Aug 4, 2018

Dalam Dua Tahun Perjumpaan, Aku Jatuh Sendirian

Pada suatu masa yang hanya bisa kurindukan ketika sedang mengingatmu, tentang kita yang pernah berada di bawah atap yang sama. Sebuah tempat sederhana yang menjelma menjadi gelanggang takdir, titik temu antara dua anak manusia yang tidak pernah tahu takdir kedepannya akan berakhir seperti apa. Hari-hari berputar sebagaimana mestinya: ramai di luar, namun selalu meninggalkan jejak tanda tanya di dalam benakku. Tentangmu. Tentang perasaan yang diam-diam tumbuh berseri indah di taman hatiku, memekik dalam keheningan, dan menyuburkan sesuatu yang sebelumnya sudah terlalu lama gersang.

Aku tidak pernah berujar secara langsung bahwa aku menyukaimu. Karena aku harus memastikan terlebih dahulu bahwa rasa yang tercipta bukan sekadar obsesi semu yang tumbuh dari bentang gurau waktu, atau sekadar resurjensi dari rasa penasaranku yang keliru. Aku ingin mencintaimu dengan sesadar-sadarnya, dengan kafah, tidak dengan gegabah. Sebab yang aku takutkan adalah, jika nanti alasanmu bersedih justru karena bersamaku. Maka dari itu aku harus belajar tidak terburu-buru, memastikan bahwa diriku cukup pantas menjadi alasmu untuk selalu bahagia, walaupun hanya sebatas doa yang senantiasa kututurkan selepas ibadah.

Suatu hari pada istirahat jam pertama, salah seorang kawan baik kita berbisik kepadaku, katanya kamu juga menyimpan rasa yang sama kepadaku. Disitu, harapan kecil sempat menyala; aku sempat dibuat berseri-seri oleh kata-katanya, aku dibuatnya terbang setinggi langit. Ada perasaan bahagia yang memercik, seakan-akan dia sedang memberikan sinyal yang tepat bagiku untuk mengutarakan segalanya. Namun katika aku tahu kebenarannya, semua itu runtuh seketika ketika aku tahu bahwa apa yang kudengar hanyalah permainan semu, entah niatnya cuma bercanda atau hanya iseng. Tapi, rasanya seperti rebah dari ketinggian harapan yang terlalu cepat kubangun. Aku terjatuh pada kenyataan yang amat pedih, dan sejak saat itu aku belajar: harapan yang kelewat tinggi selalu menuntut tebusan yang tidak ringan.

Lebih kurang dua tahun kita melewati pelbagai peristiwa, bertukar segala bentuk hal, mulai dari yang paling personal hingga hal yang paling remeh. Namun ketika ada kesempatan, aku tidak pernah berani untuk mengutarakan perasaanku kepadamu. Hingga ketika aku tahu saat kamu mulai dekat dengan orang lain—seseorang yang jauh lebih berani, lebih fasih mengekspresikan rasa, dan lebih mudah disenangi banyak orang—sedangkan aku masih di tempat awal, sembari menggenggam harapanku sendiri, sekalipun yang tersisa hanya serupa titik embun di ujung daun yang siap jatuh kapan saja.

Aku sadar, perangai hatiku selalu gamang. Aku bukan termasuk orang yang mudah diajak berdiskusi. Bahkan berbincang empat mata denganmu saja, aku gemetar. Raut wajahku terlalu jujur, aku tidak bisa terlihat biasa saja di depanmu, rasa suka kepadamu telah mengambil alih ekspresi serta gestur tubuhku. Dunia bisa membacanya, bahkan tanpa aku perlu berkata-kata. Oleh sebab itu, yang bisa kulakukan untuk meredam itu semua hanya dengan cara berdiam, coba menghindari segala bentuk interaksi denganmu. Bagiku, diam serupa benteng, menjadi satu-satunya perlindungan agar hatiku tidak mudah tertimpa oleh luka.

Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk menghilang. Aku coba untuk menghindari segala bentuk interaksi denganmu, karena aku tidak tega terus mengusikmu yang sudah semringah bersama orang lain. Kucoba untuk menutup pintu rapat-rapat: memutus jalin komunikasi, menghilang dari sapa, bahkan berbohong ketika kamu mencariku. Ketika kamu bertanya, aku hanya bisa beralasan bahwa aplikasi pesan milikku sedang dihapus. Padahal sebenarnya aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengendalikan cemburu yang kadung menjalar, menuntut ruang yang terlalu besar di relungku. Aku gegabah, aku jengah, tapi itulah satu-satunya cara yang kupikir bisa menghindarkanku dari keterlukaan yang lebih hebat lagi.

