![]() |
| Orang kerap berujar bahwa senja terbaik bersemayam di Banda Neira. Bagiku tidak, senja paling indah berada di bola matamu. |
Menjadi pribadi yang supel adalah satu dari sekian banyak hal yang masih menyulitkan bagi saya untuk menjalaninya, terlebih lagi karena saya bukan tipe manusia yang memiliki nilai sungkan kepada siapa pun. Ketika tidak suka terhadap sesuatu, saya pasti akan langsung menyampaikannya, vice versa. Teman-teman banyak yang sudah beberapa kali mengingatkan, agar saya belajar untuk menumbuhkan rasa pekewuh dan peka terhadap sekitar. Dalam beberapa kasus yang terjadi, saya pun menyadari bahwa omongan saya dalam menanggapi ataupun ketika menyangga perkataan orang lain terkadang tidak dibarengi dengan pemilihan diksi yang tepat, sehingga hal itu kerap kali membuat orang lain tersinggung. Maka dari itu, salah satu cara yang bisa saya lakukan agar terhindar dari menyakiti orang lain adalah, dengan lebih menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap apa saja yang menurut saya itu hal yang janggal. Barangkali karena itu pula, saya lebih banyak diam, dan akhirnya tidak tumbuh menjadi sosok yang mudah bergaul dengan banyak orang.
Saya lebih suka menulis daripada bertutur kata, saya bisa mendapatkan kenyamanan tersendiri saat isi hati bisa tersampaikan melalui perantara kalimat. Saya cukup menyadari bahwa kemampuan verbal saya memang tidak lebih baik jika dibanding dengan kemampuan bertutur melalui tulisan. Saya tidak tahu apakah hal ini lumrah dirasakan oleh kebanyakan laki-laki, karena beberapa kawan dilingkarku juga tidak begitu sering untuk bercerita satu sama lain. Mungkin karena hal itu saya jadi beranggapan bahwa; lingkungan lah yang berperan besar membentuk stigma bahwa pria tidak bercerita, sehingga menceritakan masalah dianggap menjadi satu titik lemah seorang lelaki, padahal kan harusnya tidak seperti itu.
Begitu pun dalam hal menyukai seseorang, saya lebih tertarik untuk mengungkapkan semua melalui media tulisan seperti ini. Saya gemar menuliskan satu dua kalimat pengalaman atau peristiwa yang melibatkan saya dengan seorang perempuan yang saat ini berhasil membuat saya terpikat. Biasanya saya luapkan di halaman terakhir buku tulis pelajaran Sosiologi. Tidak harus langsung menjadi satu cerita utuh, cukup potongan kecil dari apa yang sedang saya rasakan pada hari itu.
Saya mengenalnya secara tidak sengaja, bermula dari saling bertegur sapa melalui aplikasi pesan singkat, kemudian berkembang menjadi percakapan sehari-hari. Boleh dibilang hampir setiap hari kami bercengkerama, ya walaupun yang dibahas memang bukan hal-hal yang penting. Di beberapa minggu awal saling berkirim pesan, saya langsung bisa menemukan klik dengan dia, obrolan mengalir apa adanya tanpa dibuat-buat. Kami tidak punya pakem khusus dalam bertukar pesan, intensitas dialog yang kami lakukan biasanya terjadi sehabis pulang sekolah hingga malam hari, bahkan tidak jarang sampai lewat dini hari.
Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya mudah bagi kami bila ingin berbicara langsung secara tatap muka di sekolah, tanpa harus repot-repot meminjam sinyal dan kuota. Tetapi saya sebagai pihak laki-laki, memang kelewat pengecut untuk mulai membuka pembicaraan dengan dia. Di sekolah, kami lebih sering bersinggungan hanya ketika ada tugas kelompok yang memang mengharuskan untuk diselesaikan secara bersama-sama, baru disitulah saya coba mencuri-curi kesempatan untuk membuka obrolan, ya walaupun tidak banyak juga. Alasan lain yang mungkin bisa saya berikan yaitu, karena saya tahu betul bagaimana watak dan sifat tiap individu di dalam kelas itu, dan saya hanya tidak begitu suka untuk menjadi bahan guyonan.
Berbicara mengenai kriteria dalam menentukan apakah saya menyukai seseorang ini dengan tulus, tentu ada tahapan-tahapan yang saya buat sendiri. Tapi kadang yang menjadi masalah, proses penilaian ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga sering kali, kedekatan yang coba saya jalin tidak berlanjut menjadi sebuah hubungan yang serius. Komunikasi menjadi yang paling utama bagi saya dalam menentukan apakah saya harus lanjut atau tidak, jika saya merasa ritme komunikasi tidak selaras dengan harapan, maka lebih baik saya urungkan niat untuk melanjutkan ke tahap yang berikutnya.
Sedari awal berkomunikasi dengan seorang perempuan yang saya sedang sukai ini, saya sudah bisa mendapatkan kecocokan dengan cara dia dalam meramu kata-kata. Saya suka dan nyaman untuk membicarakan apapun dengannya, meskipun itu menyangkut persoalan pribadi. Saya merasa lebih secure untuk meluapkan segala keluh kesah kepadanya. Saya hanya perlu memastikan beberapa hal lagi untuk bisa yakin dengan keputusan yang akan saya ambil, semua ini saya lakukan dengan hati-hati, utamanya untuk melindungi dia dari potensi patah hati. Saya hanya tidak ingin di kemudian hari ketika saya sudah menjalin hubungan dengannya, justru saya menjadi alasan dia sering bersedih atau terluka. Saya ingin menyukainya dengan utuh, tidak dengan terburu-buru.
Penting untuk diingat, bahwa kisah ini berdiri di atas pandangan saya sendiri—tempat di mana perasaan, harapan, dan tafsir pribadi saling berkelindan tanpa jaminan kebenaran yang mutlak. Sampai pada saat ini, saya beranggapan bahwa dari cara kami berkomunikasi, hubungan ini sudah masuk dalam tahap pendekatan. Saya belum bisa mengonfirmasi apakah hal yang sama juga dia rasakan terhadap saya. Menjadi kekhawatiran bagi saya, bahwasanya dia menganggap saya hanya sebatas teman yang menyenangkan bila diajak bicara, tidak lebih. Saya belum siap jika harus menerima kenyataan bahwa selama ini hanya saya yang asyik sendiri, bahwa semua tanda yang saya tangkap hanyalah bias dari keinginan saya yang terlalu besar.
Kendatipun begitu, apa pun yang terjadi di depan nanti. Apakah kami akan diberi kesempatan untuk menjalin kasih, atau justru kami harus berpisah di persimpangan waktu. Saya sudah merasa bersyukur bisa mengenal dia lebih jauh, menjadi seseorang yang diizinkan untuk mendengar cerita-ceritanya.
