Kita mestinya setuju apabila seiring bertambahnya usia, pasti juga selaras dengan beban tanggung jawab yang kian membanyak. Sehingga, menyisihkan waktu guna berkumpul bersama kawan-kawan mulai terasa tidak lagi relevan untuk diwujudkan, dan itu bisa dimaklumi. Ketika waktu senggang yang kita punya semakin sedikit—di tengah hiruk-pikuk menjalani kehidupan sebagai orang dewasa—maka kesempatan tersebut akan lebih baik bila dipergunakan untuk istirahat. Lantas, memutuskan untuk berkumpul dan ngoceh ngalor-ngidul hingga larut malam nampaknya bukanlah pilihan yang bijak untuk dikerjakan.
Belum lagi jika kebagian jatah lembur untuk menyelesaikan tenggat tugas yang harus cepat-cepat dituntaskan, pasti energi yang tersisa di ujung minggu sudah tinggal sedikit sekali. Pada titik tertentu, leyeh-leyeh di rumah sambil memulihkan tenaga guna menghadapi pekan selanjutnya memang terasa jauh lebih masuk akal ketimbang harus kembali keluar hanya untuk duduk berlama-lama.
Akan tetapi, sesekali ketika ada ajakan nongkrong dari sobat, boleh lah dipertimbangkan untuk ikut serta, toh tidak sesering itu juga. Sebagai manusia yang otaknya sudah berkembang sempurna, kita tentunya mafhum bahwa setiap individu memiliki skala prioritas yang berbeda-beda, tapi mbok ya... masa tidak bisa menyempatkan sedikit waktu—barang beberapa jam—untuk bertukar kabar, update perihal kehidupan, atau sekadar ngobrol ndakik-ndakik di satu tempat yang sudah disepakati?
Semisal memang tempat menetap saat ini sudah berjauh-jauhan, masih bisa dimaklumi jika tidak bisa turut hadir. Tapi kalau tempat tinggal saat ini masih berada di satu kota yang sama, ditambah lokasi untuk bertemu pun sudah disesuaikan dengan jarak tempuh masing-masing, kok ya masih alpa juga.
Padahal, salah satu fungsi memiliki tongkrongan bersama lingkar kawan terpercaya—selain menjadi tempat sambat dan nesu-nesu—adalah sebagai filter kalau misalnya ada tindak tanduk atau pernyataanmu yang wagu dan berpotensi mengundang konflik jika disampaikan ke ruang publik. Di situ, akan ada orang-orang yang walau omongannya sendiri kadang ramashok, tapi bisa memberi sedikit input-input yang boleh jadi bisa menyelamatkanmu dari kemungkinan mendapat masalah.
Keunggulan lain dari kegiatan srawung, yaitu ketika kondisi diri sedang kalut karena berbagai ragam persoalan, misuh-misuh atau meluapkan keluh kesah pada saat nongkrong bisa menjadi solusi alternatif yang murah. Bahkan tidak jarang juga muncul jalan keluar atas kesulitan yang sedang dihadapi. Walaupun, memang harus diakui, porsi kementhus-nya sering kali jauh lebih besar daripada bagian seriusnya.
Di setiap periode perjumpaan, tipe obrolan yang timbul senantiasa beragam tajuknya. Hampir selalu ada pembaruan informasi yang sebelumnya tidak pernah terdengar. Ada saja satu-dua peristiwa masa lalu yang sebenarnya pernah terjadi, namun luput dari perhatian dan baru terungkap pada saat perjumpaan itu berlangsung. Rasanya seperti setiap individu saling memberi potongan informasi untuk melengkapi gambaran utuh tentang kejadian sesungguhnya. Porsi pembahasan tempo dulu sering mendapatkan bagian paling besar untuk diulas dari berbagai jenis topik obrolan yang coba dilempar di meja pertemuan.
