May 23, 2025

Hai, apa kabar?

Here I am, playin' with those memories again.

Hai, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya...
Gimana kerjaannya? Lancar?
Katanya akhir-akhir ini lagi sibuk banget ya? 
Hari Sabtu yang mestinya buat istirahat. Tapi, kamu malah masih harus lembur di kantor.
Apa pun itu harus tetap semangat terus ya.

    Kangen nih, udah lama kita nggak ngobrol-ngobrol lagi. Masih ingat nggak hal-hal random yang pernah kita diskusiin sampek dini hari waktu itu? ah, mungkin kamu juga udah lupa, emangnya nggak kangen apa ngelakuin hal-hal kayak gitu lagi? Atau mungkin kamu udah nemuin orang yang lebih asik dari aku? kalau memang begitu adanya, syukur deh, aku juga seneng kalau kamu udah ketemu sama orang yang bisa bikin kamu nyaman, yang bisa memperlakukan kamu dengan baik. Beruntung banget ya dia, bisa bareng-bareng sama kamu terus, bisa jadi tempat istirahat kalau lagi capek, bisa saling support kalau ada masalah, bisa jadi penyemangat kalau lagi jatuh, bisa jadi penghibur kalau lagi sedih, bisa jadi tempat tukar pikiran, pokoknya banyak lagi deh. Tapi sayang, yah... bukan aku yang ada di sana, tapi gapapa, it’s okay, fine... (it’s okay, fine, tapi dibahas semua, hehehe...)

    Tingkat keberanianku mungkin cuma sebatas nulis di blog kayak gini, mana berani aku ungkapin langsung ke kamu. Aku takut, aku takut kalau nanti malah bikin kamu jadi ilfeel sama aku terus pergi deh. Sampai saat ini pun, aku masih belum bisa nemuin caranya biar nggak suka sama kamu, kira-kira ada tips nggak? kalau ada kasih tahu ya, nomorku masih yang lama kok.

    Kalau boleh berandai-andai nih, misalnya, umpamanya, kamu saat ini masih sendiri gitu, kira-kira aku masih ada kesempatan nggak, ya? Gakpapa deh kalau harus nunggu lebih lama lagi, toh aku juga udah nunggu dari dulu, oh iya... tiap tahun juga aku selalu ngungkapin perasaanku ke kamu, pasti kamu nggak ngeh.

Apr 14, 2025

Untuk kamu, Aku Minta Maaf.

Mumpung masih di bulan Syawal, semoga ucapan ini belum basi. Siap-siap, karena mungkin akan sedikit panjang, kayak barang yang udah lama nyangkut di keranjang online shop: telat checkout-nya. Tapi yang satu ini niatnya beneran, sungguh-sungguh.

Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Maaf kalau sedari awal kenal sampai detik ini aku pernah (atau mungkin masih) jadi orang yang terlalu ramai sendiri. Terlalu antusias sendiri, kadang muncul tanpa aba-aba, dan mungkin bikin kamu ngerasa, “ini orang gak capek apa ya, ngomong mulu?”

Belakangan aku sadar, bahwa gak semua hal yang niatnya baik bisa nyaman untuk diterima, apalagi kalau datangnya tiba-tiba, tanpa permisi, dan dengan volume penuh. Mungkin aku pernah melewati batas, tanpa sadar, atau lebih tepatnya: tanpa paham.

Jadi kalau pernah ada hal-hal yang bikin kamu risih, males, atau mungkin kamu cuma pengen diem tapi aku malah nyamber terus... maaf ya. Mungkin saat itu aku cuma lagi sok tahu tentang cara hadir di hidup orang lain, padahal belum cukup ngerti cara bersikap sewajarnya.

Dan satu hal lagi, aku juga sadar, mungkin aku sudah terlalu banyak menyita waktumu. Waktu yang seharusnya bisa kamu pakai buat hal-hal yang lebih penting, lebih tenang, atau lebih berguna, malah habis buat ngeladeni orang yang kadang gak jelas ini. Padahal sebenarnya kamu punya hak penuh untuk gak menghiraukan semua itu. Tapi kamu tetap ada, atau setidaknya masih berusaha sabar... dan untuk itu, aku berterima kasih.

Tapi dari sekian banyak kata-kataku yang kadang gak perlu, yang aneh, yang gak jelas, semoga ada satu dua yang nyampe. Termasuk ucapan ini. Karena ini bukan sekadar basa-basi, tapi bentuk kecil dari rasa hormat yang belum tentu selalu bisa aku tunjukkan dengan cara yang benar.

Semoga di bulan maaf–memaafkan ini akan tetap membawa kelapangan hati, bahkan saat ucapannya datang dari orang yang pikirannya kadang sempit.

Aug 13, 2023

Tentang Seseorang yang Disimpan Waktu

      

this image is generated with AI
Life is too short, talk to your crush.

