pada diriku sendiri. Aku lelah menjadi orang yang tidak dipedulikan, lelah menunggu kabar dari seseorang yang tak pernah menungguku kembali.

Aku akhirnya memahami, bahwa cinta tidak hanya terletak pada siapa yang lebih cepat membalas pesan, melainkan pada siapa yang sungguh ingin hadir. Dan aku membutuhkan seseorang yangーbahkan di tengah kesibukannyaーtetap berusaha membuatku merasa cukup.

Penutup dari semua ini bukanlah pintu yang akan kukunci rapat-rapat, melainkan jalan yang kupilih untuk ditinggalkan perlahan. Dengan kepala tegak. Dengan hati yang belajar: mencintai memang tidak pernah salah, namun menggantungkan diri pada seseorang yang enggan mencintai kembali adalah bentuk dari kebodohan yang hakiki.

Dan bila suatu hari kamu menyadari bahwa aku tidak lagi membalas, semoga kamu paham: diamku bukan bentuk kemarahan. Diamku adalah akhir dari ketulusan yang terlalu lama disepelekan.

Aug 4, 2018

Dalam Dua Tahun Perjumpaan, Aku Jatuh Sendirian

Pada suatu masa yang hanya bisa kurindukan ketika sedang mengingatmu, tentang kita yang pernah berada di bawah atap yang sama. Sebuah tempat sederhana yang menjelma menjadi gelanggang takdir, titik temu antara dua anak manusia yang tidak pernah tahu takdir kedepannya akan berakhir seperti apa. Hari-hari berputar sebagaimana mestinya: ramai di luar, namun selalu meninggalkan jejak tanda tanya di dalam benakku. Tentangmu. Tentang perasaan yang diam-diam tumbuh berseri indah di taman hatiku, memekik dalam keheningan, dan menyuburkan sesuatu yang sebelumnya sudah terlalu lama gersang.

Aku tidak pernah berujar secara langsung bahwa aku menyukaimu. Karena aku harus memastikan terlebih dahulu bahwa rasa yang tercipta bukan sekadar obsesi semu yang tumbuh dari bentang gurau waktu, atau sekadar resurjensi dari rasa penasaranku yang keliru. Aku ingin mencintaimu dengan sesadar-sadarnya, dengan kafah, tidak dengan gegabah. Sebab yang aku takutkan adalah, jika nanti alasanmu bersedih justru karena bersamaku. Maka dari itu aku harus belajar tidak terburu-buru, memastikan bahwa diriku cukup pantas menjadi alasmu untuk selalu bahagia, walaupun hanya sebatas doa yang senantiasa kututurkan selepas ibadah.

Suatu hari pada istirahat jam pertama, salah seorang kawan baik kita berbisik kepadaku, katanya kamu juga menyimpan rasa yang sama kepadaku. Disitu, harapan kecil sempat menyala; aku sempat dibuat berseri-seri oleh kata-katanya, aku dibuatnya terbang setinggi langit. Ada perasaan bahagia yang memercik, seakan-akan dia sedang memberikan sinyal yang tepat bagiku untuk mengutarakan segalanya. Namun katika aku tahu kebenarannya, semua itu runtuh seketika ketika aku tahu bahwa apa yang kudengar hanyalah permainan semu, entah niatnya cuma bercanda atau hanya iseng. Tapi, rasanya seperti rebah dari ketinggian harapan yang terlalu cepat kubangun. Aku terjatuh pada kenyataan yang amat pedih, dan sejak saat itu aku belajar: harapan yang kelewat tinggi selalu menuntut tebusan yang tidak ringan.

Lebih kurang dua tahun kita melewati pelbagai peristiwa, bertukar segala bentuk hal, mulai dari yang paling personal hingga hal yang paling remeh. Namun ketika ada kesempatan, aku tidak pernah berani untuk mengutarakan perasaanku kepadamu. Hingga ketika aku tahu saat kamu mulai dekat dengan orang lain—seseorang yang jauh lebih berani, lebih fasih mengekspresikan rasa, dan lebih mudah disenangi banyak orang—sedangkan aku masih di tempat awal, sembari menggenggam harapanku sendiri, sekalipun yang tersisa hanya serupa titik embun di ujung daun yang siap jatuh kapan saja.

Aku sadar, perangai hatiku selalu gamang. Aku bukan termasuk orang yang mudah diajak berdiskusi. Bahkan berbincang empat mata denganmu saja, aku gemetar. Raut wajahku terlalu jujur, aku tidak bisa terlihat biasa saja di depanmu, rasa suka kepadamu telah mengambil alih ekspresi serta gestur tubuhku. Dunia bisa membacanya, bahkan tanpa aku perlu berkata-kata. Oleh sebab itu, yang bisa kulakukan untuk meredam itu semua hanya dengan cara berdiam, coba menghindari segala bentuk interaksi denganmu. Bagiku, diam serupa benteng, menjadi satu-satunya perlindungan agar hatiku tidak mudah tertimpa oleh luka.

Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk menghilang. Aku coba untuk menghindari segala bentuk interaksi denganmu, karena aku tidak tega terus mengusikmu yang sudah semringah bersama orang lain. Kucoba untuk menutup pintu rapat-rapat: memutus jalin komunikasi, menghilang dari sapa, bahkan berbohong ketika kamu mencariku. Ketika kamu bertanya, aku hanya bisa beralasan bahwa aplikasi pesan milikku sedang dihapus. Padahal sebenarnya aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengendalikan cemburu yang kadung menjalar, menuntut ruang yang terlalu besar di relungku. Aku gegabah, aku jengah, tapi itulah satu-satunya cara yang kupikir bisa menghindarkanku dari keterlukaan yang lebih hebat lagi.

Namun pada realitasnya, aku luluh juga, ternyata aku tidak bisa untuk tidak menghiraukanmu. Aku memilih untuk membuka kembali pintu yang sempat kututup rapat-rapat. Kita pun kembali berbincang seolah tak pernah ada jarak sebelumnya. Masih terekam jelas, kala itu Desember menjelang Januari, hanya beberapa bulan lagi menjelang musim ujian masuk perguruan tinggi. Dari sekian banyak teman sekelas yang mengikuti tes di universitas yang sama, hanya kita berdua yang kebetulan ditempatkan di fakultas yang sama. Sebuah kebetulan yang terlalu magis untuk disebut kebetulan semata. Aku menduga bahwa itu adalah cara semesta untuk mengingatkanku, bahwa rasa ini memang tulen, tidak dubuat-buat, dan sudah terpatri teramat dalam.

Kini, yang tersisa hanyalah fragmen-fragmen yang masih tersimpan rapi di dalam Hippocampus-ku, dan aku berharap selamanya akan tetap seperti itu. Namun ada satu hal yang tidak berubah sampai kapanpun: aku masih akan tetap menyukaimu, dengan kadar yang tulus yang aku bisa, bahkan ketika aku terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung. Ada tanya yang masih mengusik kepalaku: apakah kamu pernah sedikit saja mengingat, bahwa ada seseorang yang menjadikanmu sebagai alasan untuk tersenyum setiap hari, selama lebih kurang dua tahun? Kalaupun ada, cukuplah jika kenangan itu bisa hidup sebagai himne kecil dalam memorimu.