Namun pada realitasnya, aku luluh juga, ternyata aku tidak bisa untuk tidak menghiraukanmu. Aku memilih untuk membuka kembali pintu yang sempat kututup rapat-rapat. Kita pun kembali berbincang seolah tak pernah ada jarak sebelumnya. Masih terekam jelas, kala itu Desember menjelang Januari, hanya beberapa bulan lagi menjelang musim ujian masuk perguruan tinggi. Dari sekian banyak teman sekelas yang mengikuti tes di universitas yang sama, hanya kita berdua yang kebetulan ditempatkan di fakultas yang sama. Sebuah kebetulan yang terlalu magis untuk disebut kebetulan semata. Aku menduga bahwa itu adalah cara semesta untuk mengingatkanku, bahwa rasa ini memang tulen, tidak dubuat-buat, dan sudah terpatri teramat dalam.

Kini, yang tersisa hanyalah fragmen-fragmen yang masih tersimpan rapi di dalam Hippocampus-ku, dan aku berharap selamanya akan tetap seperti itu. Namun ada satu hal yang tidak berubah sampai kapanpun: aku masih akan tetap menyukaimu, dengan kadar yang tulus yang aku bisa, bahkan ketika aku terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung. Ada tanya yang masih mengusik kepalaku: apakah kamu pernah sedikit saja mengingat, bahwa ada seseorang yang menjadikanmu sebagai alasan untuk tersenyum setiap hari, selama lebih kurang dua tahun? Kalaupun ada, cukuplah jika kenangan itu bisa hidup sebagai himne kecil dalam memorimu.

Feb 10, 2018

Harapan yang Menghilang Karena Seonggok Boneka Beruang

    

this image is generated with AI
Loro ati kan? Salah e tulus.

Di sebuah Sekolah Menengah Atas yang bertempat di pinggiran kota, Brian dikenal sebagai siswa yang pendiam. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, kecuali saat menjawab pertanyaan guru atau mengangguk pada sapaan teman. Namun, dibalik tidak banyak omongnya itu, ia senantiasa menyimpan peruntungan yang tidak seorang pun yang tahu: bahwa dia memiliki ketertarikan pada seorang perempuan, teman sekelasnya. Brian selalu menggambarkannya sebagai sosok ceria yang senyumnya bisa memantik semangat bahkan di pagi mendung yang terasa kelewat lengang.

Perkenalan mereka tidak berawal dari kisah yang memantik perhatian di sekelilingnya. Jalin perkenalan yang terjadi justru dimulai dari hanya saling meminjam alat tulis, kemudian berlanjut dengan bertukar cerita melalui aplikasi pesan singkat LINE atau WhatsApp. Namanya Claudia, seorang perempuan yang mampu membuncah-kan rasa kagum Brian hanya dengan perhatian-perhatian sederhana yang terasa cukup spesial. Selepas perkenalan dan kedekatan itu terjadi, hari-hari Brian terasa lebih berwarna. Ia yang biasanya menjauh dari keramaian dan lebih memilih untuk duduk sendiri di pojok kantin, kini lebih sering untuk berbagi bangku dengan Claudia, sesekali mereka menyeruput teh poci sambil membicarakan ihwal remeh yang justru terasa elok.

Kebiasaan itu menjadi semacam tajuk utama dalam keseharian Brian. Dia pun mendapati dirinya sedang menyukai Claudia, meskipun ia tak pernah berani menggadai egonya dengan sebuah pernyataan secara terbuka kepada Claudia. Namun bila dilihat dari caranya memandang, dari barisan waktu yang ia dompleng-kan untuk selalu punya kesempatan untuk dekat dengan Claudia. Semuanya dapat dimaknai sebagai bentuk testimoni yang lebih kuat dari sekadar ejaan untaian puja.

Kisah itu menemukan jejasnya pada suatu siang selepas ujian akhir semester gasal. Brian duduk sendiri di warung kantin langganannya, berusaha untuk menenangkan diri selepas adu kelahi dengan soal Geografi dan Matematika yang membuat kepalanya terasa sesak. Segelas es teh poci yang ia teguk ternyata hanya mampu sedikit meredakan rasa kelu. Terlalu asyik duduk santai ditambah sepoi-sepoi angin yang menerpa, sehingga ia tidak sadar bahwa matahari mulai agak condong ke barat.

