![]() |
| Aku senantiasa berterimakasih kepada hippocampus-ku, karena sudah bekerja keras menjaga ingatan tentangmu untuk tetap hidup di kepalaku. |
Dua malam terakhir, aku dibuat terus memikirkan satu peristiwa ganjil yang baru pertama kali kurasakan selama dua puluh enam tahun hidup sebagai manusia. Pengalaman aneh yang sampai sekarang masih tergambar jelas, nyaris tanpa ada detail yang terlewat sedikit pun.
Aku bermimpi tentang dia. Lagi. Namun, yang kali ini cukup berbeda. (sebut saja namanya Nindi)
Selama ini, kita mengenal mimpi sebagai ruang paling absurd yang terputar di dalam kepala manusia ketika tidur—tempat bagi semua hal yang tidak masuk akal kerap terjadi. Kadang bisa sangat menakutkan, di waktu yang lain bisa membingungkan, sering kali pula begitu acak, sehingga sesaat setelah terbangun, kita lupa bagaimana alur ceritanya tadi. Akan tetapi, mimpi yang kualami ini justru terasa terlalu nyata, seperti aktivitas yang sehari-hari terjadi di dunia nyata.
Ceritanya bermula pada malam kemarin lusa.
mimpi pada malam itu dimulai dengan adegan, aku pergi ke rumah Nindi untuk mengajaknya keluar jalan-jalan ke salah satu pusat pusat perbelanjaan. Kami menghabiskan waktu bersama seperti selayaknya pasangan manusia normal pada umumnya: berjalan tanpa tujuan jelas, keluar-masuk toko, menonton film horor yang sedang tanyang, saling melempar candaan receh disela-sela makan siang di KFC, lalu tertawa pada hal-hal yang mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain. Waktu terasa bergerak terlalu cepat hingga tanpa sadar matahari sudah mau tenggelam.
Ketika akhirnya kami memutuskan mengakhiri keseruan pada hari itu, tiba-tiba terlintas keinginan di kepalaku untuk mengajak Nindi mampir sebentar ke rumah.
Sesampainya kami di rumah, aku memintanya untuk menunggu sebentar di teras, sembari kuhampiri Ibu yang kebetulan saat itu sedang memasak di dapur. Aku memanggil beliau, lalu memperkenalkan Nindi dengan Ibu. Anehnya, suasana di dalam mimpi itu terasa hangat sekali. Ibu menyambutnya dengan wajah yang berbinar bahagia, lalu kami bertiga mengobrol santai di kursi depan teras. Tidak ada yang janggal pada urutan kejadian waktu itu.
Setelah dirasa puas berbincang-bincang, aku pun berpamitan kepada Ibu untuk mengantar Nindi pulang. Di sepanjang perjalanan, aku dan Nindi kembali mengulas obrolan dengan Ibu beberapa saat yang lalu. Dia mengatakan jika Ibu ternyata orangnya lebih talkative dibanding diriku yang cenderung lebih pendiam. Untuk orang yang baru pertama kali bertemu dan berkenalan, Nindi merasa nyaman mengobrol dengan Ibu, tidak ada rasa canggung dan kekakuan, katanya. Mendengar hal itu, aku hanya mengiyakan dan tidak mencoba mendebat.
Setelah sekitar setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah Nindi. Sebelum berpisah, aku berkata bahwa esok hari akan kembali menjemputnya untuk berburu ramen di tempat favorit kami.
Lalu cerita mimpi di malam pertama selesai begitu saja.
Aku terbangun pukul tiga pagi. Lalu selebihnya, hari itu berjalan selayaknya hari-hari sebelumnya. Aku beraktivitas seperti biasa, bercanda dengan teman, menjalani rutinitas seperti tidak terjadi apa-apa. Mimpi di malam itu sempat tidak kuhiraukan.
Sampai akhirnya malam berikutnya datang. Aku bermimpi tentang Nindi lagi.
Dan di sinilah terjadinya keanehan yang kumaksudkan diawal tulisan.
Mimpi di malam kedua ternyata bukan cerita baru. Ia justru melanjutkan bagian yang terputus dari malam sebelumnya. Seumur hidup, baru kali ini aku mengalami mimpi yang ceritanya bersambung—dua malam berbeda, namun masih berada dalam satu alur yang sama.
Mimpi di malam kedua dimulai. Ceritanya diawali dengan adegan ketika aku baru sampai rumah selepas mengantar Nindi pulang. Aku buru-buru menghampiri Ibu dan menanyakan first impression-nya mengenai perempuan yang baru saja kukenalkan tadi. Respons beliau tampak begitu membahagiakan, cukup untuk membuat hatiku lega. Ibu juga menambahkan pujian berupa kalimat, “Kamu pintar juga mencari pasangan.” Aku kembali berbunga-bunga mendengar hal itu.
Setelah obrolan singkat itu, aku berjalan memasuki kamar dan tertidur.
Lalu tibalah hari esok. (Ini masih cerita di dalam mimpi, ya)
Aku ketiduran seperti orang yang sedang pingsan. Belasan panggilan tak terjawab dari Nindi memenuhi hampir seluruh layar ponselku. Karena kesal menunggu terlalu lama, akhirnya Nindi memutuskan datang langsung ke rumah untuk mengonfrontasiku sebab sudah tega membiarkannya menunggu berjam-jam tanpa kepastian.
Sesampainya di rumah, dia bertemu Ibu dan mempertanyakan keberadaanku. Nindi mengadu perihal aku yang sudah berjanji akan menjemput, tetapi sampai berjam-jam kemudian masih belum datang juga. Ibu yang tidak tahu-menahu akan persoalan itu hanya menyampaikan kepada Nindi bahwa aku masih tidur di kamar, dan kemudian mempersilahkan Nindi untuk membangunkanku.
Nindi berjalan menuju kamar.
Mendekat perlahan.
Lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku.
Dan kemudian aku langsung terbangun.
Namun, bukan karena Nindi.
Melainkan karena suara Ibu di dunia nyata.
Akhirnya rangkaian mimpi itu berakhir sudah. Aku terbangun dan mendapati bahwa matahari sudah terbit.
Pagi itu, Aku duduk cukup lama di tepian tempat tidur. Masih setengah sadar, sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang baru saja terjadi. Aku merasa mimpi yang kualami barusan begitu janggal.
Sampai hari ini, aku masih mencari-cari makna di balik semua itu. Kenapa sebuah mimpi bisa bersambung di dua malam yang berbeda? Apakah orang lain pernah mengalaminya juga, selain aku? Atau sebenarnya itu hanya bentuk lain dari perasaan rinduku semata?
Karena penasaran, aku sempat membaca beberapa tulisan di internet mengenai mimpi. Ada yang mengatakan jikalau mimpi yang tidak bisa kita ingat detail peristiwanya, berarti itu dikategorikan sebagai bunga tidur. Namun bila mimpi yang dialami masih bisa diingat dengan jelas bahkan hingga dihari-hari berikutnya, sering kali hal tersebut dianggap sebagai sebuah firasat.
Entah benar atau tidak, aku sendiri belum menemukan penjelasan ilmiah yang benar-benar mampu menjawab pengalaman itu secara saintifik. Yang jelas, aku memang cukup sering bermimpi tentang Nindi. Akan tetapi, yang satu ini terlalu mendetail, jelas, dan runut.
Hingga akhirnya aku berkesimpulan sendiri: mungkin Tuhan sedang ingin menghibur hatiku yang sedang rindu, mempertemukanku dengan Nindi melalui perantara mimpi, sesuatu yang agaknya sulit terwujud di dunia nyata.

No comments:
Post a Comment