      Di sebuah kota yang hiruk-pikuknya tak pernah benar-benar tidur, Rafa duduk di tepi ranjangnya, menghela napas panjang sambil menatap satu lembar undangan yang baru saja dapatkan dari seorang teman. Satu nama tertulis di sana, seorang kawan lama yang hendak melangsungkan pernikahan, memasuki babak baru sebagai sepasang suami-istri. Di samping itu, yang membuat Rafa terkejut adalah kabar bahwa Clara, seorang perempuan yang ternyata masih hidup di hatinya, teryata juga turut hadir dalam acara itu. Selepas acara perpisahan sekolah, keduanya menjadi jarang bertemu. Meskipun dahulu mereka hidup dalam satu kelas yang sama.

    Sudah lima tahun sejak terakhir kali keduanya saling bertatap muka. Walaupun kampus tempat mereka menimba ilmu berada di kota yang sama, tapi takdir seolah enggan untuk membiarkan mereka bertemu, dalam ketidaksengajaan sekalipun. Rafa menyimpan Clara tanpa seorang pun yang mengetahui: foto-foto lama, rekaman tawa dari masa sekolah, dan semua kenangan tentang Clara yang masih bisa ia ingat setiap detailnya.

    Saat hari acara tiba, Rafa sudah bersiap dengan penampilannya. Rambutnya dipangkas bersih rapi, mengenakan atasan batik warna merah marun andalannya, dipadupadankan dengan bawahan celana bahan berwarna biru dongker, tidak lupa juga sepasang sneakers putih yang baru dibeli minggu kemarin. Tujuannya hanya satu, ia tidak ingin terlihat lusuh ketika bertemu dengan Clara.

    Sesampainya Rafa di lokasi, terlihat bahwa pesta pernikahan cukup ramai oleh tamu undangan. Banyak wajah yang dikenalinya, sebagian memantik kembali ingatan-ingatan di masa sekolah, dan sebagian lainnya hanya bayang samar dari masa lalu. Namun, sedari awal, Rafa hanya ingin mencari satu sosok. Dan ketika matanya menangkap Clara dari kejauhan yang mengenakan dress biru muda sederhana, Rafa tahu bahwa segalanya tidak banyak berubah. Senyum itu masih mampu merobohkan dunianya dalam sekejap, sama seperti waktu dulu.

    Ketika akhirnya bertegur sapa, juga bersama dengan teman-teman yang lain, mereka berdua sempat berbincang-bincang sejenak. Obrolan template orang yang sudah tidak lama bertemu; mulai dari membahas tentang pekerjaan, tempat tinggal saat ini, atau update perihal kehidupan pribadi masing-masing. Namun, dari semua tajuk yang mereka perbincangkan, tidak ada yang benar-benar mau memulai membicarakan luka. Tak satu pun dari mereka menyebut tentang “dulu”, atau alasan mengapa setelah lulus mereka tak lagi mencoba saling menemukan satu sama lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Clara.

“Masih sama aja kayak dulu, masih konyol, kadang juga masih sering ceroboh,” jawab Rafa, “Masih sama seperti yang terakhir kali kita bertemu, tidak ada yang berubah begitu drastis.”  Tambahnya. 

     Mendengar jawaban itu, Clara pun tersenyum, lalu ia coba mengalihkan pandangannya sejenak, seolah berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Di sekeliling mereka, musik mengalun, lagu-lagu hits dimainkan oleh band pengiring, gelak tawa bersahutan dari berbagai sudut venue, dan sorak-sorai kebahagiaan sedang dirayakan. Di antara keriuhan yang tercipta pada acara tersebut, ada jeda panjang yang tak bisa disela dengan tawa ringan yang menghinggapi antara Rafa dan Clara.

      Tak terasa hari pun mulai menggelap, pesta pun akan segera usai. Rafa menatap Clara untuk yang terakhir kali sebelum keduanya akan berpisah, dan tak tahu kapan akan bertemu kembali. “Andai aku diijinkan untuk berharap,” kata Rafa perlahan, “Rasa-rasanya aku tidak meminta banyak hal, cukup satu percakapan seperti ini, tapi yang tak buru-buru disudahi.”

     Clara menatapnya sekali lagi, kemudian membalas. “Kita bisa berharap akan semua hal, Raf. Tapi harus disadari juga, kalau tidak semua pengharapan kita akan terwujud, dan kita harus tidak apa-apa akan kenyataan itu.”

    Kemudian Clara pun berpamitan kepada Rafa, dan berjalan menjauh di antara lampu-lampu temaram dan nyanyian perpisahan yang sedang dilantukan. Rafa hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang, sama seperti waktu dulu saat mereka merayakan kelulusan, saling berpamitan tanpa sempat benar-benar mengucap “selamat tinggal”.