Ketika dia kembali ke kelasnya, pintu yang terbuka memperlihatkan pemandangan yang membuatnya terkesiap. Di dalam ruangan yang sudah lengang itu, terlihat seorang siswa dari kelas lain tengah berlutut di hadapan Claudia, sembari memboyong sebuah boneka beruang besar sebagai bentuk penanda rasa. Dunia Brian seolah membeku, arus pikirannya terhenti, ia tak tahu harus berekspresi seperti apa. Dengan suara yang cukup pelan, ia pun mengucapkan permintaan maaf karena merasa telah mengganggu momen tersebut, kemudian bergegas mengemasi barang-barangnya dan segera beranjak keluar. Tapak jejaknya ketika meninggalkan tempat itu terlihat begitu berat, seolah setiap langkah adalah runtuhan puing yang mengganjal di relung hatinya.

Hari-hari setelah peristiwa tersebut pun diliputi keheningan di antara mereka berdua. Tidak ada lagi senyum yang saling bertautan di sepanjang koridor sekolah. Tidak ada lagi obrolan ringan yang meromantisasi seperti saat berada di kantin. Mereka serupa dua orang yang pernah membangun khazanah kecil kebersamaan, lalu kembali menjadi asing. Brian tidak pernah menanyakan, Claudia tidak pernah menjelaskan. Hening itu menjadi jeda pasca peristiwa, seolah takdir merangkai rekayasa yang kafah untuk membuat keduanya berjarak.

Namun, setiap peradaban kecil yang pernah terbentuk di dalam hati, punya cara tersendiri untuk rampung. Brian pun belajar menerima. Bahwa tidak semua kesukaan harus mendapat validasi dalam bentuk kepemilikan. Bahwa kebersamaan kadang hanya jejak sesaat, meskipun sesak ketika diingat, tetapi tetap relevan sebagai bagian dari kilas balik hidup.

Dan jika suatu saat ada yang bertanya padanya tentang apa yang pernah membuat hidupnya terasa berarti, Brian akan menjawab dengan lugas, "Waktu itu, saat aku duduk di kantin, menyeruput segelas teh poci, mendengar Claudia bercerita, kemudian tertawa bersama, lepas."

Dec 14, 2017

Menanti di Senjakala

    

Pakde Didi Kempot pernah berkata, "nganti kapan tak enteni sak tekane"
Di suatu sore yang cukup tenang, ketika langit mulai mengguratkan semburat jingga keemasan yang menerpa genting sekolah, aku duduk sendiri di bangku panjang dekat taman kecil yang catnya sudah sedikit mengelupas. Semilir angin yang berembus pelan dari arah utara, membawa debur kenangan yang tiba-tiba terasa semakin mendekap. Jam pelajaran terakhir telah usai beberapa menit yang lalu, dan derap langkah kaki para siswa-siswi mulai sayup-sayup terdengar. Seperti sore-sore pada umumnya. Ada sesuatu yang amat kunantikan, atau lebih tepatnya, seseorang.

Aku memang sengaja datang lebih awal ke taman itu, duduk di sudut yang biasa menjadi tempat pertemuan antara harapan dan kenangan. Pandanganku menelisik tiap gerak yang melintas lalu lalang di sekitar. Mataku menyusuri ruang demi ruang, dari kelas sebelah utara hingga lorong kantin yang mulai remang. Di antara gemuruh tawa dan langkah yang tergesa-gesa, aku berharap melihat siluet yang sudah kutunggu, langkah kecilnya, bahunya yang sedikit condong ke kiri, dan raut wajah yang menyimpan sejuta keindahan saat senyumnya merekah.

Selayaknya adegan yang diciptakan semesta untuk menggodaku, dia muncul dari kejauhan. Kemudian waktu seakan melambat, dan cahaya senja menyoroti wajahnya yang tampak berseri. Aku melihat dia berjalan seolah seperti sedang slow-mo, sembari menyapa beberapa teman dengan anggukan kecil, namun sorot matanya seakan mencari, entah mencari siapa, atau mungkin itu hanya perasaanku saja yang berharap bahwa akulah tujuannya. Senyumnya… ah, senyum itu, nampak begitu sederhana namun menciptakan gemuruh yang tak kasatmata.