Ketika pertemuan berlangsung, tiap orang pasti memiliki perannya sendiri-sendiri: ada yang sepanjang obrolan berusaha untuk tetap serius; beberapa memilih pasif dan lebih banyak mendengarkan; pasti ada yang hobinya nyenggak omongan dari yang lain; ada juga yang kerap jadi sasaran tuduh atas perilaku tidak terpuji; satu-dua orang kelihatan jarang berbicara, tapi sekalinya berseloroh, kata-kata yang dituturkan seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama alias ngawure Naudzubillah.
Namun, yang paling krusial justru peran orang yang senantiasa berusaha untuk memberikan iklim positif dengan terus-menerus menyapu omongan tidak pantas dari individu-individu yang cangkeme bosok—dan mungkin ini lah peran yang konsisten saya ambil dalam berbagai kesempatan. Saya cukup aktif untuk mengimbangi agar arah diskusi masih di tahap aman dan tidak terlalu serampangan. Sesekali, saya juga mengingatkan ketika ada diksi-diksi kurang pantas terlontar, utamanya ketika lokasi kumpul berada di area umum.
Dalam sebuah perkumpulan, pasti ada tipe-tipe teman yang kebiasaannya suka ngentah-i omongan dari kawan yang sedang menginisiasi giat temu. Dan hampir bisa dipastikan jika orang-orang tersebut sudah dipersatukan dalam sebuah pertemuan, kalimat-kalimat yang dilontarkan tidak jauh dari perkara-perkara saru, vulgar, dan sensitif.
Jenis-jenis percakapan semacam itu yang wajib dan harus berhenti cukup di tongkrongan saja. Sebab ketika berlanjut atau diteruskan hingga ranah media sosial, potensi untuk kena hujat, cancel, atau paido mesti semakin besar.
Terlepas dari itu semua, jika ada satu hal yang dirasa paling menantang dari seluruh tahapan menuju sebuah perjumpaan, barangkali proses memantik rundingan di grup WhatsApp menjadi jawabannya. Mengingat saat ini grup hanya aktif ketika ada kabar lelayu atau undangan pernikahan. Seorang inisiator harus punya hati yang lebih lapang, karena potensi untuk tidak dihiraukan lebih besar daripada mendapat sambutan hangat. Sebab sekarang-sekarang ini, tanggapan dalam bentuk stiker/react emoji lebih digemari dari pada respons dalam bentuk teks/kalimat.
Belum lagi ketika harus berurusan dengan satu-dua orang yang di awal katanya mau support saat ada yang mulai membuka keran diskusi, tapi kenyataannya malah ngrecohi dengan kalimat-kalimat yang acap kali membuat mental sedikit goyah. Ke-alpa-an mayoritas anggota yang kurang responsif terhadap rencana yang ditawarkan juga menjadi alasan utama mengapa agenda bertemu kadang batal terlaksana.
Cukup bisa dipahami jika makin ke sini sudah tidak ada lagi yang bersedia diberi mandat untuk menjadi inisiator. Sekarang, lebih seringnya malah nge-reach satu per satu melalui personal chat kepada orang-orang yang dianggap luwes, terlihat longgar, dan kemungkinan besar selalu mengiyakan bila diajak. Maka dari itu, angkat topi buat orang-orang yang masih terus mau meluangkan waktu untuk mengatur jadwal temu dari berbagai kesibukan teman-teman yang lain, tetap optimis untuk menjaga tali silaturahmi agar tidak terputus.
Kendatipun sekarang-sekarang dilanda pelbagai kesibukan, namun ketika ada ajakan kumpul dan kebetulan berhalangan untuk hadir, sedapat mungkin menawarkan opsi tanggal pengganti untuk bisa dipertimbangkan. Sebab pada dasarnya saya memiliki prinsip, “friendship number one, finansial isoh dipikir karo mlaku.” Oleh karena itu, selalu berusaha untuk menyenggangkan meskipun barang sebentar.
No comments:
Post a Comment