      Malam itu Rafa pulang dengan hati yang sesak, tapi disisi lain ada ketenangan yang mengiringinya. Meskipun ada luka yang masih belum pulih, tapi ia tak lagi bertanya mengapa. Kadang, pertemuan tidak ditakdirkan untuk berujung pada kebersamaan. Tapi cukup untuk mengingatkan, bahwa pernah ada seseorang yang membuat hatinya percaya bahwa cinta, sekadar hadir saja, sudah cukup untuk dikenang seumur hidup.

Nov 22, 2022

Telaah Nurani

  1.  Ia tak pernah berhenti menyukaimu, karena memang tak pernah memulainya. Yang selama ini hidup dan berkembang hanyalah perasaanmu sendiri, dipupuk oleh harapan dan disirami angan-angan yang tak pernah bersambut.

  2. Dalam situasi yang tak ideal ini, boleh jadi Tuhan sedang menunjukkan jalan lain, jalan yang menjauhkanmu sejenak, agar tak kau sakiti dia yang begitu berarti. Sebab kadang, cinta yang tulus tak selalu dibuktikan dengan kedekatan, tapi dengan keberanian untuk menjauh demi kebaikan.

  3. Siapa pun boleh mencintai, itu anugerah. Tapi tidak semua diberi kesempatan untuk memiliki cinta yang ia doa-doakan di tiap sepertiga malam. Sebab cinta, pada akhirnya, juga memilih siapa yang patut ia datangi.

  4. Telah berkali-kali waktu menyisipkan petunjuk kecil, membisikkan tanda bahwa arahmu keliru. Tapi engkau menolaknya, berpegang erat pada keyakinan bahwa cinta akan tumbuh jika cukup diperjuangkan, meski akar-akarnya tak pernah mendapat tempat.

  5. Cinta tak bisa dicegah, tak bisa dilarang. Ia lahir begitu saja, kadang tanpa logika. Maka biarlah ia menjalar sepuasnya, sebab pada akhirnya, kenyataan sendirilah yang akan menghakimi: menamparnya perlahan, atau menghantamnya tanpa ampun.

  6. Ada tanggung jawab yang tak kasat mata dalam menaruh hati pada sesuatu, yaitu kesediaan untuk remuk redam. Bahwa di balik harapan, selalu ada potensi kekecewaan yang sedang menunggu di ujung jalan.

  7. Barangkali memang benar bahwa kasus terbesar dari patah hati adalah adanya ekspektasi yang dibumihanguskan oleh kenyataan.

  8. Memang sahih, bahwa dari sekian banyak reaksi atas patah hati, bersedih adalah yang paling mudah dan paling manusiawi untuk dipeluk dalam diam.

  9. Hadirnya masih sama seperti sedia kala, meneduhkan dalam diam, menenangkan hingga batas yang tak terucap. Seakan-akan tidak ada hati yang cukup kuat untuk menolak menjadi tempat ia menetap.

  10. Betapa pilunya penolakan itu, sampai-sampai ia tak lagi sanggup mempercayai bahwa semesta pernah menyiapkan celah kecil untuk harapan, seolah segalanya harus benar-benar padam sebelum sempat menyala.

  11. Kendatipun alur ceritnya untuk saat ini masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan, tetap jangan lepas harap pada kuasa ilahi atas kemungkinan-kemungkinan kecil yang bisa mengejutkanmu.

  12. Di bawah langit yang tenang, sebuah kisah dirajut pelan-pelan. Kata demi kata, detik demi detik, semua tertulis dengan kelembutan yang tulus. Namun dibentang harap, lalu menderas hujan. Lalu yang tertinggal hanyalah serpihan luka yang tak sempat diberi nama.

  13. Tanpa suara, hanya langit yang perlahan kelam meski sebelumnya membiru. Dibentang harap di antara kelopak waktu yang menguncup. Tanpa aba-aba, menderas hujan menimpa tanah yang belum sempat menumbuhkan cerita.

  14. Mencintai dan dicintai bukanlah produk dari hukum sebab—akibat. Keduanya berjalan di jalur sunyinya masing-masing, kadang bersilangan, kadang menjauh. Namun, dua-duanya tetap menjadi karunia yang layak disyukuri meski tak selalu saling bertemu.

  15. Dia suka mendengarkan lagu, sama seperti yang kau sering putar.
    Dia suka menyaksiakn film, sama seperti yang kau sering tonton.
    Dia suka apa saja yang juga kau suka, tapi dia tidak menyukaimu.

Jun 5, 2020

Didi Kempot: Tembang, Tangis, dan Tanda Waktu

Kredit foto: whatsgroupofficial at Pinterest.