Ia berjalan menembus kerumunan siswa-siswi yang bergegas meninggalkan sekolah, melintasi lorong yang kini diselimuti bayang-bayang temaram. Aku yang memperhatikannya dari jauh, tak berani menyapa, hanya sanggup menunggu dengan ekspresi yang kikuk. Ada rasa yang belum sempat tersampaikan, sebab waktu yang tak pernah benar-benar memberi ruang untukku bisa mengungkapkan semuanya dengan jujur. Tapi sore itu, saat langit mulai menjemput mataharinya untuk pulang. Dan aku merasa seperti berada di halaman pertama dari kisah yang selama ini hanya hidup dalam lamunanku.

Saat ia melintasi area taman, pandangan kami saling menangkap satu sama lain. Walaupun itu hanya sepintas saja, tapi cukup untuk menyadarkanku bahwa mungkin─hanya mungkin─ia tahu Bahwa aku ada, bahwa aku sedang menunggunya. Dan di antara senja merah dan koridor sekolah yang sunyi lengang, ada satu rasa yang tumbuh, berharap bahwa kelak akan mekar di waktu yang tak lagi bisa kita sembunyikan.

Sore itu berakhir tanpa sempat ada percakapan, namun aku merasa dihujani kebahagiaan yang bertubi-tubi. Dan di senjakala yang tenang itu, aku tahu, jika kisah ini masih belum usai. Ia baru saja dimulai, dalam kesederhanaan, dalam tatapan, dan dalam satu senyuman yang menjanjikan harapan.

Oct 15, 2017

Sampai Pada Saat Ini

    

Orang kerap berujar bahwa senja terbaik bersemayam di Banda Neira. Bagiku tidak, senja paling indah berada di bola matamu.

Menjadi pribadi yang supel adalah satu dari sekian banyak hal yang masih menyulitkan bagi saya untuk menjalaninya, terlebih lagi karena saya bukan tipe manusia yang memiliki nilai sungkan kepada siapa pun. Ketika tidak suka terhadap sesuatu, saya pasti akan langsung menyampaikannya, vice versa. Teman-teman banyak yang sudah beberapa kali mengingatkan, agar saya belajar untuk menumbuhkan rasa pekewuh dan peka terhadap sekitar. Dalam beberapa kasus yang terjadi, saya pun menyadari bahwa omongan saya dalam menanggapi ataupun ketika menyangga perkataan orang lain terkadang tidak dibarengi dengan pemilihan diksi yang tepat, sehingga hal itu kerap kali membuat orang lain tersinggung. Maka dari itu, salah satu cara yang bisa saya lakukan agar terhindar dari menyakiti orang lain adalah, dengan lebih menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap apa saja yang menurut saya itu hal yang janggal. Barangkali karena itu pula, saya lebih banyak diam, dan akhirnya tidak tumbuh menjadi sosok yang mudah bergaul dengan banyak orang.

Saya lebih suka menulis daripada bertutur kata, saya bisa mendapatkan kenyamanan tersendiri saat isi hati bisa tersampaikan melalui perantara kalimat. Saya cukup menyadari bahwa kemampuan verbal saya memang tidak lebih baik jika dibanding dengan kemampuan bertutur melalui tulisan. Saya tidak tahu apakah hal ini lumrah dirasakan oleh kebanyakan laki-laki, karena beberapa kawan dilingkarku juga tidak begitu sering untuk bercerita satu sama lain. Mungkin karena hal itu saya jadi beranggapan bahwa; lingkungan lah yang berperan besar membentuk stigma bahwa pria tidak bercerita, sehingga menceritakan masalah dianggap menjadi satu titik lemah seorang lelaki, padahal kan harusnya tidak seperti itu.

Begitu pun dalam hal menyukai seseorang, saya lebih tertarik untuk mengungkapkan semua melalui media tulisan seperti ini. Saya gemar menuliskan satu dua kalimat pengalaman atau peristiwa yang melibatkan saya dengan seorang perempuan yang saat ini berhasil membuat saya terpikat. Biasanya saya luapkan di halaman terakhir buku tulis pelajaran Sosiologi. Tidak harus langsung menjadi satu cerita utuh, cukup potongan kecil dari apa yang sedang saya rasakan pada hari itu.

Saya mengenalnya secara tidak sengaja, bermula dari saling bertegur sapa melalui aplikasi pesan singkat, kemudian berkembang menjadi percakapan sehari-hari. Boleh dibilang hampir setiap hari kami bercengkerama, ya walaupun yang dibahas memang bukan hal-hal yang penting. Di beberapa minggu awal saling berkirim pesan, saya langsung bisa menemukan klik dengan dia, obrolan mengalir apa adanya tanpa dibuat-buat. Kami tidak punya pakem khusus dalam bertukar pesan, intensitas dialog yang kami lakukan biasanya terjadi sehabis pulang sekolah hingga malam hari, bahkan tidak jarang sampai lewat dini hari. 

Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya mudah bagi kami bila ingin berbicara langsung secara tatap muka di sekolah, tanpa harus repot-repot meminjam sinyal dan kuota. Tetapi saya sebagai pihak laki-laki, memang kelewat pengecut untuk mulai membuka pembicaraan dengan dia. Di sekolah, kami lebih sering bersinggungan hanya ketika ada tugas kelompok yang memang mengharuskan untuk diselesaikan secara bersama-sama, baru disitulah saya coba mencuri-curi kesempatan untuk membuka obrolan, ya walaupun tidak banyak juga. Alasan lain yang mungkin bisa saya berikan yaitu, karena saya tahu betul bagaimana watak dan sifat tiap individu di dalam kelas itu, dan saya hanya tidak begitu suka untuk menjadi bahan guyonan.

Berbicara mengenai kriteria dalam menentukan apakah saya menyukai seseorang ini dengan tulus, tentu ada tahapan-tahapan yang saya buat sendiri. Tapi kadang yang menjadi masalah, proses penilaian ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga sering kali, kedekatan yang coba saya jalin tidak berlanjut menjadi sebuah hubungan yang serius. Komunikasi menjadi yang paling utama bagi saya dalam menentukan apakah saya harus lanjut atau tidak, jika saya merasa ritme komunikasi tidak selaras dengan harapan, maka lebih baik saya urungkan niat untuk melanjutkan ke tahap yang berikutnya.

Sedari awal berkomunikasi dengan seorang perempuan yang saya sedang sukai ini, saya sudah bisa mendapatkan kecocokan dengan cara dia dalam meramu kata-kata. Saya suka dan nyaman untuk membicarakan apapun dengannya, meskipun itu menyangkut persoalan pribadi. Saya merasa lebih secure untuk meluapkan segala keluh kesah kepadanya. Saya hanya perlu memastikan beberapa hal lagi untuk bisa yakin dengan keputusan yang akan saya ambil, semua ini saya lakukan dengan hati-hati, utamanya untuk melindungi dia dari potensi patah hati. Saya hanya tidak ingin di kemudian hari ketika saya sudah menjalin hubungan dengannya, justru saya menjadi alasan dia sering bersedih atau terluka. Saya ingin menyukainya dengan utuh, tidak dengan terburu-buru.

Penting untuk diingat, bahwa kisah ini berdiri di atas pandangan saya sendiri—tempat di mana perasaan, harapan, dan tafsir pribadi saling berkelindan tanpa jaminan kebenaran yang mutlak. Sampai pada saat ini, saya beranggapan bahwa dari cara kami berkomunikasi, hubungan ini sudah masuk dalam tahap pendekatan. Saya belum bisa mengonfirmasi apakah hal yang sama juga dia rasakan terhadap saya. Menjadi kekhawatiran bagi saya, bahwasanya dia menganggap saya hanya sebatas teman yang menyenangkan bila diajak bicara, tidak lebih. Saya belum siap jika harus menerima kenyataan bahwa selama ini hanya saya yang asyik sendiri, bahwa semua tanda yang saya tangkap hanyalah bias dari keinginan saya yang terlalu besar. 

Kendatipun begitu, apa pun yang terjadi di depan nanti. Apakah kami akan diberi kesempatan untuk menjalin kasih, atau justru kami harus berpisah di persimpangan waktu. Saya sudah merasa bersyukur bisa mengenal dia lebih jauh, menjadi seseorang yang diizinkan untuk mendengar cerita-ceritanya.

Aug 20, 2017

Suatu Hari di Bulan Juli.

Suatu hari di bulan Juli. Bersesuaian dengan hari Senin yang dimulai dengan rintik kecil hujan yang perlahan mulai menggenapi seluruh tepian bumi, dan berbarengan dengan awal masuk sekolah selepas libur semester genap. Tapi entah mengapa, sejak langkah saya menjejak masuk ke ruang kelas sebelah kantin itu, segalanya mulai tak sama lagi.