    Di tanah yang mencintai bahasa sebagai warisan, di antara gelombang nada dan suara gamang dari hati yang retak, ada satu nama yang terpatri begitu lekat: Didi Kempot. Lelaki bersahaja itu bukan hanya seorang musisi saja. Dia menjelma menjadi juru bicara dari segenap orang yang tidak bisa mengekspresikan patah hatinya, semacam penerjemah dari air mata yang enggan jatuh secara terang-terangan.

     Pakde Didi, begitu dia akrab dipanggil, adalah sosok legenda yang kariernya menanjak perlahan, dia hadir bukan dengan gegap gempita seperti kebanyakan tokoh populer zaman sekarang—yang dikenal luas bukan karena karya, melainkan karena cara-cara cepat yang gemar dipuja sesaat. Ia tidak mengejar sorot lampu kepopuleran, tapi tetap setia menyalakan suluh dari panggung ke panggung, dari kaset ke kaset, dari lorong kecil kota hingga stasiun kereta, tempat patah hati paling kerap menetap. Ia menyanyikan perasaan orang kebanyakan, dalam bahasa ibu yang tidak pernah kehilangan rumah di telinga masyarakat khususnya di tanah Jawa.

     Bukan perkara mudah menjaga kesetiaan pada satu bahasa dan satu tema: patah hati. Tapi Pakde Didi melakukannya dengan ketulusan seorang seniman, yang tahu persis bahwa luka-luka itu tidak pernah benar-benar usang. Lagu-lagunya bukan sekadar tentang kehilangan, tapi tentang cara manusia mencerna luka yang dimilikinya. Ada yang menangis di bangku stasiun, ditinggal kekasih menuju kota yang lebih menjanjikan. Ada yang dihianati karena tidak punya cukup harta. Ada pula yang mencintai dengan seluruh jiwa, namun tidak pernah dicintai balik. Itu adalah sedikit dari banyaknya tema yang mengangkat tentang patah hati.

    Ratusan lagu tercipta. Dan nyaris semuanya ditulis dengan tangan yang seolah mengerti betul medan luka. Didi Kempot tahu di mana harus meletakkan rasa kecewa, bagaimana menyisipkan harapan dalam jeda, dan kapan membiarkan duka mendekam begitu saja. Lalu, seiring waktu, tembang-tembang itu menemukan nyawanya, bukan hanya di telinga para pendengar lawas, tapi juga di dada generasi baru yang mulai kelelahan menjadi tangguh sepanjang waktu.

    Sekira medio tahun 2019, dalam satu acara YouTube yang dipandu oleh Gofar Hilman, nama Didi Kempot kembali mencuat. Tapi bukan seperti artis lama yang mencoba kembali tenar. Ia justru disambut seperti mata air yang telah lama dirindukan. Lagu-lagunya diputar di mana-mana, di bis kota, di radio kampung, di konser daring, hingga di acara-acara resmi. Yang mendengarkan bukan hanya mereka yang hidup di masa lalu, tapi juga anak-anak muda yang baru pertama kali mengenal duka dari patah hati pertamanya.

     "The Godfather of Broken Heart," begitu gelar yang disematkan oleh para penggemarnya. Dan siapa yang berani membantah? Tidak ada langgam patah hati yang lebih tulus dari milik Pakde Didi. Ia tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya memeluk rasa sakit itu, menghiburnya, dan menjadikannya sebuah lagu. Seperti jargon yang kerap di gaungkan olehnya yaitu, "sakit hati nggak perlu ditangisi, mending dijogeti"

     Namun takdir, seperti biasa, sering mengambil terlalu cepat yang paling berharga. Tahun 2020, pandemi COVID-19 menerpa seluruh penjuru dunia. Panggung-panggung musik, pentas-pentas kesenian, dan segala bentuk kegiatan yang mengundang kerumunan harus ditiadakan untuk sementara waktu hingga kondisi stabil kembali. Interaksi berubah menjadi  pertemuan-pertemuan secara virtual. Dan di tengah keheningan itulah, kabar duka itu datang. Didi Kempot telah pergi. Meninggalkan kita semua, bahkan sebelum kita merasa puas untuk menyaksikannya bernyanyi secara langsung.

      Ada kehampaan yang tidak tergantikan sejak saat itu. Lagu-lagunya memang masih sering kita putar, tetap kita nyanyikan di sela-sela pesta atau setelah mabuk oleh kehilangan. Tapi suara itu, yang serak tapi lembut, yang nyaring tapi menenangkan, sudah tidak bisa lagi kita dengar secara langsung. Hanya tinggal gema yang terus hidup dalam ingatan para pencintanya.

Epilog: Kita boleh beradu pendapat perihal siapa musisi terbaik sepanjang masa. Tapi untuk perkara anthem orang patah hati, tetap Pakde Didi Kempot yang nomor satu, ora keno didebat!