Pandangan saya tertuju pada satu orang asing yang sedang duduk di tengah ruang kelas, dikelilingi oleh wajah-wajah lama yang sudah lebih dulu saya hafal rupa dan suaranya. Mata saya sempat tertambat sebentar pada sosok itu, tidak lama, hanya sepersekian detik, tapi terbilang mampu memantik rasa penasaran. Siapakah gerangan perempuan tersebut? Mengapa hadirnya terasa begitu kontras di tempat yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua?

Sesudah mendapat informasi dari salah satu sohabat, saya baru mengetahui ternyata dia adalah siswi pindahan dari sekolah lain. Sekilas terdengar seperti informasi sederhana yang seharusnya tak membuat debar jantung saya menjadi tak menentu. Ada sesuatu yang mengusik perasaan saya, membentuk gelombang yang tidak bisa saya tenangkan dengan logika. Selepas itu, tindak tanduk saya tampak mulai berubah, sedikit canggung di kelas sendiri, tidak lagi seleluasa seperti sebelum-sebelumnya. Saya menjalani keseharian dengan lebih banyak memperhatikan gerak-geriknya. Mulanya saya menyangka jika ini hanya rasa ketertarikan biasa saja, atau mungkin juga karena saya sedang memasuki fase-fase romansa di usia remaja.

Hingga pada suatu hari yang begitu damai, masih terpatri jelas dalam ingatan. Saat itu bertepatan dengan hari Jumat, sebuah rentetan notifikasi dari aplikasi pesan singkat Line mengusik tidur pagi saya yang begitu tenang. Usut punya usut, ternyata kegaduhan itu disebabkan karena ulah dari teman-teman yang sedang mendiskusikan sesuatu hal di grup kelas. Saya yang masih dalam keadaan setengah sadar, bangun dari kasur dan meraih ponsel yang ada di atas meja, kemudian memantau dengan seksama sebenarnya hal apa yang sedang diperbincangkan. Diantara pelbagai macam pemberitahuan pesan yang masuk, saya mendapati ada satu pesan dari seseorang yang namanya tidak asing. Ternyata perempuan itu menyapa saya terlebih dahulu, lalu dugaan pertama yang muncul di kepala bahwa hal tersebut boleh jadi dilakukan karena ingin menjembatani ruang kosong antara kami. Kegiatan lumrah yang biasa dikerjakan oleh seseorang yang baru memasuki lingkungan baru, berusaha sebisa mungkin untuk lebih akrab dengan semua penghuni tempat tersebut. Sementara saya, dalam kedunguan yang seperti biasa, kemudian bertanya, “Bisa dapat kontakku dari mana?” Lalu, dengan jeda yang hanya satu menit kemudian membalas, “Kita kan satu grup, satu kelas juga, ya dapet dari situ lah” Saat itu saya langsung merasa malu bukan main, mengapa hal sesederhana itu tidak bisa terpikirkan.

Tapi satu yang tidak bisa ditebak, diawali dari satu pesan yang mungkin terlihat biasa itu, kami mengalirkan percakapan yang lebih intens dan tanpa sekat. Mulai dari membincangkan hal-hal yang sepele, hingga saling lempar pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa ditebak jawabannya. Saking cairnya percakapan Jumat itu, sampai-sampai tak terasa hampir memasuki waktu salat Jumat. Kemudian saya pun berpamitan, dan tidak sadar mengakhiri obrolan dengan kalimat: “Nanti sehabis Jumatan aku kabari lagi.” Kalau pun ada yang yang bertanya mengapa hal tersebut saya lakukan, saya sendiri pun tidak tahu, itu terjadi begitu saja. Saya hanya merasa seperti tidak rela bahwa jalin komunikasi akan berakhir sesingkat itu. Ada perasaan yang ingin terus mengenalnya lebih jauh, seolah masih ada bagian dalam dirinya yang belum sempat saya ketahui, dan sebenarnya tidak harus juga. Serangkaian gestur yang tak lazim, yang sebelumnya tak pernah saya lakukan dalam lingkup pertemanan mana pun, membuat saya tersadar—betapa perlahan saya berubah menjadi seseorang yang pandir.

Tapi entah mengapa saya menepati perkataan sebelumnya. Saya menghubunginya kembali, tapi dia merespons dengan keheranan, “Terus kenapa laporan sama aku?” Pada momen itu yang saya lakukan hanya tertawa kecil. Sial. Lagi-lagi saya bertingkah debil. Namun ternyata ada hal menyenangkan dalam kebodohan yang tidak sengaja saya ciptakan itu, sesuatu yang membuat saya merasa serupa bocah kecil yang baru menemukan warna baru di halaman hidupnya yang semula hanya hitam-putih.

Selepas peristiwa hari itu, kami mulai membentuk kebiasaan baru. Saling menyapa, bertukar cerita, bahkan ketika tubuh kami sudah terpisah dari bangku sekolah. Dia menjelma menjadi pesan pertama yang saya baca ketika pagi, dan pesan terakhir yang saya tutup sebelum tidur. Padahal kami berada dalam satu ruang yang sama, dan sangat mudah bagi kami bila ingin mengobrol langsung tanpa harus meminjam sinyal dan kuota. Tapi entah mengapa ruang maya terasa lebih nyaman, lebih hangat, dan lebih jujur. Tanpa perlu khawatir mengganggu atau diganggu oleh siapa pun.

Rupanya ada satu hal yang luput dari perkiraan saya, bahwa segenap hal yang manis pun perlahan mulai menyimpan getirnya sendiri. Seiring waktu yang bergulir, saya mulai bertanya-tanya: apakah yang sedang kami jalani ini murni hanya sebatas hubungan pertemanan biasa? Atau ini hanya saya, yang jatuh terlalu dalam sementara dia tetap berada jauh di permukaan?

Hari berlari menjadi minggu, minggu menua menjadi bulan, dan bulan berlalu menjadi tahun—perlahan tapi pasti, waktu mengikis kedekatan yang terjalin sebelumnya, meninggalkannya sebagai jarak yang tak lagi bisa dijembatani. Entah apa yang menjadi penyebabnya, yang jelas kini komunikasi kami tak lagi seramai dahulu. Tak ada lagi kabar yang saling bersahutan, tak ada lagi pesan yang datang tanpa alasan. Akhirnya, kami hanya berbicara ketika memang ada perlunya saja. Namun yang pasti, dia tetap menjadi ramah, tetap hadir, tetap membalas pesan-pesan saya. Tetapi saya tetap bisa merasakan ada jarak yang tak kasat mata, tumbuh seperti kabut tipis di antara kami. Saya mulai gelisah setiap kali dia terlambat membalas. Saya mulai kecewa ketika ceritanya mulai melibatkan orang lain. Walaupun saya tidak pernah menyatakan apa-apa secara langsung, dan saya tidak pernah menyebut kata “suka” atau “rindu” atau “ingin bersamamu lebih lama”. Tapi semua sikap yang saya perlihatkan adalah isyarat, dan seluruh pesan yang saya kirimkan adalah petunjuk.

Puncaknya adalah, ketika saya tidak sengaja melihat dia tengah berjalan dengan orang lain. Seseorang yang juga saya kenal, perlakuan dan tatapannya ke orang itu nampak istimewa. Dari sanalah kemudian saya baru memahami, barangkali memang sedari awal saya hanya bermain sendiri dalam cerita yang kusebut “kita.” Dan saya perlahan mulai menjauh karena tak tahu lagi bagaimana harus mendekat tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Dia mungkin tidak sadar, atau mungkin sadar akan tetapi memilih untuk tak acuh, justru ketidakpedulian itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar penolakan.

Setiap kali mengenang bulan Juli, saya tidak lagi teringat tentang kali pertama dalam hidup dihukum karena telat datang ke sekolah dengan memakai sepatu putih yang jelas-jelas dilarang. Tapi yang saya ingat adalah pertemuan pertama yang tidak pernah saya ekspektasikan akan berakhir menjadi seberpengaruh ini. Tapi toh, hidup memang seperti itu. Kita tidak pernah bisa memiilh kepada siapa kita akan jatuh cinta, itu sudah ranah Tuhan, yang perlu kita siapkan hanyalah kesiapan untuk patah hati.

Dia, akan senantiasa menjadi salah satu bab terbaik yang hingga saat ini belum pernah berhasil saya akhiri dengan kalimat bahagia. Namun tidak apa-apa. Sebab pernah, di antara malam-malam panjang yang kami habiskan untuk bertukar cerita, saya benar-benar merasa bahagia sebagai manusia.